Path: TopS2-ThesesMBA-Technology2001

Analysis of Accounts Receivable Management in PT. HS

Analysis of Accounts Receivable Management in PT. HS

Master Theses from JBPTITBPP / 2001-10-02 10:30:00
Oleh : Ray Manov Karmen, S2-Business Administration - Technology based (manov@bdg.centrin.net.id)
Dibuat : 2001-04-30, dengan 1 file

Keyword : piutang dagang, piutang usaha, perputaran piutang usaha,penentuan umur piutang, rata-rata pengumpulan piutang, biaya piutang tak tertagih, investasi dalam piutang dagang, manajemen piutang dagang, potongan kas

Dalam upaya mendorong volume penjualannya, suatu perusahaan sering melakukan
penjualan secara kredit, di samping kebijakan tunai atau cash. Sebagai
akibat penjualan dengan kredit, tingkat risiko untuk tidak dibayarnya
piutang menjadi besar dibanding kalau menjual secara tunai. Di samping itu,
karena penjualan secara kredit ini melibatkan pihak debitur yang berada di
luar perusahaan, maka pihak perusahaan perlu berhati-hati dan masalah
piutang ini perlu mendapat analisis yang cukup mendalam.
Hal yang sama terjadi pula pada PT. HS, suatu perusahaan manufaktur yang
juga memasarkan sendiri produk-produk sandalnya ke pasaran. Sebagai
perusahaan kecil, PT. HS belum memiliki karyawan yang kompeten untuk
melakukan manajemen pada piutang dagangnya. Manajemen PT. HS yang ada
sekarang juga belum mengetahui kebijakan-kebijakan apa saja yang dapat
diambilnya sehubungan dengan manajemen piutang dagang yang efektif dan
efisien.
Analisis kondisi saat ini dari PT. HS dengan membandingkan angka
average collection period, perputaran piutang usaha, dan teknik penentuan
umur piutang dagang (aging schedule) dengan syarat kredit yang dikeluarkan
PT. HS dan dengan rasio rata-rata dari industri menunjukkan kebijakan
piutang dagang atau penerapan kebijakan piutang dagang PT. HS yang terlalu
longgar. Saat ini PT. HS memiliki average collection period 90 hari
(rata-rata ACP industri 67 hari), perputaran piutang dagang 4,4 kali
(rata-rata industri 5,4 kali), dan berdasarkan aging shedule pada akhir
bulan Juni, September, dan Desember 2000, secara rata-rata 63% dari total
pelanggannya membayar terlambat.
Untuk mengatasi masalah ini, penulis menyarankan PT. HS untuk memperketat
kebijakan piutangnya. Caranya adalah dengan pemberian potongan kas (cash
discount) bagi pelanggan yang membayar dalam jangka waktu sampai 10 hari
setelah tanggal terjadinya penjualan. Usulan kebijakan pemberian potongan
kas tersebut dapat dievaluasi dengan memperhatikan variabel-variabel kunci
(1) volume penjualan, (2) investasi dalam piutang dagang, (3) biaya piutang
tak tertagih, dan (4) biaya potongan kas. Secara kuantitatif, usulan
kebijakan pemberian potongan kas ini kemudian dievaluasi dengan
membandingkan peningkatan profit (akibat penambahan penjualan dan
berkurangnya investasi dalam piutang dagang, dan berkurangnya biaya piutang
tak tertagih) dengan biaya potongan kas. Ternyata peningkatan profit ini
melebihi peningkatan biaya (net profit Rp. 10.901.515), sehingga kebijakan
potongan kas dapat dijalankan. Dengan kebijakan potongan kas ini juga dapat
diperkirakan ACP PT. HS turun menjadi 60 hari dan perputaran piutang dagang
lebih cepat menjadi 6 kali.

Deskripsi Alternatif :

In its effort to boost its sales, a firm often sells its products on credit,
instead of cash sales. As a consequence of the credit sales, the risk of
acquiring a bad debt increases if compared with cash sales. Moreover, since
credit sales involve debitors from outside the firm, then the firm should be
aware and should analyse its receivables’ problems.
The same thing happens to PT. HS (corporation), a manufacture
company that markets its own products. As a small business, PT. HS lacks the
appropriate personnel to manage its receivables. At present, the management
has not known what policies should be taken to make an efficient and
effective accounts receivables management.
The analysis of current condition by comparing average
collection period ratio, account receivables turn over, and using an aging
schedule technique to PT. HS’ credit term and industry ratio shows that PT.
HS receivables’ policy is too lax. At the moment, PT. HS has an average
collection period of 90 days (industry average 67 days), an accounts
receivable turnover of 4,4 times (industry average 5,4 times) and based on
the aging schedule in the end of June, September, and December 2000, on the
average 63% of its total customers paid late.
To solve this problem, the writer suggests that PT. HS tighten
its receivables policy. PT. HS can give a cash discount to customers that
pay by day 10 after the invoice date. This policy of giving cash discount
can be evaluated by considered the key variables (1) sales volume (2)the
investment in accounts receivable, (3) bad debt expenses, and (4) cash
discount expenses. Quantitatively, a proposed increase (or initiation) of a
cash discount is evaluated by comparing the profit increases attributable to
the added sales, the reduction in accounts receivable investment, and the
reduction in bad debts to the cost of the cash discount. Since the profit
increases exceed the cost (net profit Rp. 10.901.515), the discount
increases should be undertaken. With this policy, it can also be predicted
that PT. HS’ average collection period will reduce to 60 days and the
accounts receivable turn over will go faster to 6 times.


Key Words: accounts receivable, account receivable, receivables, average
collection period, aging schedule, bad debt expense, investment in accounts
receivable, accounts receivable management, cash discount, accounts
receivable turnover, monitoring account receivable, accounts receivable
policy, credit term

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiS
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Editor:

File PDF...