Path: TopS2-ThesesDesign-FSRD1999

Spesifikasi dan karakteristik wayang wahyu Surakarta

Master Theses from JBPTITBPP / 2017-09-27 14:46:46
Oleh : Setyo Budi, S2 - Design
Dibuat : 1999-08-00, dengan 1 file

Keyword : Wayang

Spesifikasi dan karakteristik wayang wahyu Surakarta (dalam kajian Hermeneutik Fenomenologis), Setyo Budi

Wayang Purwa adalah realitas panggung sebagai kristalisasi realitas universal untuk memberi nilai pada realitas zaman, dimana eksistensinya selalu mempengaruhi sekaligus dipengaruhi oleh perkembangan budaya masyarakatnya, memasuki abad XX bermunculan pakeliran baru sebagai bentuk toleransi status klasiknya. Wayang-wayang baru muncul dengan bermacam konsep dan gaya pakeliran yang sebagaian besar mempertajam konsepsi pragmatisme yang telah dirintis pada periode Islam. Salah satu pakeliran baru yang turut memperkaya khasanah dunia wayang nusantara adalah ‘wayang wahyu”, lahir awal 1960-an dengan spesifikasi dan karakteristik khusus sebagai wacana pakeliran. Sesuai dengan kondisi wilayah penelitian, karakteristik permasalahan yang dikaji dari sebuah fenomena komunal dengan obyek dan proses berkesenian, maka menggunakan metodologi kualitatif deskriptif. Sedangkan tujuan utama adalah ‘menangkap proses’ untuk ‘menemukan makna’, maka dibutuhkan metode kajian teoritik untuk menafsirkan hasil penelitian, oleh karena itu ditopang kajian Hermeneutik Fenomenologi.Wayang wahyu adalah hasil kolaborasi gereja dengan seniman yang berfungsi utama sebagai ‘pewartaan iman’, yaitu mengangkat kisah dalam kitab Suci untuk dilakonkan dalam pakeliran, tetapi tetap dalam pola standar kontrol gereja, yang disebut ‘nihil obstat’. Pakeliran wayang wahyu dirancang untuk bergerak di luar lingkungan gereja, yaitu, yaitu kalangan umat katolik khususunya dan masyarakat pada umumnya; dengan harapan mampu melahirkan image baru, bahwa keimanan katolik dapat dekat dengan budaya Jawa.Wayang Wahyu tidak dirancang melahirkan paradigma baru sebagai bentuk akulturasi budaya, melainkan usaha ‘membumikan’ Keimanan Katolik. Bukan fenomena’Jawanisasi’ ajaran Kristus ke dalam kosmologi masyarakat Jawa, melainkan media alternatif “membaca” ajaran Kristus dengan “Bahasa Ibu” manusia Jawa, meskipunkelahiran wayang ini beberapa tahun sebelum “Konsili Vatikan II”. Wayang Wahyu bukan konsepsi komunal masyarakat Jawa, melainkan fenomena konseptual yang mengkonodasikan bentuk-bentuk komunal masyarakat Jawa dalam paradigma Wayang Wahyu adalah realitas panggung sebagai pembabaran ajaran kebenaran universal untuk memberi nilai tuntunan pada realitas zaman. Bahan dasarnya tetap menggunakan belulang (kulit) kerbau yang dipahat dan diwarna seperti layaknya menciptakan Wayang Purwa Pergelaran Wayang Wahyu lebih sering menampilkan lakon bersumber dari Kitab Perjanjian Lama daripada Kitab Perjanjian Baru. Perupaanya adalah dilematis, antara setengah bentuk wayang yang mempunyai pola garap mendekati Wayang Purwa, dan setengah gambar manusia realistis terutama untuk tokoh-tokoh yang karakternya sudah dikenal masyarakat, bukan mewayangkan tokoh-tokoh dalam alam fikiran Barat, melainkan “mencitrakan” karakteristik tokoh-tokoh dalam alkitab menurut alam fikiran Jawa. Eksistensi Wayang Wahyu juga persoalan dilematis, bermuara antara estetika Barat dan Timur, antara kesenian tradisional dengan lingkungan gereja, dan antara kreativitas seniman dengan nihil obstat. Sebagaimana fenomena lambang, ditekan keberadaannya oleh Gereja, tetapi perupaan wayang yang lahir dari tangan seniman Jawa tetap berkait dengan fenomena lambang. Beberapa unsur pakeliran Wayang Wahyu memuat nilai-nilai filosofis Kristiani, yang sebagian besar muncul dalam cara ungkap Jawaisme. Nilai filosofisnya adalah nilai-nilai Kristiani dan bukan filsafat pewayangan, meskipun beberapa unsurnya memuat nilai-nilai universal dan Jawa (Kejawen), tetapi tidak berseberang jalan dengan paradigma Kristiani. Nilai-nilai tersebut terformulasi dari dua kutub besar, yaitu nilai-nilai Kejawen (dan wayang purwa) yang menjadi kekuatan obyektifnya, dan kutub dogmatis Kristiani yang menjadi kekuatan subyektifnya; keduanya adalah energi kehidupan Wayang Wahyu itu sendiri.

Pergelaran Wayang Wahyu adalah proses transformasi nilai yang menitikberatkan pada substansi dogmatis lewat media adaptif sebagai strategi bahasa panggung lewat konflik kontemplatif religius, dimana para penghayat berkesempatan melakukan koreksi ulang, pengkayaan, dan pendalaman nilai-nilai kitabi; bahkan dapat menemukan fenomena lain dalam wilayah religiusnya sebagai bagian dari perjalanan spiritualnya.

