Path: Top S2-Theses Development Studies 2000

Pengaruh pengembangan kawasan industri pulau Batam pada masalah kependudukan, ketenagakerjaan dan kehidupan sosial masyarakat di pulau Batam.

Master Theses from JBPTITBPP / 2007-03-21 19:02:45
Oleh : Rosmawaty Hilderiah Pandjaitan, S2 - Development Studies
Dibuat : 2000-11-00, dengan 1 file

Keyword : labour force immigration;Marginalization; labour force;social society; effects caused;demography.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh pengembangan Kawasan Industri Pulau Batam pada masalah kependudukan, ketenagakerjaan dan kehidupan sosial masyarakat di Pulau Batam semenjak tahun 1974 sampai tahun 2000.Pada penelitian ini digunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, berdasarkan pada pengamatan langsung di Pulau Batam dan dengan menggunakan berbagai data hasil penelitian dari FT-UI (1999), LPEM FE-UI (2000), laporan tahunan perkembangan Pulau Batam dari Otorita Batam, keterangan dari beberapa instansi pemerintah seetempat dan wawancara dengan berbagai pihat terkait. Dari penelitian ini ditemukan beberapa permasalahan pada masalah kependudukan, ketenagakerjaan dan kehidupan sosial masyarakat di Pulau Batam yang dipandang perlu untuk mendapat perhatian, seperti:
(1) Masalah derasnya arus migrasi tenaga kerja yang datang ke Pulau Batam yang cenderung kurang memiliki: pengetahuan yang cukup tentang Pulau Batam dan skill yang sesuai dengan kesempatan kerja yang tersedia di Pulau Batam, sehingga teramati adanya gejala (a) tidak berimbangnya antara kesempatan kerja dengan ketersediaan tenaga kerja yang ada di Pulau Batam, (b) miss-match antara skill yang dimiliki tenaga kerja dengan jenis pekerjaan yang ada.
(2) Terjadinya marginalisasi dari penduduk setempat. (3) Adanya perubahan persepsi masyarakat pada umumnya di Pulau Batam yang cenderung ‘toleran’ pada perkembangan industri seks, perjudian dan hiburan malam, sehingga makin meningkatkan angka tindak kejahatan di Pulau Batam dan makin menambah leluasanya perkembangan sektor informal tersebut, di samping pedagang eceran kaki lima dan jasa tukang ojek. (4) Berkembangnya permukiman liar yang berkembang justru bukan pada kawasan yang diperuntukkan untuk permukiman, sehingga timbul masalah pada perencanaan RTR dan TGl, terganggunya keindahan dan kebersihan kota Batam, sulitnya pengaturan administratif kependudukan dan terganggunya masalah kesehatan penduduk karena timbulnya masalah kekurangan air bersih.Berkaitan dengan gejala persoalan tersebut, dikemukakan (1) faktor-faktor yang menyebabkan makin berkembangnya persoalan-persoalan dalam kependudukan, ketenagakerjaan dan kehidupan sosial masyarakat di Pulau Batam.2)efek dari adanya persoalan dalam kependudukan, ketenagakerjaan dan kehidupan sosial masyarakat di Pulau Batam tersebut dan (3)hubungan interaksi antar faktor penyebab berkembangnya persoalan tersebut juga dikemukakan beberapa (4) gagasan tentang berbagai pendekatan yang dipandang dapat dipertimbangkan untuk menjembatani berbagai persoalan kependudukan, ketenagakerjaan dan kehidupan sosial masyarakat di Pulau Batam, sebagai akibat dikembangkannya Pulau Batam menjadi kawasan industri berikat.
Beberapa hal penting yang berhubungan erat dengan faktor utama yang meyebabkan makin berkembangnya persoalan dalam masalah kependudukan , ketenagakerjaan dan kehidupan sosial masyarakat di Pulau Batam, yang saling berhubungan satu dengan lainnya, yaitu: (1) tingginya arus migrasi masuk ke Pulau Batam yang tidak terkendali, (2) bergesernya (merosotnya) nilai moral, mental dan spritual masyarakat di Pulau Batam dan (3) tingginya harga pangan , sandang dan papan sebagai akibat adanya persoalan ‘supply sortage’ pangan, sandang dan Papan di Pulau Batam dan (4) tidak meratanya pembangunan sarana dan prasarana fisik di Pulau Batam yang mengakibatkan tidak meratanya persebaran penduduk dan pembangunan di Pulau Batam. Untuk mengendalikan perkembangan persoalan-persoalan tersebut, dibutuhkan sistem kontrol dan kerjasama yang baik dari semua pihak, khususnya dalam menjalankan sistem kontrol yang ada. Untuk menciptakan jalinan kerjasama yang baik dan untuk melibatkan semua pihak dalam pengembangan Pulau Batam tersebut, dibutuhkan kegiatan komunikasi dan peranan media massa serta adanya ‘jembatan penghubungan’ diantara pihak-pihak yang berkepentingan dengan pengembangan Pulau Batam. Untuk menjalankan fungsi ‘jembatan penghubung’ tersebut, dibutuhkan strategi “Public Relations” yang mampu menciptakan komunikasi timbal balik (dua arah) dan hubungan kerjasama yang baik dan berkelanjutan, dan dapat mengarahkan efek akhir dari suatu proses komunikasi, sebagaimana yang diharapkan. Dengan adanya hubungan kerjasama yang baik tersebut, diharapkan Public Relations juga dapat berfungsi sebagai sistem kendali yang mapu menguasai pihak-pihak terkait tersebut, seperti masyarakat pada umumnya, para pegusaha maupun pihak investor, pihak pers dan pemerintah setempat, dengan dibantu media massa sebagai media komunikasi dan informasi.

