Path: TopS2-ThesesArchitecture-SAPPK2001

PENGEMBANGAN KOTA WISATA CIREBON BERDASARKAN SISTEM KETERKAITAN

Master Theses from JBPTITBPP / 2017-09-27 15:24:06
Oleh : Francisca Iskandar, S2 - Architecture
Dibuat : 2001-04-30, dengan 1 file

Keyword : Cirebon, Kota Wisata,Pariwisata, Sistem Keterkaitan,Perencanaan Kota

Perancangan kota wisata berdasarkan sistem keterkaitan dilatar belakangi oleh tidak adanya keterkaitan antar atraksi wisata dalam perencanaan dan perancangan kota wisata di Indonesia yang seringkali menjadi salah satu sebab kegagalan sebuah kota wisata. Sistem keterkaitan sangat berperan dalam pembentukan image/citra sebuah kota wisata yang akan menentukan keberhasilan sebuah kota wisata. Pembentukan citra ini menjadi isu yang sangat penting karena harus khas yang digali dari identitas lokal yang mampu meningkatkan daya saing sebuah kota wisata. Keunikan dari sistem keterkaitan ini adalah selain membentuk kekhasan, ia baru berhasil di terapkan secara sempurna jika mampu membentuk kerjasama dengan kota kota wisata lain (tujuan wisata lain).


Perumusan kriteria sistem keterkaitan diperoleh dari kajian teoritik, baik dari pariwisata maupun perancangan kota, dan studi banding pada kota kota wisata yang telah berhasil yang memiliki kemiripan karakter dengan studi kasus. Pendekatan perumusan kriteria ini dilakukan terutama didasarkan pada apa yang akan di alami, dirasakan dan dilihat oleh wisatawan selama dalam melakukan perjalanan wisatanya. Dengan demikian, pedoman (guidelines) yang dihasilkan menjadi logis dan realistis serta mampu di terapkan pada studi kasus.


Sistem Keterkaitan mencakup aspek keterkaitan fungsi, model wisata, sirkulasi, visual, waktu/aktivitas, dan keterkaitan informasi dan promosi. Semua aspek tersebut bersatu padu dalam membentuk image/citra kota yang harus dijiwai oleh identitas lokal kota tersebut. Citra kota inilah yang nantinya akan memberikan kemudahan eksplorasi bagi wisatawan untuk berorientasi.


Cirebon sebagai studi kasus, memiliki banyak potensi atraksi wisata yang layak ditawarkan kepada wisatawan dan memiliki kelemahan dalam sistem keterkaitan antar atraksi wisatanya. Oleh karena itu, Cirebon menjadi sangat relevan untuk dipilih sebagai studi kasus yaitu bagaimana pedoman pedoman (guidelines) yang telah dihasilkan dapat di terapkan. Untuk menemukan identitas lokal yang akan diambil dalam mewujudkan sistem keterkaitan maka dilakukan pula penelitian yang lebih mendalam mengenai latar belakang sejarah dan budaya Cirebon. Selain itu dilakukan pula analisa terhadap potensi atraksi wisata baik yang ada di Cirebon maupun di luar Cirebon yang sangat penting dalam pembentukan sistem keterkaitan.


Konsep perencanaan dan perancangan kota wisata yang dihasilkan berupa strategi yang bersifat non fisik maupun fisik seperti peraturan tata guna lahan, tata bangunan, intensitas bangunan, sirkulasi dan sistem penandaan. Konsep yang dihasilkan tidak hanya diterapkan pada skala kawasan tetapi juga pada skala kota dan skala detail sehingga sistem keterkaitan dapat diterapkan secara baik.


Pelaksanaan konsep perencanaan dan perancangan tersebut harus menjadi bagian dari program pemerintah kota dan aspek legalitas peraturan kota. Perwujudan konsep hanya bisa dilakukan jika ada dukungan dan koordinasi antara masyarakat kota, pemerintah kota dan swasta.

Deskripsi Alternatif :

Perancangan kota wisata berdasarkan sistem keterkaitan dilatar belakangi oleh tidak adanya keterkaitan antar atraksi wisata dalam perencanaan dan perancangan kota wisata di Indonesia yang seringkali menjadi salah satu sebab kegagalan sebuah kota wisata. Sistem keterkaitan sangat berperan dalam pembentukan image/citra sebuah kota wisata yang akan menentukan keberhasilan sebuah kota wisata. Pembentukan citra ini menjadi isu yang sangat penting karena harus khas yang digali dari identitas lokal yang mampu meningkatkan daya saing sebuah kota wisata. Keunikan dari sistem keterkaitan ini adalah selain membentuk kekhasan, ia baru berhasil di terapkan secara sempurna jika mampu membentuk kerjasama dengan kota kota wisata lain (tujuan wisata lain).


Perumusan kriteria sistem keterkaitan diperoleh dari kajian teoritik, baik dari pariwisata maupun perancangan kota, dan studi banding pada kota kota wisata yang telah berhasil yang memiliki kemiripan karakter dengan studi kasus. Pendekatan perumusan kriteria ini dilakukan terutama didasarkan pada apa yang akan di alami, dirasakan dan dilihat oleh wisatawan selama dalam melakukan perjalanan wisatanya. Dengan demikian, pedoman (guidelines) yang dihasilkan menjadi logis dan realistis serta mampu di terapkan pada studi kasus.


Sistem Keterkaitan mencakup aspek keterkaitan fungsi, model wisata, sirkulasi, visual, waktu/aktivitas, dan keterkaitan informasi dan promosi. Semua aspek tersebut bersatu padu dalam membentuk image/citra kota yang harus dijiwai oleh identitas lokal kota tersebut. Citra kota inilah yang nantinya akan memberikan kemudahan eksplorasi bagi wisatawan untuk berorientasi.


Cirebon sebagai studi kasus, memiliki banyak potensi atraksi wisata yang layak ditawarkan kepada wisatawan dan memiliki kelemahan dalam sistem keterkaitan antar atraksi wisatanya. Oleh karena itu, Cirebon menjadi sangat relevan untuk dipilih sebagai studi kasus yaitu bagaimana pedoman pedoman (guidelines) yang telah dihasilkan dapat di terapkan. Untuk menemukan identitas lokal yang akan diambil dalam mewujudkan sistem keterkaitan maka dilakukan pula penelitian yang lebih mendalam mengenai latar belakang sejarah dan budaya Cirebon. Selain itu dilakukan pula analisa terhadap potensi atraksi wisata baik yang ada di Cirebon maupun di luar Cirebon yang sangat penting dalam pembentukan sistem keterkaitan.


Konsep perencanaan dan perancangan kota wisata yang dihasilkan berupa strategi yang bersifat non fisik maupun fisik seperti peraturan tata guna lahan, tata bangunan, intensitas bangunan, sirkulasi dan sistem penandaan. Konsep yang dihasilkan tidak hanya diterapkan pada skala kawasan tetapi juga pada skala kota dan skala detail sehingga sistem keterkaitan dapat diterapkan secara baik.


Pelaksanaan konsep perencanaan dan perancangan tersebut harus menjadi bagian dari program pemerintah kota dan aspek legalitas peraturan kota. Perwujudan konsep hanya bisa dilakukan jika ada dukungan dan koordinasi antara masyarakat kota, pemerintah kota dan swasta.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiS
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • , Editor:

File PDF...