Path: TopS2-ThesesDesign-FSRD1999

Kulminasi nafsu angkara

Master Theses from JBPTITBPP / 2017-09-27 14:46:46
Oleh : Supriatna, S2 - Design
Dibuat : 1999-11-00, dengan 1 file

Keyword : nafsu angkara

Nafsu merupakan bagian integral manusia sejak ia lahir ke dunia. Melalui nafsulah kemudian terhimpun sifat-sifat terpuji, jahat dan tercela. Dari keadaan ini sang nafsu bisa bangkit dan mampu menyusup melalui berbagai celah, selanjutnya timbul kekuatan dahsyat yang sulit dibendung oleh pribadi-pribadi. Pada akhirnya tidak sedikit manusia kemudian menciptakan malapetaka besar karena kekuasaan nafsunya yang tidak lagi terkendali. Suatu akibat dari derasnya arus globalisasi mampu merubah gaya hidup masyarakat di berbagai belahan dunia. Namun demikian, persoalan perubahan ini makin berujung pada persoalan-persoalan sekularisme. Seperti halnya di tanah air, fenomena global yang mengalir deras nyatanya tak mampu ditampung oleh pola hidup dan perilaku masyarakat transisi dan marginal Sebagai akibat ketidakmampuan ini mendorong sebagaian besar orang bertindak emosional, bahkan tindakan kekerasan dianggap sebagai jalan paling praktis dalam menyelesaiakan setiap persoalan. Berdasarkan fenomena tersebut, tereduksi pemahaman tematis yang selanjutnya ditindaklanjuti menjadi gagasan untuk melahirkan sebuah karya rupa; yaitu dengan tema; “kulminasi nafsu angkara”.

Dari latar belakang yang dijadikan sumber gagas dalam proses berkarya, maka tujuan visualisasinya difokuskan untuk menterjemahkan berbagai fenomena atau gejala komunal dalam media dialog baru sebagai hasil dari sebuah ‘proses kreatif”. Penciptaan media dialog ini jelas membutuhkan material (bahan) dengan mengangkat bahan alternatif yang menekankan pada pemilihan karakteristik bahan yang paling adaptif dan acceptable sesuai dengan konsep atau gagasan berkarya. Dari kondisi psikologis inilah, penyaji ingin membuat dolusi dengan cara kerja kreatif yang tentunya membutuhkan media. Dan dari media terpilihnya tentunya bentuk dan sifat materi yang mampu’mewadahi’ sekaligus ‘mewakili’ ekpresi saya. Berkaitan dengan itu sertiap pengolahan materi, tidak akan lepas dari teknik (skill) sebagai bagian dari wilayah proses kreatif, dalam upaya melahirkan fenomena dalam bentuk baru. Fenomena yang dimaksud adalah hasil perkawinan antara ide/gagasan, bahan, dan teknik, dengan harapan mampu melahirkan ‘bentuk dialog rupa” khususnya bagi diri penyaji sendiri, karya, dan orang lain (penikmat karya).

Dalam hal ini penyaji lebih banyak menggunakan “bahasa rupa” yang lebih toleran terhadap semua tingkat pemahaman dan perenungan. Dalam arti penyaji meminjam bentuk-bentuk rupa (visual) sebagai media untuk membicarakan ‘suara hati’ kepada setiap orang yang mempunyai keinginan berdialog tentang fenomena yang ‘mengerikan sekarang ini. Tema atau persoalan pokok yang menyaji angkat dalam karya ini adalah ‘fenomena komunal’ khususnya tentang ‘kulminasi nafsu yang muncul dalam bentuk keangkaraan’. Dalam kontek ini yang menyaji ungkapkan lewat karya adalah sebuah gejala (fenomena), kecenderungan, sesuatu yang non-fisikal, tetapi justru dampak atau efek atau akibat yang ditimbulakan sangat fatal. Harapan penyaji dari perupaan karya yang faktual tersebut akan ‘mengusik’ (ngagagas) alam psikologis pelihat, sehingga dalam diri pemerhati akan tercipta renungan-renungan baru. Lewat karya tersebut penyaji berharap kita akan tergugah untuk mengadakan introspeksi, yaitu secara bersama-sama menyimak kembali dampak-dampak yang pernah ditimbulkan oleh nafsu kengkaraan tewsebut. Keinginan mengungkapkan tentang sebuah gejala buruk dalam komunitas manusia. Yang mengarah pada tindakan-tindakan bruntal, yang terangkum dalam pengertian ‘nafsu angkara’, maka ingin penyaji gambarkan adalah tindakan keangkaraan tersebut, yang digambarkan oleh efek atau akibat yang ditimbulkan oleh nafsu keangkaraan tersebut dengan diwakilkan pada sosok-sosok manusia sebagai pelaku sekaligus korban dari nafsu angkaranya. Akibat buruk dari sebuah keinginan, nafsu, amarah, serta ketakutan sebelum kematiannya telah diabadikan (“ditablokan”) oleh api atau kekauatan nafsu penghancur lainnya. Sehingga dalam karya saya tetap ter.lihat bentuk-bentuk gerakan tubuh yang menyisakan kesan-kesan keinginan, hasrat, nafsu, dendam, ketakutan, kesedihan, penderitaan, kemarahan, kegeraman, dan sebagainya. Bahkan mulai dari potongan tangan, kaki, kepala, atau serpihan-serpihan yang lainnya, tetap ingin penyaji hadirkan sebagai bagian karya yang memiliki kekuatan untuk menyampaikan sesuatu. Kesan-kesan inilah yang ingin penyaji hadirkan sebagai nilai-nilai perenungan, dimana nafsu, dendam, kebencian, angkara, dan murka hanya akan berakibat kehancuran itu sendiri, hanya karena sebuah ambisi duniawi tetapi korban yang ditimbulkan begitu banyak.








