Path: TopS2-ThesesMBA-Technology2002

KAJIAN TENTANG DAMPAK PROGRAM REKAPITALISASI MELALUI INSTRUMENT OBLIGASI TERHADAP KINERJA PERBANKAN NASIONAL

Master Theses from #PUBLISHER# / 2004-11-20 05:21:45
Oleh : Towil Heryoto, S2 - MBA-Technology
Dibuat : 2002-06-00, dengan 1 file

Keyword : National banks performance, banks recapitalization program
Nomor Panggil (DDC) : T 658.152 42 HER
Sumber pengambilan dokumen : Thesis Magister Manajemen Bisnis dan Administrasi Teknologi. Bidang Khusus Keuangan dan Perbankan (20022528; 20023670)

Sejak diluncurkan kebijakan Pakto 88 sampai akhir tahun 1997 perbankan Indonesia mencatat pertumbuhan yang cukup signifikan baik dilihat dari sisi aktiva, kredit, modal serta sumber dana (deposito dll.). Krisis ekonomi yang terjadi sejak 1997 berdampak cukup mendalam terhadap kinerja perbankan nasional. Berawal dari kesulitan likuiditas yang serius sebagai akibat merosotnya kepercayaan masyarakat, terjadinya kenaikan suku bunga dalam negeri sebagai implikasi dari kebijakan otoritas moneter untuk meredam gejolak nilai tukar rupiah serta terpuruknya sektor usaha pada umumnya, memunculkan fenomena baru yaitu membengkaknya jumlah kredit bermasalah dan terjadinya negative spread. Kerugian dalam skala besar yang dialami, menyebabkan modal dan CAR bank-bank menjadi negatif. Kinerja perbankan nasional mengalami kemerosotan dari berbagai aspeknya sehingga mengganggu fungsi intermediasinya. Perbankan nasional bukan hanya dihadapkan pada satu dimensi permasalahan berupa masalah likuiditas, tetapi berlanjut kepada dua masalah kembar yang mendasar yaitu masalah likuiditas dan solvabilitas. Untuk mempertahankan kelangsungan usaha perbankan nasional, pemerintah mengambil serangkaian kebijakan restrukturisasi yang komprehensif, salah satu diantaranya melakukan rekapitalisasi bank-bank yang dianggap masih layak dan menutup bank-bank yang tidak mempunyai prospek lagi. Melalui proses seleksi yang ketat, pemerintah pada akhirnya memutuskan untuk merekap seluruh bank pemerintah, 20 bank umum swasta nasional dan 12 bank pembangunan daerah selama tahun 1999 dan 2000 me lalui penerbitan obligasi hingga mencapai jumlah Rp. 430 triliun. Program rekapitalisasi perbankan dengan dana yang demikian besar sering memun culkan pertanyaan, seberapa jauh dampaknya terhadap perbaikan kinerja bank-bank dan khususnya terhadap fungsi utamanya sebagai lembaga intermediasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa program rekapitalisasi telah berhasil memperfiaild kinerja perbankan pada umumnya seperti tercermin pada berbagai indikator berupa menunrnnya kredit bermasalah, hapusnya negative spread, membaiknya tingkat profitabilitas serta positifnya kembali modal dan CAR bank-bank. Namun membaiknya kinerja perbankan tersebut belum diikuti dengan pulihnya fungsi intermediasi secara optimal, karena merekap bank dalam kondisi krisis yang sistemik adalah satu proses jangka menengah yang kompleks yang memerlukan keterlibatan pemerintah secara tenrs menerus dan manajemen yang berhati-hati baik pada tingkat strategis maupun pada tingkat bank-bank secara individual.

Deskripsi Alternatif :

Since the launching of the October 1988 package (Pakto 88) until the end of 1997, Indonesian banking sector posted a remarkable growth as shown in their assets, loans, capital as well as funds sources (deposits etc.). The economic crisis which took place since 1997 has had a deep implications, particularly on the performance of national banks. Preceded by the serious liquidity problems resulted from the loss of public confidence, the sharp increase in the domestic interest rates as a result of the monetary authority policies to cope with the foreign exchange volatility, and then followed by the collapse of the business sector in general, creating a new phenomena in the banking sector, being the balooning of bad debt problems and the appearance of negative spread. The large scale of losses have resulted both negative capital and banks CAR. The national banking performance experienced deterioration in its various aspects which in turns disturbing their intermediation function. The national banks faced not only the liquidity problems but simultaneously had to face a twin problem, liquidity and solvency. Therefore to maintain the existance of national banks, the government adopted a series of comprehensive restructuring plan, one of them being the recapitalization program of banks which were deemed to be viable and closing down some banks which have no more prospects. Using a tight selection process, the government finally decided to recapitalize all state owned banks, 20 private national banks and 12 regional development banks which took place during 1999 and 2000 through the bonds issuing to the extent of Rp.430 trillion. The recapitalization program absorbing such large amount of public funds is often creating questions, particularly in regard to the extent of its affect to improving banking performance and particularly to restore its main function as an institution for financial sector intermediation. An examination shows that the reacapitalization program has succeded in improving banking performance generally as can be shown in several indicators among others the decrease in non-performing loans, the disappearance of negative spread, the profitability improvement as well as the return of banks capital and CAR into positive amount. But on the other hand, the performance improvement has not been followed by the optimal recovery of its intermediation function, since recapitalizing banks in a systemic crisis is a complex medium-term process that requires a continued government intervention and careful management at both the strategic and individual bank levels.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiS
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Pembimbing: Senator Nur Bahagia; Scan: Agus, Editor: agus@#publisher#

File PDF...