Path: Top > S2-Theses > Industrial Engineering and Management-FTI > 1992

MOTIVASI PILIHAN VOKASIONAL TENAGA EDUKATIF PTS, KAITANNYA DENGAN PEMANFAATAN WAKTU: studi kasus di Universitas Muhammadiyah Surakarta

Master Theses from JBPTITBPP / 2017-09-27 14:50:29
Oleh : Umi Zuraida, S2 - Industrial Engineering and Management
Dibuat : 1992-04-00, dengan 1 file

Keyword : motivation, vocational option, time management

Setiap individu mempunyai kebutuhan-kebutuhan yang senantiasa berusaha untuk dipenuhi. Salah satu upayanya adalah dengan bekerja, karena dengan bekerja, kebutuhan fisiologis, rasa aman, hubungan sosial, harga diri maupun perwujudan diri relatif terpenuhi. Salah satu jenis pekerjaan yang cukup diminati walaupun memberikan imbalan ekstrinsik berupa gaji yang relatif kecil adalah pekerjaan dosen atau tenaga edukatif. Pekerjaan ini memang mempunyai ciri lebih berorientasi pada pelayanan sosial dalam arti tidak mementingkan imbalan materi. Bagi tenaga edukatif yang bekerja di Perguruan Tinggi Negeri (PTN), kecilnya imbalan ekstrinsik tersebut dapat ditutup dengan luasnya kesempatan dan lahan untuk memanfaatkan waktu dibandingkan dengan tenaga edukatif yang bekerja di Perguruan Tinggi Swasta (PTS), lebih-lebih di PTS yang belum disamakan. Hal ini dikarenakan PTN diwajibkan untuk membina PTS, sehingga dosen-dosen PTN dapat memanfaatkan waktu dengan mengajar di PTS yang dibina. Selain itu, apabila instansi pemerintah membutuhkan tenaga ahli, mereka lebih percaya pada tenaga edukatif PTN. Namun demikian peminat menjadi tenaga edukatif PTS ternyata cukup tinggi. Fenomena lain yang terlihat adalah mayoritas tenaga edukatif yang memanfaatkan waktu cenderung berlebihan, sehingga Bering mengganggu tugas pokok terutama tugas mengajar yang relatif rutin setiap minggunya. Karenanya sangat menarik untuk mengetahui motivasi apa yang dominan dalam penentuan pilihan vokasional tenaga edukatif PTS Berta kaitan antara motivasi tersebut dengan pemanfaatan waktunya. Dari basil penelitian yang dilakukan pada tenaga edukatif tetap Persyarikatan di Universitas Muhammadiyah Surakarta yang kebetuhan sebagian besar (67,9%) juga merangkap sebagai tenaga administrasi pendidikan (menjabat jabatan struktural) Berta tanpa membedakan daerah asal, umur, dan jenis kelamin tenaga edukatif, diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Motivasi yang dominan dalam penentuan pilihan vokasional tenaga edukatif PTS adalah tingkat kebutuhan akan hubungan sosial disertai dengan minat pada pekerjaan sosial. Hasil ini sesuai dengan ciri dari pekerjaan dosen yang lebih berorientasi pada pelayanan sosial. Hasil ini juga menunjukkan bahwa variabel minat pada pekerjaan sosial secara signifikan memoderasi variabel dependen Pilihan Vokasional Tenaga Edukatif PTS dengan kebutuhan akan hubungan sosial; 2. Mereka yang mempunyai kebutuhan fisiologis tinggi, walaupun minatnya pada pekerjaan sosial, tidak akan melakukan pilihan vokasional tenaga edukatif PTS. Hal ini menunjukkan bahwa mereka cukup rasional, karena imbalan ekstrinsik yang diberikan pekerjaan ini memang