Deskripsi Alternatif :

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh pengembangan Kawasan Industri Pulau Batam pada masalah kependudukan, ketenagakerjaan dan kehidupan sosial masyarakat di Pulau Batam semenjak tahun 1974 sampai tahun 2000.Pada penelitian ini digunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, berdasarkan pada pengamatan langsung di Pulau Batam dan dengan menggunakan berbagai data hasil penelitian dari FT-UI (1999), LPEM FE-UI (2000), laporan tahunan perkembangan Pulau Batam dari Otorita Batam, keterangan dari beberapa instansi pemerintah seetempat dan wawancara dengan berbagai pihat terkait. Dari penelitian ini ditemukan beberapa permasalahan pada masalah kependudukan, ketenagakerjaan dan kehidupan sosial masyarakat di Pulau Batam yang dipandang perlu untuk mendapat perhatian, seperti:
(1) Masalah derasnya arus migrasi tenaga kerja yang datang ke Pulau Batam yang cenderung kurang memiliki: pengetahuan yang cukup tentang Pulau Batam dan skill yang sesuai dengan kesempatan kerja yang tersedia di Pulau Batam, sehingga teramati adanya gejala (a) tidak berimbangnya antara kesempatan kerja dengan ketersediaan tenaga kerja yang ada di Pulau Batam, (b) miss-match antara skill yang dimiliki tenaga kerja dengan jenis pekerjaan yang ada.
(2) Terjadinya marginalisasi dari penduduk setempat. (3) Adanya perubahan persepsi masyarakat pada umumnya di Pulau Batam yang cenderung ‘toleran’ pada perkembangan industri seks, perjudian dan hiburan malam, sehingga makin meningkatkan angka tindak kejahatan di Pulau Batam dan makin menambah leluasanya perkembangan sektor informal tersebut, di samping pedagang eceran kaki lima dan jasa tukang ojek. (4) Berkembangnya permukiman liar yang berkembang justru bukan pada kawasan yang diperuntukkan untuk permukiman, sehingga timbul masalah pada perencanaan RTR dan TGl, terganggunya keindahan dan kebersihan kota Batam, sulitnya pengaturan administratif kependudukan dan terganggunya masalah kesehatan penduduk karena timbulnya masalah kekurangan air bersih.Berkaitan dengan gejala persoalan tersebut, dikemukakan (1) faktor-faktor yang menyebabkan makin berkembangnya persoalan-persoalan dalam kependudukan, ketenagakerjaan dan kehidupan sosial masyarakat di Pulau Batam.2)efek dari adanya persoalan dalam kependudukan, ketenagakerjaan dan kehidupan sosial masyarakat di Pulau Batam tersebut dan (3)hubungan interaksi antar faktor penyebab berkembangnya persoalan tersebut juga dikemukakan beberapa (4) gagasan tentang berbagai pendekatan yang dipandang dapat dipertimbangkan untuk menjembatani berbagai persoalan kependudukan, ketenagakerjaan dan kehidupan sosial masyarakat di Pulau Batam, sebagai akibat dikembangkannya Pulau Batam menjadi kawasan industri berikat.
Beberapa hal penting yang berhubungan erat dengan faktor utama yang meyebabkan makin berkembangnya persoalan dalam masalah kependudukan , ketenagakerjaan dan kehidupan sosial masyarakat di Pulau Batam, yang saling berhubungan satu dengan lainnya, yaitu: (1) tingginya arus migrasi masuk ke Pulau Batam yang tidak terkendali, (2) bergesernya (merosotnya) nilai moral, mental dan spritual masyarakat di Pulau Batam dan (3) tingginya harga pangan , sandang dan papan sebagai akibat adanya persoalan ‘supply sortage’ pangan, sandang dan Papan di Pulau Batam dan (4) tidak meratanya pembangunan sarana dan prasarana fisik di Pulau Batam yang mengakibatkan tidak meratanya persebaran penduduk dan pembangunan di Pulau Batam. Untuk mengendalikan perkembangan persoalan-persoalan tersebut, dibutuhkan sistem kontrol dan kerjasama yang baik dari semua pihak, khususnya dalam menjalankan sistem kontrol yang ada. Untuk menciptakan jalinan kerjasama yang baik dan untuk melibatkan semua pihak dalam pengembangan Pulau Batam tersebut, dibutuhkan kegiatan komunikasi dan peranan media massa serta adanya ‘jembatan penghubungan’ diantara pihak-pihak yang berkepentingan dengan pengembangan Pulau Batam. Untuk menjalankan fungsi ‘jembatan penghubung’ tersebut, dibutuhkan strategi “Public Relations” yang mampu menciptakan komunikasi timbal balik (dua arah) dan hubungan kerjasama yang baik dan berkelanjutan, dan dapat mengarahkan efek akhir dari suatu proses komunikasi, sebagaimana yang diharapkan. Dengan adanya hubungan kerjasama yang baik tersebut, diharapkan Public Relations juga dapat berfungsi sebagai sistem kendali yang mapu menguasai pihak-pihak terkait tersebut, seperti masyarakat pada umumnya, para pegusaha maupun pihak investor, pihak pers dan pemerintah setempat, dengan dibantu media massa sebagai media komunikasi dan informasi.


Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiS
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • , Editor:

Download...