Path: TopS2-ThesesDesign2001

DESAIN BUSANA PESTA WANITA ETNIS TIONGHOA: Studi Kasus di Bandung

Master Theses from JBPTITBPP / 2012-06-28 15:00:24
Oleh : LUCKY LUTVIA (NIM 27199015), S2 - Design
Dibuat : 2001, dengan 11 file

Keyword : Indonesian Chinese woman, fashion, design aspects

Keberadaan masyarakat etnis Tionghoa di Bandung telah melalui sejarah yang panjang, dimana dari sisi budaya masyarakatnya mengalami perpaduan yang unik antara budaya leluhurnya dengan budaya setempat. Namun demikian proses asimilasi berjalan dengan baik. Salah satu percampuran antara kebudayaan etnik Cina sebagai faktor yang melatar belakangi cara berfikir dan cara mereka menjalankan hidup, dengan pengadaptasian budaya setempat, menghasilkan sebuah kecenderungan yang sangat spesifik dalam persoalan selera atau cita rasa. Menyebut salah satunya adalah dalam hal selera wanita etnis Tionghoa memilih busana, seolah-olah mempunyai kecenderungan yang sama, yaitu menyenangi busana yang mempunyai unsur kilau, baik dari segi bahan maupun unsur hiasnya. Kecenderungan ini terutama sekali terlihat pada busana pesta. Berdasarkan hasil tinjauan di lapangan, orientasi berbusana wanita etnis Tionghoa mengacu kepada busana dari Barat. Ketika menghadiri pesta perkawinan, busana dengan model gaun terusan (one piece) dengan panjang menyentuh lantai (floor length), banyak di pilih. Potongan gaun dengan garis leher strapless, kamisol atau halter yang memperlihatkan bahu, pundak dan bagian punggung merupakan busana yang banyak ditemui dikenakan oleh wanita etnis Tionghoa. Efek kilau hampir selalu menghiasi busana pesta mereka, baik dari bahan seperti satin, lame, sutra maupun organdi ataupun dari teknik ornamennya yang berfungsi sebagai penghias busana. Teknik oranamen yang diterapkan adalah aplikasi jahit atau menempelkan elemen-elemen hias seperti payet, mute dan batu-batuan. Berdasarkan data yang ditemui dan analisis yang dikaji dari aspek-aspek desain, dengan metode penelitian kualitatif, akhirnya muncul kesimpulan bahwa, wanita etnis Tionghoa memilih busana bergaya Barat. Hal ini sebagai sebuah implikasi dari kehidupan yang modem. Barat dianggap sebagai negara yang maju dan berkuasa dan Barat dianggap sebagai lambang dari kemodeman dan merupakan cerminan dari gaya hidup yang metropolis. Pilihan mereka terhadap model busana yang banyak memperlihatkan bagian lengan, bahu, pundak dan punggung merupakan faktor fisikologis pada kebanyakan wanita etnis Tionghoa, dimana mereka menyadari bahwa mereka mempunyai kulit yang putih, terang dan bersih sehingga kepercayaan diri mereka tinggi untuk mengenakan busana dengan model tersebut. Disamping itu pula faktor religi yang dianut (Budha, Kristen dan Katolik) yang tidak begitu ketat dalam masalah berbusana. Pilihan busana dengan unsur kilap yang banyak menghiasi busana, secara sadar ataupun tidak, merupakan indikasi dari keinginan untuk memperlihatkan kemewahan, kemakmuran dan keberhasilan pemakainya.

Deskripsi Alternatif :

Keberadaan masyarakat etnis Tionghoa di Bandung telah melalui sejarah yang panjang, dimana dari sisi budaya masyarakatnya mengalami perpaduan yang unik antara budaya leluhurnya dengan budaya setempat. Namun demikian proses asimilasi berjalan dengan baik. Salah satu percampuran antara kebudayaan etnik Cina sebagai faktor yang melatar belakangi cara berfikir dan cara mereka menjalankan hidup, dengan pengadaptasian budaya setempat, menghasilkan sebuah kecenderungan yang sangat spesifik dalam persoalan selera atau cita rasa. Menyebut salah satunya adalah dalam hal selera wanita etnis Tionghoa memilih busana, seolah-olah mempunyai kecenderungan yang sama, yaitu menyenangi busana yang mempunyai unsur kilau, baik dari segi bahan maupun unsur hiasnya. Kecenderungan ini terutama sekali terlihat pada busana pesta. Berdasarkan hasil tinjauan di lapangan, orientasi berbusana wanita etnis Tionghoa mengacu kepada busana dari Barat. Ketika menghadiri pesta perkawinan, busana dengan model gaun terusan (one piece) dengan panjang menyentuh lantai (floor length), banyak di pilih. Potongan gaun dengan garis leher strapless, kamisol atau halter yang memperlihatkan bahu, pundak dan bagian punggung merupakan busana yang banyak ditemui dikenakan oleh wanita etnis Tionghoa. Efek kilau hampir selalu menghiasi busana pesta mereka, baik dari bahan seperti satin, lame, sutra maupun organdi ataupun dari teknik ornamennya yang berfungsi sebagai penghias busana. Teknik oranamen yang diterapkan adalah aplikasi jahit atau menempelkan elemen-elemen hias seperti payet, mute dan batu-batuan. Berdasarkan data yang ditemui dan analisis yang dikaji dari aspek-aspek desain, dengan metode penelitian kualitatif, akhirnya muncul kesimpulan bahwa, wanita etnis Tionghoa memilih busana bergaya Barat. Hal ini sebagai sebuah implikasi dari kehidupan yang modem. Barat dianggap sebagai negara yang maju dan berkuasa dan Barat dianggap sebagai lambang dari kemodeman dan merupakan cerminan dari gaya hidup yang metropolis. Pilihan mereka terhadap model busana yang banyak memperlihatkan bagian lengan, bahu, pundak dan punggung merupakan faktor fisikologis pada kebanyakan wanita etnis Tionghoa, dimana mereka menyadari bahwa mereka mempunyai kulit yang putih, terang dan bersih sehingga kepercayaan diri mereka tinggi untuk mengenakan busana dengan model tersebut. Disamping itu pula faktor religi yang dianut (Budha, Kristen dan Katolik) yang tidak begitu ketat dalam masalah berbusana. Pilihan busana dengan unsur kilap yang banyak menghiasi busana, secara sadar ataupun tidak, merupakan indikasi dari keinginan untuk memperlihatkan kemewahan, kemakmuran dan keberhasilan pemakainya.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiS
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id