Path: Top » Member » yatir@lib.itb.ac.id
KARAKTERISTIK KEKUATAN TANAH BERBUTIR KASAR DENGAN STABILISATOR EMC2 KONSENTRASI RENDAH
Oleh : Demsi Saad, S2 - Highway System Engineering
Dibuat : 1996-10-00, dengan 1 file
Keyword :
Strengh characteristics coarsely-graded soil
Nomor Panggil (DDC) : T625.732 SAA
Url : http://20051287
Abstrak:
Studi mengenai karakteristik kekuatan dan pemadatan tiga tanah dari Palembang (Semen Api, Pasir Merah, dan Pasir Batu) dan satu dari tanah Cikalong distabilisasi dengan stabilisator biokatalis, Earth Material Catalyst (EMC2) telah dilakukan. Ketiga tanah Palembang,
diklasifikasikan sebagai material berbutir kasar dipilih untuk memperoleh rentang jenis tanah. Pengujian pada tanah tidak distabilisasi, termasuk kiasifikasi tanah, pemadatan standar, CBR dan DCP,
dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh stabilisator ini terhadap konsentrasi dan waktu pemeraman yang berbedabeda.
Sampel tanah yang distabilisasi dengan EMC2 disiapkan pada konsentrasi rendah, yakni rasio campuran (perbandingan EMC2 dengan air) 1:60, 1:75 dan 1:90 dan kadar air optimum untuk setiap rasio campuran dapat ditentukan. Pengaruh waktu pemeraman 1, 3, 7 dan 14 hari pada karakteristik pemadatan tanah dan kekuatan yang d
istabilisasi dengan EMC2 juga dievaluasi.
Penambahan EMC2 tampaknya tidak berpengaruh besar terhadap karakteristik pemadatan tanah dan nilai kepadatan maksimum dan kadar air optimum didapat sebanding dengan tanah yang tidak distabilisasi.
Kecenderungan pengembangan kekuatan untuk semua tanah, yang ditunjukkan oleh nilai CBR dan DCP, tidak konsisten terhadap variasi rasio campuran dan waktu pemeraman. Meningkatnya konsentrasi EMC2 dan waktu pemeraman tidak selalu menghasilkan karakteristik kekuatan yang meningkat. Dalam hal tanah Semen Api, peningkatan maksimum nilai CBR (dari 5.3% menjadi 10.2%) terjadi pada rasio campuran 1:75 dan waktu pemeraman 14 hari. Pada Pasir Merah dan Pasir Batu, peningkatan nilai CBR dari 33.0% dan 14% menjadi 46.7% dan 33.3% pada rasio campuran 1:90 dan 1:60 dan waktu pemeraman masing masing 1 hari. Maksimum kekuatan pada nilai DCP tanah Semen Api terjadi pada rasio campuran 1:90 dan waktu pemeraman 3 hari, sedangkan untuk tanah Pasir Merah dan Pasir Batu terjadi pada rasio campuran 1:90 dan 1:90 dan waktu pemeraman 3 hari dan 7 hari.
Seperti disebut diatas, kombinasi optimum rasio campuran dan waktu pemeraman untuk pengujian CBR dan DCP tidak sama. Secara umum, terdapat korelasi yang kurang baik antara pengukuran CBR dan DGP pada sampel
Abstracts:
A study of the compaction and strength characteristics of three soils from Palembang (Semen Api, Pasir Merah and Pasir Batu) and one from Cikalong treated with a biological catalyst stabilizer, Earth Material Catalyst (EMC2), has been carried out. The three Palembang soils, classified as coarse-grained materials, were selected in order to provide a wide range of soil types. Tests on untreated soil were made to evaluate the influence of this stabilizer at different concentrations and curing times
The soil samples treated with EMC2 were prepared at low concentrations i.e. dilution ratios (parts by volume of EMC2 to parts by volume of water) of 1:60, 1:75 and 1:90 and optimum moisture content at each dilution ratio was determined. The effect of curing periods of 1, 3, 7 and 14 days on strength and compaction characteristics of
EMC2-treated soils was also evaluated.
The addition of EMC2 in the amounts investigated appears not to have effected significantly the compaction characteristics of any of the soils studied and values of MDD and OMC obtained are comparable with those obtained for untreated soil.
The trend in strength development for all soil types, as indicated by CBR and DCP values, was not consistent with variation in dilution ratio and curing time. Higher EMC2 concentration and longer curing times did not always result in improved strength characteristics. In the case of Semen Api soil, the maximum increase in CBR value (from 5.3% to 10.2%) was observed at dilution ratio of 1:75 and a curing time of 14 days. Maximum increase in the CBR values of Pasir Merah and Pasir Batu soils, 33.0% to 46.7% and 14% to 33.3% respectively, were observed when the former was treated at a dilution of 1:90 and cured for one day, the latter at a dilution ratio of 1:60 and cured for one day. Maximum strength, as indicated by the DCP, occurred at a dilution ratio of 1:90 and after 3 days curing in the case of Semen Api soil. Corresponding data for the Pasir Merah and Pasir Batu soils are 1:90 dilution ratio/3 days curing and 1:90 dilution ratio/7 days curing.
As indicated above, optimum combination of dilution ratio and curing time are not the same for CBR and DCP testing. In general poor correlation was found to exist between CBR and DCP measurements made on nominally identical samples.
Beri Komentar ?#(0) | Bookmark
| Properti | Nilai Properti |
|---|---|
| ID Publisher | JBPTITBPP |
| Organisasi | S2 - Highway System Engineering |
| Nama Kontak | Drs. Mahmudin, SIP. |
| Alamat | Jl. Ganesha 10 |
| Kota | Bandung |
| Daerah | Jawa Barat |
| Negara | Indonesia |
| Telepon | 62-22-2509118, 2500089 |
| Fax | 62-22-2500089 |
| E-mail Administrator | digilib@lib.itb.ac.id |
| E-mail CKO | digilib@lib.itb.ac.id |
Print ...
Kontributor...
- Pembimbing 1 :
James McElvaney, BE.PhD.CEng.MICEPembimbing 2 :
Bambang I. Siswosoebroto, Ir.MSc.PhD.MIHTScan :
Yati Rohmah
(02-03-2006), Editor: yatir@#publisher#