Deskripsi Alternatif :

Spesifikasi dan karakteristik wayang wahyu Surakarta (dalam kajian Hermeneutik Fenomenologis), Setyo Budi

Wayang Purwa adalah realitas panggung sebagai kristalisasi realitas universal untuk memberi nilai pada realitas zaman, dimana eksistensinya selalu mempengaruhi sekaligus dipengaruhi oleh perkembangan budaya masyarakatnya, memasuki abad XX bermunculan pakeliran baru sebagai bentuk toleransi status klasiknya. Wayang-wayang baru muncul dengan bermacam konsep dan gaya pakeliran yang sebagaian besar mempertajam konsepsi pragmatisme yang telah dirintis pada periode Islam. Salah satu pakeliran baru yang turut memperkaya khasanah dunia wayang nusantara adalah ‘wayang wahyu”, lahir awal 1960-an dengan spesifikasi dan karakteristik khusus sebagai wacana pakeliran. Sesuai dengan kondisi wilayah penelitian, karakteristik permasalahan yang dikaji dari sebuah fenomena komunal dengan obyek dan proses berkesenian, maka menggunakan metodologi kualitatif deskriptif. Sedangkan tujuan utama adalah ‘menangkap proses’ untuk ‘menemukan makna’, maka dibutuhkan metode kajian teoritik untuk menafsirkan hasil penelitian, oleh karena itu ditopang kajian Hermeneutik Fenomenologi.Wayang wahyu adalah hasil kolaborasi gereja dengan seniman yang berfungsi utama sebagai ‘pewartaan iman’, yaitu mengangkat kisah dalam kitab Suci untuk dilakonkan dalam pakeliran, tetapi tetap dalam pola standar kontrol gereja, yang disebut ‘nihil obstat’. Pakeliran wayang wahyu dirancang untuk bergerak di luar lingkungan gereja, yaitu, yaitu kalangan umat katolik khususunya dan masyarakat pada umumnya; dengan harapan mampu melahirkan image baru, bahwa keimanan katolik dapat dekat dengan budaya Jawa.Wayang Wahyu tidak dirancang melahirkan paradigma baru sebagai bentuk akulturasi budaya, melainkan usaha ‘membumikan’ Keimanan Katolik. Bukan fenomena’Jawanisasi’ ajaran Kristus ke dalam kosmologi masyarakat Jawa, melainkan media alternatif “membaca” ajaran Kristus dengan “Bahasa Ibu” manusia Jawa, meskipunkelahiran wayang ini beberapa tahun sebelum “Konsili Vatikan II”. Wayang Wahyu bukan konsepsi komunal masyarakat Jawa, melainkan fenomena konseptual yang mengkonodasikan bentuk-bentuk komunal masyarakat Jawa dalam paradigma Wayang Wahyu adalah realitas panggung sebagai pembabaran ajaran kebenaran universal untuk memberi nilai tuntunan pada realitas zaman. Bahan dasarnya tetap menggunakan belulang (kulit) kerbau yang dipahat dan diwarna seperti layaknya menciptakan Wayang Purwa Pergelaran Wayang Wahyu lebih sering menampilkan lakon bersumber dari Kitab Perjanjian Lama daripada Kitab Perjanjian Baru. Perupaanya adalah dilematis, antara setengah bentuk wayang yang mempunyai pola garap mendekati Wayang Purwa, dan setengah gambar manusia realistis terutama untuk tokoh-tokoh yang karakternya sudah dikenal masyarakat, bukan mewayangkan tokoh-tokoh dalam alam fikiran Barat, melainkan “mencitrakan” karakteristik tokoh-tokoh dalam alkitab menurut alam fikiran Jawa. Eksistensi Wayang Wahyu juga persoalan dilematis, bermuara antara estetika Barat dan Timur, antara kesenian tradisional dengan lingkungan gereja, dan antara kreativitas seniman dengan nihil obstat. Sebagaimana fenomena lambang, ditekan keberadaannya oleh Gereja, tetapi perupaan wayang yang lahir dari tangan seniman Jawa tetap berkait dengan fenomena lambang. Beberapa unsur pakeliran Wayang Wahyu memuat nilai-nilai filosofis Kristiani, yang sebagian besar muncul dalam cara ungkap Jawaisme. Nilai filosofisnya adalah nilai-nilai Kristiani dan bukan filsafat pewayangan, meskipun beberapa unsurnya memuat nilai-nilai universal dan Jawa (Kejawen), tetapi tidak berseberang jalan dengan paradigma Kristiani. Nilai-nilai tersebut terformulasi dari dua kutub besar, yaitu nilai-nilai Kejawen (dan wayang purwa) yang menjadi kekuatan obyektifnya, dan kutub dogmatis Kristiani yang menjadi kekuatan subyektifnya; keduanya adalah energi kehidupan Wayang Wahyu itu sendiri.

Pergelaran Wayang Wahyu adalah proses transformasi nilai yang menitikberatkan pada substansi dogmatis lewat media adaptif sebagai strategi bahasa panggung lewat konflik kontemplatif religius, dimana para penghayat berkesempatan melakukan koreksi ulang, pengkayaan, dan pendalaman nilai-nilai kitabi; bahkan dapat menemukan fenomena lain dalam wilayah religiusnya sebagai bagian dari perjalanan spiritualnya.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiS
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • , Editor: