Path: Top > Member > hidayat@unix.lib.itb.ac.id

KAJIAN TENTANG PENGARUH PERUBAHAN HARGA ENERGI TERHADAP KELUARAN EMISI PADA INDUSTRI PENGOLAHAN DI INDONESIA

Master Theses from #PUBLISHER# / 2006-02-15 14:44:35
Oleh : Vita Febriany , S2 - Industrial Engineering and Management
Dibuat : 1999--02-0, dengan 1 file

Keyword : emision output, energy price
Subjek :
Plant management-Equipment for safety and comport
<.i>
Kepala Subjek :
Management

Nomor Panggil (DDC) : T 658.28 FEB
Sumber pengambilan dokumen : 20060221

ABSTRAK


Perkembangan sektor industri pengolahan tidak hanya memberikan dampak postitif bagi pertumbuhan ekonomi (22,8% PDB) dan penyerap lapangan kerja (10% angkatan kerja), akan tetapi terdapat faktor faktor eksternalitas yang menimbulkan efek negatif bagi lingkungan, yang Salah satunya adalah pencemaran udara karena penggunaan energi di sektor industri. Pemilihan jenis dan intensitas penggunaan energi di industri dipengaruhi oleh harga setiap jenis energi.
Penetapan harga energi di Indonesia yang dilakukan oleh pemerintah melalui suatu Surat Keputusan Presiden (Keppres) selama ini belum mempertimbangkan kenyataan bahwa perubahan harga energi akan berpengaruh pada perubahan keluaran emisi dari sektor industri pengolahan. Sehingga kebyaksanaan pemerintah untuk merubah harga energi dapat berdampak naiknya jumlah keluaran emisi sektor industri pengolahan, atau sebaliknya.
Dalam studi ini dikaji pengaruh perubahan harga energi terhadap perubahan permintaan energi untuk seluruh jenis energi yang digunakan di sektor industri pengolahan. Adanya perubahan permintaan energi karena perubahan harga energi berdampak pada perubahan keluaran emisi. Untuk mengkaji sejauh mana pengaruh perubahan harga energi terhadap perubahan keluaran emisi diperlukan dua variabel, yaitu ring/cat elastisitas hargapermintaan energi yang menunjukkan besarnya perubahan permintaan energi karena perubahan harga energi, serta koefisien energi-emisi yaitu koefisien yang menunjukkan tingkat emisi yang dihasilkan untuk setiap penggunaan satu unit energi tertentu.
Hasil perhitungan Elastisitas harga-permintaan energi dengan menggunakan metode dinamik translog menunjukkan bahwa energi yang paling elastis di sektor industri pengolahan secara keseluruhan adalah minyak tanah. Perubahan 1% dari harga semua jenis energi menghasilkan rata-rata perubahan permintaan minyak tanah sebesar 9,69%. Sedangkan energi yang paling tidak elastis di sektor industri pengolahan adalah solar, rata-rata dari perubahan absolutnya hanya 0,21%. Hasil perhitungan elastisitas harga energi-emisi menunjukkan bahwa dengan menaikkan harga energi dapat menyebabkan perubahan emisi yang berbeda. Sebagai contoh, dengan menaikkan 1% harga bensin dapat menyebabkan kenaikan emisi NOx, akan tetapi sebaliknya emisi TSP, SO, dan CO menurun.
Dengan diketahuinya perubahan permintaan energi dan keluaran emisi industri pengolahan karena adanya perubahan harga energi, pemerintah dapat mempertimbangkan aspek polusi udara dalam penyusunan kebijaksanaan harga energi baik melalui kebijaksanaan subsidi ataupun melalui pajak.

Deskripsi Alternatif :

ABSTRACT


Manufacturing sector growth not only have a positive impact for economic growth (22,8% from PDB) and absorb the employment (10% from the total employment.), but also have externalities that cause negative impact to the environment. One of them is air pollution from the energy used in industrial sector. The preference of kind and intensity of energy uses in industry depend on price of energy.
Energy price in Indonesia that is being determined by the Government through the President decree (Keppres) has not yet consider the fact that changing in energy price can influence emission from the manufacturing sector. With that condition, the government policy to change the energy price can decrease emission from manufacturing sector or vice versa.
This study examines the influence of energy change to the change of all kind energy demand that used in manufacturing sector. Demand energy change because of the changing in energy price can effect the emission. For examines how much the influence of changing energy price to the emission is needed two kind of variables, that are demand price elasticity and energy emission coefficient.
The result shows that the most elastic energy is kerosene. One percent changing in all kind of energy will cause the demand change of kerosene with the average 9,69%. The Most inelastic energy is HSDO (high speed diesel oil) with the average absolute change 0,21%. The result of energy price-emission elasticity shows that by increasing the price of energy can make the different change in emission. For example increasing price of gasoline can increase NOx emission but can reduce the TSP, SOx, and CO emission.
Government can take these results as a consideration before made policy about energy price. Government can take environment aspect into account of energy price by subsidy or taxation the price of energy.

Beri Komentar ?#(2) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiS
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Pembimbing:
    A. Imam Istiyanto, Ir., MBA

    Scan:
    Hidayat
    (2006-02-15)

    , Editor: hidayat@#publisher#

File PDF...