relatif kecil, sehingga kemungkinan tidak dapat memenuhi kebutuhan fisiologisnya tenaga edukatif PTS secara negatif. Rupanya Pilihan Vokasional Tenaga Edukatif PTS dianggap tidak cukup memberi perlindungan terhadap kelangsungan pekerjaan bagi mereka yang mempunyai kebutuhan tinggi akan rasa aman, terutama bila bekerja pada PTS yang belum disamakan. Ketakutan tersebut kemungkinan karena kekhawatirannya bahwa suatu seat PTS tersebut akan dibubarkan. Sementara itu kecilnya imbalan ekstrinsik juga tidak memungkinkan mereka menabung untuk kepentingan masa depannya. Hal-hal tersebut ditambah dengan belum adanya tunjangan hari depan yang memadai semakin membuat mereka merasa tidak aman bila memilih menjadi tenaga edukatif PTS; 4. Motivasi pilihan vokasional tenaga edukatif PTS tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pemanfaatan waktu. Hasil ini menunjukkan bahwa pemanfaatan waktu kemungkinan dimotivasi oleh tingkat kebutuhan lain setelah mereka masuk menjadi tenaga edukatif PTS; 5. Pemanfaatan waktu ternyata dilakukan oleh mereka yang mempunyai kebutuhan akan perwujudan diri. Namun bila komitmen organisasinya tinggi, ternyata mereka justru tidak memanfaatkan waktu. Hal ini menunjukkan bahwa komitmen organisasi mampu meredam keinginan tenaga edukatif untuk memanfaatkan waktu diluar tugas pokoknya; 6. Kebutuhan akan rasa aman mempengaruhi pemanfaatan waktu secara negatif. Jadi kebutuhan akan rasa aman membuat tenaga edukatif cenderung tidak memanfaatkan waktu. Karena sampel penelitian kebetulan mayoritas adalah pejabat struktural, maka kemungkinan hasil tersebut disebabkan kekhawatiran tenaga edukatif akan kehilangan jabatan strukturalnya bila memanfaatkan waktu dengan bekerja sampingan; 7. Kebutuhan harga diri yang disertai dengan komitmen organisasi menyebabkan tenaga edukatif memanfaatkan waktunya. Jadi komitmen organisasi secara signifikan memoderasi hubungan antara variabel dependen Pemanfaatan Waktu dengan kebutuhan akan harga diri. Hasil ini kemungkinan dipengaruhi oleh anggapan masyarakat bahwa PTS merupakan Perguruan Tinggi kelas dua dibawah PTN, sehingga membuat tenaga edukatif PTS meresa kurang dihargai. Karenanya mereka memenuhi harga dirinya dengan bekerja sampingan. Berdasarkan temuan-temuan diatas, diharapkan pimpinan Perguruan Tinggi Swasta dapat menciptakan suasana kerja yang serasi dan harmonis diantara anggotanya sehingga kebutuhan akan hubungan sosial dari tenaga edukatif dapat terpenuhi. Disamping itu pimpinan Perguruan Tinggi Swasta hendaknya senantiasa berupaya meningkatkan komitmen organisasi tenaga edukatifnya agar mereka tidak memanfaatkan waktu secara berlebihan, serta menciptakan kegiatan dan kesempatan-kesempatan yang memungkinkan tenaga edukatif memanfaatkan waktunya didalam organisasi. Penelitian ini seyogyanya diperluas, baik dalam jumlah sampel maupun jumlah PTS yang diteliti, dibedakan antara asal daerah, umur, Janis kelamin serta sudah punya/belum pekerjaan sebelum menjadi tenaga edukatif tetap PTS, dengan demikian dapat diperoleh temuan-temuan yang lebih tajam, meyakinkan dan berlaku umum.