Deskripsi Alternatif :

Nafsu merupakan bagian integral manusia sejak ia lahir ke dunia. Melalui nafsulah kemudian terhimpun sifat-sifat terpuji, jahat dan tercela. Dari keadaan ini sang nafsu bisa bangkit dan mampu menyusup melalui berbagai celah, selanjutnya timbul kekuatan dahsyat yang sulit dibendung oleh pribadi-pribadi. Pada akhirnya tidak sedikit manusia kemudian menciptakan malapetaka besar karena kekuasaan nafsunya yang tidak lagi terkendali. Suatu akibat dari derasnya arus globalisasi mampu merubah gaya hidup masyarakat di berbagai belahan dunia. Namun demikian, persoalan perubahan ini makin berujung pada persoalan-persoalan sekularisme. Seperti halnya di tanah air, fenomena global yang mengalir deras nyatanya tak mampu ditampung oleh pola hidup dan perilaku masyarakat transisi dan marginal Sebagai akibat ketidakmampuan ini mendorong sebagaian besar orang bertindak emosional, bahkan tindakan kekerasan dianggap sebagai jalan paling praktis dalam menyelesaiakan setiap persoalan. Berdasarkan fenomena tersebut, tereduksi pemahaman tematis yang selanjutnya ditindaklanjuti menjadi gagasan untuk melahirkan sebuah karya rupa; yaitu dengan tema; “kulminasi nafsu angkara”.

Dari latar belakang yang dijadikan sumber gagas dalam proses berkarya, maka tujuan visualisasinya difokuskan untuk menterjemahkan berbagai fenomena atau gejala komunal dalam media dialog baru sebagai hasil dari sebuah ‘proses kreatif”. Penciptaan media dialog ini jelas membutuhkan material (bahan) dengan mengangkat bahan alternatif yang menekankan pada pemilihan karakteristik bahan yang paling adaptif dan acceptable sesuai dengan konsep atau gagasan berkarya. Dari kondisi psikologis inilah, penyaji ingin membuat dolusi dengan cara kerja kreatif yang tentunya membutuhkan media. Dan dari media terpilihnya tentunya bentuk dan sifat materi yang mampu’mewadahi’ sekaligus ‘mewakili’ ekpresi saya. Berkaitan dengan itu sertiap pengolahan materi, tidak akan lepas dari teknik (skill) sebagai bagian dari wilayah proses kreatif, dalam upaya melahirkan fenomena dalam bentuk baru. Fenomena yang dimaksud adalah hasil perkawinan antara ide/gagasan, bahan, dan teknik, dengan harapan mampu melahirkan ‘bentuk dialog rupa” khususnya bagi diri penyaji sendiri, karya, dan orang lain (penikmat karya).

Dalam hal ini penyaji lebih banyak menggunakan “bahasa rupa” yang lebih toleran terhadap semua tingkat pemahaman dan perenungan. Dalam arti penyaji meminjam bentuk-bentuk rupa (visual) sebagai media untuk membicarakan ‘suara hati’ kepada setiap orang yang mempunyai keinginan berdialog tentang fenomena yang ‘mengerikan sekarang ini. Tema atau persoalan pokok yang menyaji angkat dalam karya ini adalah ‘fenomena komunal’ khususnya tentang ‘kulminasi nafsu yang muncul dalam bentuk keangkaraan’. Dalam kontek ini yang menyaji ungkapkan lewat karya adalah sebuah gejala (fenomena), kecenderungan, sesuatu yang non-fisikal, tetapi justru dampak atau efek atau akibat yang ditimbulakan sangat fatal. Harapan penyaji dari perupaan karya yang faktual tersebut akan ‘mengusik’ (ngagagas) alam psikologis pelihat, sehingga dalam diri pemerhati akan tercipta renungan-renungan baru. Lewat karya tersebut penyaji berharap kita akan tergugah untuk mengadakan introspeksi, yaitu secara bersama-sama menyimak kembali dampak-dampak yang pernah ditimbulkan oleh nafsu kengkaraan tewsebut. Keinginan mengungkapkan tentang sebuah gejala buruk dalam komunitas manusia. Yang mengarah pada tindakan-tindakan bruntal, yang terangkum dalam pengertian ‘nafsu angkara’, maka ingin penyaji gambarkan adalah tindakan keangkaraan tersebut, yang digambarkan oleh efek atau akibat yang ditimbulkan oleh nafsu keangkaraan tersebut dengan diwakilkan pada sosok-sosok manusia sebagai pelaku sekaligus korban dari nafsu angkaranya. Akibat buruk dari sebuah keinginan, nafsu, amarah, serta ketakutan sebelum kematiannya telah diabadikan (“ditablokan”) oleh api atau kekauatan nafsu penghancur lainnya. Sehingga dalam karya saya tetap ter.lihat bentuk-bentuk gerakan tubuh yang menyisakan kesan-kesan keinginan, hasrat, nafsu, dendam, ketakutan, kesedihan, penderitaan, kemarahan, kegeraman, dan sebagainya. Bahkan mulai dari potongan tangan, kaki, kepala, atau serpihan-serpihan yang lainnya, tetap ingin penyaji hadirkan sebagai bagian karya yang memiliki kekuatan untuk menyampaikan sesuatu. Kesan-kesan inilah yang ingin penyaji hadirkan sebagai nilai-nilai perenungan, dimana nafsu, dendam, kebencian, angkara, dan murka hanya akan berakibat kehancuran itu sendiri, hanya karena sebuah ambisi duniawi tetapi korban yang ditimbulkan begitu banyak.









Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiS
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • , Editor: