Path: TopS2-ThesesDesign1999

Spesifikasi dan karakteristik wayang wahyu Surakarta

Specification and Characteristicts Wahyu Puppet of Surakarta

Master Theses from JBPTITBPP / 2002-02-21 09:46:00
Oleh : Setyo Budi, S2 - Design
Dibuat : 1999-08-00, dengan 1 file

Keyword : Wayang
Nomor Panggil (DDC) : T 791.53 BUD
Sumber pengambilan dokumen : Program Magister Seni Rupa dan Desain
Program Pascasarjana ITB

Spesifikasi dan karakteristik wayang wahyu Surakarta (dalam kajian Hermeneutik Fenomenologis), Setyo Budi
Wayang Purwa adalah realitas panggung sebagai kristalisasi realitas universal untuk memberi nilai pada realitas zaman, dimana eksistensinya selalu mempengaruhi sekaligus dipengaruhi oleh perkembangan budaya masyarakatnya, memasuki abad XX bermunculan pakeliran baru sebagai bentuk toleransi status klasiknya. Wayang-wayang baru muncul dengan bermacam konsep dan gaya pakeliran yang sebagaian besar mempertajam konsepsi pragmatisme yang telah dirintis pada periode Islam. Salah satu pakeliran baru yang turut memperkaya khasanah dunia wayang nusantara adalah ‘wayang wahyu”, lahir awal 1960-an dengan spesifikasi dan karakteristik khusus sebagai wacana pakeliran. Sesuai dengan kondisi wilayah penelitian, karakteristik permasalahan yang dikaji dari sebuah fenomena komunal dengan obyek dan proses berkesenian, maka menggunakan metodologi kualitatif deskriptif. Sedangkan tujuan utama adalah ‘menangkap proses’ untuk ‘menemukan makna’, maka dibutuhkan metode kajian teoritik untuk menafsirkan hasil penelitian, oleh karena itu ditopang kajian Hermeneutik Fenomenologi.Wayang wahyu adalah hasil kolaborasi gereja dengan seniman yang berfungsi utama sebagai ‘pewartaan iman’, yaitu mengangkat kisah dalam kitab Suci untuk dilakonkan dalam pakeliran, tetapi tetap dalam pola standar kontrol gereja, yang disebut ‘nihil obstat’. Pakeliran wayang wahyu dirancang untuk bergerak di luar lingkungan gereja, yaitu, yaitu kalangan umat katolik khususunya dan masyarakat pada umumnya; dengan harapan mampu melahirkan image baru, bahwa keimanan katolik dapat dekat dengan budaya Jawa.Wayang Wahyu tidak dirancang melahirkan paradigma baru sebagai bentuk akulturasi budaya, melainkan usaha ‘membumikan’ Keimanan Katolik. Bukan fenomena’Jawanisasi’ ajaran Kristus ke dalam kosmologi masyarakat Jawa, melainkan media alternatif “membaca” ajaran Kristus dengan “Bahasa Ibu” manusia Jawa, meskipunkelahiran wayang ini beberapa tahun sebelum “Konsili Vatikan II”. Wayang Wahyu bukan konsepsi komunal masyarakat Jawa, melainkan fenomena konseptual yang mengkonodasikan bentuk-bentuk komunal masyarakat Jawa dalam paradigma Wayang Wahyu adalah realitas panggung sebagai pembabaran ajaran kebenaran universal untuk memberi nilai tuntunan pada realitas zaman. Bahan dasarnya tetap menggunakan belulang (kulit) kerbau yang dipahat dan diwarna seperti layaknya menciptakan Wayang Purwa Pergelaran Wayang Wahyu lebih sering menampilkan lakon bersumber dari Kitab Perjanjian Lama daripada Kitab Perjanjian Baru. Perupaanya adalah dilematis, antara setengah bentuk wayang yang mempunyai pola garap mendekati Wayang Purwa, dan setengah gambar manusia realistis terutama untuk tokoh-tokoh yang karakternya sudah dikenal masyarakat, bukan mewayangkan tokoh-tokoh dalam alam fikiran Barat, melainkan “mencitrakan” karakteristik tokoh-tokoh dalam alkitab menurut alam fikiran Jawa. Eksistensi Wayang Wahyu juga persoalan dilematis, bermuara antara estetika Barat dan Timur, antara kesenian tradisional dengan lingkungan gereja, dan antara kreativitas seniman dengan nihil obstat. Sebagaimana fenomena lambang, ditekan keberadaannya oleh Gereja, tetapi perupaan wayang yang lahir dari tangan seniman Jawa tetap berkait dengan fenomena lambang. Beberapa unsur pakeliran Wayang Wahyu memuat nilai-nilai filosofis Kristiani, yang sebagian besar muncul dalam cara ungkap Jawaisme. Nilai filosofisnya adalah nilai-nilai Kristiani dan bukan filsafat pewayangan, meskipun beberapa unsurnya memuat nilai-nilai universal dan Jawa (Kejawen), tetapi tidak berseberang jalan dengan paradigma Kristiani. Nilai-nilai tersebut terformulasi dari dua kutub besar, yaitu nilai-nilai Kejawen (dan wayang purwa) yang menjadi kekuatan obyektifnya, dan kutub dogmatis Kristiani yang menjadi kekuatan subyektifnya; keduanya adalah energi kehidupan Wayang Wahyu itu sendiri.
Pergelaran Wayang Wahyu adalah proses transformasi nilai yang menitikberatkan pada substansi dogmatis lewat media adaptif sebagai strategi bahasa panggung lewat konflik kontemplatif religius, dimana para penghayat berkesempatan melakukan koreksi ulang, pengkayaan, dan pendalaman nilai-nilai kitabi; bahkan dapat menemukan fenomena lain dalam wilayah religiusnya sebagai bagian dari perjalanan spiritualnya.