Deskripsi Alternatif :

Setiap individu mempunyai kebutuhan-kebutuhan yang senantiasa berusaha untuk dipenuhi. Salah satu upayanya adalah dengan bekerja, karena dengan bekerja, kebutuhan fisiologis, rasa aman, hubungan sosial, harga diri maupun perwujudan diri relatif terpenuhi. Salah satu jenis pekerjaan yang cukup diminati walaupun memberikan imbalan ekstrinsik berupa gaji yang relatif kecil adalah pekerjaan dosen atau tenaga edukatif. Pekerjaan ini memang mempunyai ciri lebih berorientasi pada pelayanan sosial dalam arti tidak mementingkan imbalan materi. Bagi tenaga edukatif yang bekerja di Perguruan Tinggi Negeri (PTN), kecilnya imbalan ekstrinsik tersebut dapat ditutup dengan luasnya kesempatan dan lahan untuk memanfaatkan waktu dibandingkan dengan tenaga edukatif yang bekerja di Perguruan Tinggi Swasta (PTS), lebih-lebih di PTS yang belum disamakan. Hal ini dikarenakan PTN diwajibkan untuk membina PTS, sehingga dosen-dosen PTN dapat memanfaatkan waktu dengan mengajar di PTS yang dibina. Selain itu, apabila instansi pemerintah membutuhkan tenaga ahli, mereka lebih percaya pada tenaga edukatif PTN. Namun demikian peminat menjadi tenaga edukatif PTS ternyata cukup tinggi. Fenomena lain yang terlihat adalah mayoritas tenaga edukatif yang memanfaatkan waktu cenderung berlebihan, sehingga Bering mengganggu tugas pokok terutama tugas mengajar yang relatif rutin setiap minggunya. Karenanya sangat menarik untuk mengetahui motivasi apa yang dominan dalam penentuan pilihan vokasional tenaga edukatif PTS Berta kaitan antara motivasi tersebut dengan pemanfaatan waktunya. Dari basil penelitian yang dilakukan pada tenaga edukatif tetap Persyarikatan di Universitas Muhammadiyah Surakarta yang kebetuhan sebagian besar (67,9%) juga merangkap sebagai tenaga administrasi pendidikan (menjabat jabatan struktural) Berta tanpa membedakan daerah asal, umur, dan jenis kelamin tenaga edukatif, diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Motivasi yang dominan dalam penentuan pilihan vokasional tenaga edukatif PTS adalah tingkat kebutuhan akan hubungan sosial disertai dengan minat pada pekerjaan sosial. Hasil ini sesuai dengan ciri dari pekerjaan dosen yang lebih berorientasi pada pelayanan sosial. Hasil ini juga menunjukkan bahwa variabel minat pada pekerjaan sosial secara signifikan memoderasi variabel dependen Pilihan Vokasional Tenaga Edukatif PTS dengan kebutuhan akan hubungan sosial; 2. Mereka yang mempunyai kebutuhan fisiologis tinggi, walaupun minatnya pada pekerjaan sosial, tidak akan melakukan pilihan vokasional tenaga edukatif PTS. Hal ini menunjukkan bahwa mereka cukup rasional, karena imbalan ekstrinsik yang diberikan pekerjaan ini memang relatif kecil, sehingga kemungkinan tidak dapat memenuhi kebutuhan fisiologisnya tenaga edukatif PTS secara negatif. Rupanya Pilihan Vokasional Tenaga Edukatif PTS dianggap tidak cukup memberi perlindungan terhadap kelangsungan pekerjaan bagi mereka yang mempunyai kebutuhan tinggi akan rasa aman, terutama bila bekerja pada PTS yang belum disamakan. Ketakutan tersebut kemungkinan karena kekhawatirannya bahwa suatu seat PTS tersebut akan dibubarkan. Sementara itu kecilnya imbalan ekstrinsik juga tidak memungkinkan mereka menabung untuk kepentingan masa depannya. Hal-hal tersebut ditambah dengan belum adanya tunjangan hari depan yang memadai semakin membuat mereka merasa tidak aman bila memilih menjadi tenaga edukatif PTS; 4. Motivasi pilihan vokasional tenaga edukatif PTS tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pemanfaatan waktu. Hasil ini menunjukkan bahwa pemanfaatan waktu kemungkinan dimotivasi oleh tingkat kebutuhan lain setelah mereka masuk menjadi tenaga edukatif PTS; 5. Pemanfaatan waktu ternyata dilakukan oleh mereka yang mempunyai kebutuhan akan perwujudan diri. Namun bila komitmen organisasinya tinggi, ternyata mereka justru tidak memanfaatkan waktu. Hal ini menunjukkan bahwa komitmen organisasi mampu meredam keinginan tenaga edukatif untuk memanfaatkan waktu diluar tugas pokoknya; 6. Kebutuhan akan rasa aman mempengaruhi pemanfaatan waktu secara negatif. Jadi kebutuhan akan rasa aman membuat tenaga edukatif cenderung tidak memanfaatkan waktu. Karena sampel penelitian kebetulan mayoritas adalah pejabat struktural, maka kemungkinan hasil tersebut disebabkan kekhawatiran tenaga edukatif akan kehilangan jabatan strukturalnya bila memanfaatkan waktu dengan bekerja sampingan; 7. Kebutuhan harga diri yang disertai dengan komitmen organisasi menyebabkan tenaga edukatif memanfaatkan waktunya. Jadi komitmen organisasi secara signifikan memoderasi hubungan antara variabel dependen Pemanfaatan Waktu dengan kebutuhan akan harga diri. Hasil ini kemungkinan dipengaruhi oleh anggapan masyarakat bahwa PTS merupakan Perguruan Tinggi kelas dua dibawah PTN, sehingga membuat tenaga edukatif PTS meresa kurang dihargai. Karenanya mereka memenuhi harga dirinya dengan bekerja sampingan. Berdasarkan temuan-temuan diatas, diharapkan pimpinan Perguruan Tinggi Swasta dapat menciptakan suasana kerja yang serasi dan harmonis diantara anggotanya sehingga kebutuhan akan hubungan sosial dari tenaga edukatif dapat terpenuhi. Disamping itu pimpinan Perguruan Tinggi Swasta hendaknya senantiasa berupaya meningkatkan komitmen organisasi tenaga edukatifnya agar mereka tidak memanfaatkan waktu secara berlebihan, serta menciptakan kegiatan dan kesempatan-kesempatan yang memungkinkan tenaga edukatif memanfaatkan waktunya didalam organisasi. Penelitian ini seyogyanya diperluas, baik dalam jumlah sampel maupun jumlah PTS yang diteliti, dibedakan antara asal daerah, umur, Janis kelamin serta sudah punya/belum pekerjaan sebelum menjadi tenaga edukatif tetap PTS, dengan demikian dapat diperoleh temuan-temuan yang lebih tajam, meyakinkan dan berlaku umum.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiS
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Pembimbing I: Ubuh Buchara Hidayat; Pembimbing II: Indriyanti Sunarya; Scan: Agus, Editor: agus salim