Path: Top > S2-Theses > Highway Engineering and Development-FTSL > 1996

EFFECT OF A CLIMBING LANE ON SPEED, FLOW AND VEHICLE OPERATING COST

Master Theses from JBPTITBPP / 2017-09-27 15:21:02
Oleh : Ardhahni, S2 - Highway System Engineering
Dibuat : 1996-00-00, dengan 1 file

Keyword : mountainous terrain, climbing lane, Accident Cost

Di Indonesia ada banyak pegunungan, dimana banyak jalan yang dibangun mempunyai kelandaian yang curam. Transportasi yang cepat yang menjamin perjalanan yang lancar, cepat, selamat, dan ekonomis adalah salah satu aspek yang penting dalam pengembangan sektor transportasi. Lajur pendakian menampung kendaraan yang bergerak lambat dari arus utama. Kriteria untuk menetapkan kapan membangun suatu lajur pendakian berbeda diantara berbagai lembaga dan negara. Pada umumnya kriteria didasarkan hanya pada kinerja lalu lintas, yang mana mempunyai beberapa kerugian. Dibutuhkan suatu pendekatan yang lebih menyeluruh untuk membuat panduan rancangan, misal "Life Cycle Cost" yang menghitung biaya sosio ekonomis sepanjang umur jalan. Tujuan tesis ini adalah (i) menganalisis karakteristik lalu-lintas pada tanjakan yang curam dengan dan tanpa lajur pendakian, menjelaskan dan memodelkan pengaruh pada kecepatan dan volume lalu-lintas, (ii) Memperkirakan keuntungan dan biaya penyediaan lajur pendakian pada tanjakan yang diteliti dan akhirnya, (iii) Mengulas persyaratan lajur pendakian. Penelitian dilakukan pada jalan tol dua lajur dua arah di daerah perbukitan pada lokasi yang ditinjau dan tanpa lajur pendakian. Tanjakan dengan lajur pendakian mempunyai kelandaian 5,03% dan panjang 0,88 km. Tanjakan tanpa lajur pendakian mempunyai kelandaian 4,59% dan panjang 0,86 km. Metoda pengukuran dilapangan yaitu "short-base" dan "long-base". Seperti diharapkan proporsi gerakan menyiap pada arah mendaki adalah lebih tinggi dengan adanya lajur pendakian, yaitu 29% kendaraan ringan menyiap dengan adanya lajur pendakian dan 21% tanpa adanya lajur pendakian. Pada tanjakan dengan lajur pendakian 61% truk besar disiap sedangkan 31% disiap pada tanjakan tanpa lajur pendakian. Hubungan kecepatan dengan volume pada kedua lokasi menunjukkan bahwa pada volume yang sama, kecepatan kendaraan pada tanjakan arah mendaki dengan lajur pendakian adalah lebih tinggi dari pada tanpa lajur pendakian. Kecepatan kendaraan ringan yang diamati dalam arah mendaki pada kedua lokasi mendekati perkiraan kecepatan oleh model IHCM. Analisis ekonomi dengan "Life Cycle Cost Model" (LCC) menunjukkan bahwa untuk umur rencana 10 tahun pada LHR lebih dari 6000 lajur pendakian akan mengurangi biaya total.Untuk umur rencana 20 tahun lajur pendakian akan mengurangi biaya total pada LHR lebih besar dari 4000. Biaya operasi kendaraan dan nilai waktu sangat berpengaruh, sedangkan biaya lingkungan dan kecelakaan kecil pengaruhnya.

Deskripsi Alternatif :

Di Indonesia ada banyak pegunungan, dimana banyak jalan yang dibangun mempunyai kelandaian yang curam. Transportasi yang cepat yang menjamin perjalanan yang lancar, cepat, selamat, dan ekonomis adalah salah satu aspek yang penting dalam pengembangan sektor transportasi. Lajur pendakian menampung kendaraan yang bergerak lambat dari arus utama. Kriteria untuk menetapkan kapan membangun suatu lajur pendakian berbeda diantara berbagai lembaga dan negara. Pada umumnya kriteria didasarkan hanya pada kinerja lalu lintas, yang mana mempunyai beberapa kerugian. Dibutuhkan suatu pendekatan yang lebih menyeluruh untuk membuat panduan rancangan, misal "Life Cycle Cost" yang menghitung biaya sosio ekonomis sepanjang umur jalan. Tujuan tesis ini adalah (i) menganalisis karakteristik lalu-lintas pada tanjakan yang curam dengan dan tanpa lajur pendakian, menjelaskan dan memodelkan pengaruh pada kecepatan dan volume lalu-lintas, (ii) Memperkirakan keuntungan dan biaya penyediaan lajur pendakian pada tanjakan yang diteliti dan akhirnya, (iii) Mengulas persyaratan lajur pendakian. Penelitian dilakukan pada jalan tol dua lajur dua arah di daerah perbukitan pada lokasi yang ditinjau dan tanpa lajur pendakian. Tanjakan dengan lajur pendakian mempunyai kelandaian 5,03% dan panjang 0,88 km. Tanjakan tanpa lajur pendakian mempunyai kelandaian 4,59% dan panjang 0,86 km. Metoda pengukuran dilapangan yaitu "short-base" dan "long-base". Seperti diharapkan proporsi gerakan menyiap pada arah mendaki adalah lebih tinggi dengan adanya lajur pendakian, yaitu 29% kendaraan ringan menyiap dengan adanya lajur pendakian dan 21% tanpa adanya lajur pendakian. Pada tanjakan dengan lajur pendakian 61% truk besar disiap sedangkan 31% disiap pada tanjakan tanpa lajur pendakian. Hubungan kecepatan dengan volume pada kedua lokasi menunjukkan bahwa pada volume yang sama, kecepatan kendaraan pada tanjakan arah mendaki dengan lajur pendakian adalah lebih tinggi dari pada tanpa lajur pendakian. Kecepatan kendaraan ringan yang diamati dalam arah mendaki pada kedua lokasi mendekati perkiraan kecepatan oleh model IHCM. Analisis ekonomi dengan "Life Cycle Cost Model" (LCC) menunjukkan bahwa untuk umur rencana 10 tahun pada LHR lebih dari 6000 lajur pendakian akan mengurangi biaya total.Untuk umur rencana 20 tahun lajur pendakian akan mengurangi biaya total pada LHR lebih besar dari 4000. Biaya operasi kendaraan dan nilai waktu sangat berpengaruh, sedangkan biaya lingkungan dan kecelakaan kecil pengaruhnya.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiS2 - Highway System Engineering
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Pembimbing I: Willy Tumewu; Pembimbing II: Karl-Lennart Bang; Scan: Aep, Editor:

File PDF...