Deskripsi Alternatif :

Specification and Characteristicsts Wahyu Puppet of Surakarta (a Study of Hermeneutic Phenomenology).
Purwa puppet is a reality of stage crystallised from the universal reality to give value about the time reality, where the existence is always influencing and is affected by cultural development of the Society. In the twentieth century, there have been new stage shows’pakeliran’ as tolerant from of its classic status. New types of puppets have come to existence along with theis various concepts and stage show ‘pakeliran’ as a tolerant form of its classic status. New types of puppets have come to existence along with their various concepts and stage show’pakeliran’ styles, most of which have aharpened pragmatic concepts pionered by Islamic period. One of the new stage shows ‘pakeliran’ which has enriched Indonesian puppet is ‘wahyu puppet’, born in the early 1960s witg is specification and special characteristics as ‘pakeliran’ prototype.
Due to the condition od research areas, as the characteristics of problem to be examined is from a communal phenomenon with object and art process, methodology to be used is descriptive qualitative.Whilst themain objective of research is ‘to catch the process’ to find meaning’, a theoretical method of Hermeneutic Phenomenology is needed to interpret the result of research. Wahyu puppet which is redulted fro the collaboration between the church and artist, fungtion as the ‘faith mission’ that is adopting the story in the Bible to be presented in the stage show ‘pakeliran, but still in the controlled standart puppet is designed to be shown outside the church, particularly in the catholic environment and society in general, hoping the formulate a new image that Catholic belief canbe near at hand in Javanese culture.
Wahyu puppet is not designed to create new paradigm as a form of cultural acculturation
Rather it constitutes effort to ‘universaline’ Catholic faith. It is not Javanisation of Christ’s teachings in to the Javanese Cosmology, but an alternative media to read’ Christ’s teaching using the Javanese ‘mother tangue’, although it was born few years before’Vatican Consiliation II’ That Wahyu puppet is not the accommodate the forms of the Javanese society, but a conceptual phenomenon that accommodate the forms of the Javanese society in the paradigm is a reality of stage as the re[resentatiom of the universal truth to give guidance to the time reality. The basic material is buffalo leather carved and given colours as done to make Purwa puppet. The Wahyu puppet shows presenting the themes adopted from The Old Testament are more often than those from The New Testament. The form of carve is dilematic problems, between a half Purwa puppet and half realistic figure of human being, esapecially the well known figures. They are not reporesenting figures in Western view, but representing the characteristic figures in the Bible according to the Javanese point of view. The existence of Wahyu puppet is also a dilemma, between Western with Eastern aesthetic, between traditional art with church environment, and between artists creativity with nihil obstat.
As the symbplic phenomenon, the existence of Wahyu puppet is suppressed by the church; however, the puppet which is crafted by Javanese artists is still related to symbolic phenomenon. Several elements of the stage show’pakeliran’ of Wahyu puppet contain the values of Christian philosophy, most of which appear in Javanese expression. The philosophical values of Wahyu puppet are Christian values, not puppet philosophy, even though some of the substances contain universal values and Javaism (Kejawen), the values are not opposing to the Christian paradigm. The values are formulated from two great poles,i.e. Javaism values (and Purwa puppet) as the objective power and Christian dogma pole as the subjective power, both are the live energy of Wahyu puppet itself.
The Wahyu puppet show is a process of trabforming values focussing on the dogmatic substance through adaptive medium as alternative strategy in the communal phenomenon. These values are visualised in the stage language through the conflict of religious contemplative, where the audience has opprtunity to recorrect, to enrich, and to deepen the values in the Bible, even they can find the other phenomenon in the religious area as part of their spiritual journey.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiS
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Editor: