Path: TopMembermudjiono@cyberlib.itb.ac.id

SAKA PADA BANGUNAN PENDOPO DI JAWA DART KERATON-VERNAKULAR (Studi komparasi estetik antara Yogyakarta dan Cirebon)

Master Theses from #PUBLISHER# / 2005-05-12 10:27:46
Oleh : Agus Dody Purnomo, S2 - Art
Dibuat : 2004-00-00, dengan 1 file

Keyword : The Javanese traditional architecture which is the strength of the structure and represent simbolic proud as well.
Nomor Panggil (DDC) : T.747.3 PUR
Sumber pengambilan dokumen : 20041857

Penelitian ini bertujuan mengetahui lebih lanjut mengenai peran dan kedudukan saka pada bangunan pendopo di Jawa dan juga mengkaji dari aspek estetisnya yang meliputi tataletak, bahan, bentuk, dan ragam hiasnya. Dimana saka merupakan salah satu komponen penting dalam arsitektur tradisional yang mempunyai makna struktural dan makna simbolik. Secara struktural saka berfungsi sebagai penumpu atap bangunan dan secara simbolik saka sebagai personifikasi penumpu kepala manusia. Selain itu penelitian ini juga mendeskripsikan perubahan atau pergeseran nilai estetisnya. Menurut Koentjaraningrat, wilayah Jawa dapat dibagi berdasarkan etnografis dalam beberapa sub daerah antara lain: Negarigung, Banyurnas, Bagelen, Pesisir Kilen, Pesisir Wetan, Mancanegari, dan Tanah Sabrang Wetan. Daerah Yogyakarta merupakan sub daerah Negarigung, sedangkan Cirebon adalah sub daerah Pesisir Kilen. Kedua daerah tersebut secara geografis berbeda sehingga mempengaruhi karakter budayanya. Namun keduanya juga memiliki hubungan secara historis tentu hal ini akan turut berperan dalam perkembangan budaya berikutnya. Yogyakarta dan Cirebon mempunyai kesamaan dan perbedaan karakter budayanya termasuk saka pada bangunan pendoponya.Penelitian dilakukan melalui studi komparasi antara saka yang berkembang di Yogyakarta dengan di Cirebon. Sedangkan masing-masing daerah juga dilakukan studi komparasi secara vertikal yakni antara saka pendopa di keraton, dengan saka pendopo kabupaten sebagai bangunan formal dan terakhir dengan saka pendopo milik masyarakat (vernakular). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pandangan kosmologi masyarakat Jawa ikut mempengaruhi dalam pembentukan estetis saka yang meliputi tatanan, bentuk, bahan maupun ragam hiasnya. Faktor lainnya yang juga turut berperan dalam perwujudan saka yakni mentalitas masyarakatnya yang berbeda antara daerah pedalaman dan daerah pesisir, serta latar belakang perkembangan kotanya seperti Yogyakarta sebagai daerah pedalaman yang terbatas dalam menjalin kontak dengan dunia luar sehingga perkembangan budaya lebih berorientasi ke keraton. Sementara Cirebon yang lebih terbuka karena sebagai pusat perdagangan sekaligus jalur pelayaran internasional menyebabkan terjadinya interaksi dan komunikasi dengan beragam budaya

Deskripsi Alternatif :

This main aim of this research is to know further the role and the position of the saka in the pendopo building in Java, and also to learn the estetical aspect covering placement, material, posture and decorative role of saka. Saka is very important part in the Javanese traditional architecture which is the strength of the structure and represent simbolic proud as well. The roof of the pendopo building is supported by saka, and the saka itself show how to hold the head of human being simbolically. According to Koentjaraningrat, Java area etnographically can be divided into subarea, for example: Negarigung, Banyumas, Bagelen, Pesisir Kilen, Pesisir Wetan, Mancanegari, and Tanah Sabrang Wetan. Yogyakarta area belong to Negarigung area, whereas Cirebon area belong to Pesisir Kilen. These two area geographically separated reasonable distance affecting differences, however historically there remain some ties which also influence the culture as well. Yogyakarta and Cirebon both have similarities and differences in their culture also in the case of saka in each of the pendopo building. This research mainly is comparative study about the saka utilized form time to time in Yogyakarta and Cirebon, not only saka utilized in the palace but also saka utilized in formal and regional building.The result show that cosmological view of Javanese society had very significant influence in the estetical built of saka, covering placement, material, posture and decorative role of saka. Another factor influencing saka is geographical difference between Yogyakarta and Cirebon and as conquence affecting differences in the cultural development. Yogyakarta lies on the southcoast which has no access to outside world. Therefore the cultural growth is focused mainly to Sultan palace culture (keraton culture). On the other hand Cirebon lies on the northcoast which comercially and internationally very accessible. Therefore quite number and various outside cultures were adapted and blended to local culture

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiS
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Pembimbing : 1. Yuswandi , 2 Sahyawidihardjo, Scan : Mudjiono, Editor: mudjiono@#publisher#

Download...