Path: TopMemberagus@unix.lib.itb.ac.id

CROSSING BEHAVIOUR AND GAP ACCEPTANCE AT AN UNSIGNALISED INTERSECTION IN BANDUNG

Master Theses from / 2005-03-04 22:00:28
Oleh : DEWANTI, S2 - Highway System Engineering
Dibuat : 1992-03-00, dengan 1 file

Keyword : lalu-lintas, jalan, sepeda motor, operation, study, Bandung
Nomor Panggil (DDC) : T 625.794 DEW
Sumber pengambilan dokumen : 19920672

CROSSING BEHAVIOUR AND GAP ACCEPTANCE AT AN UNSIGNALISED INTERSECTION IN BANDUNG, Dewanti, 1992, Program Sistem dan Teknik Jalan Raya, Program Pascasarjana, Institut Teknologi Bandung. Pengoperasian suatu persimpangan jalan tanpa lampu pengatur lalu-lintas berhubungan dengan perilaku lalu-lintas pada pergerakan memotong atau bergabung dengan arus lalu-lintas. Perilaku lalu-lintas mencerminkan cara pengemudi menjalankan kendaraannya dan interaksi. satu kendaraan dengan lainnya. Penelitian ini mencakup kendaraan ringan dan sepeda motor yang memotong arus lalu-lintas dan dilakukan pada siang hari di sebuah persimpangan jalan tanpa lampu pengatur lalu-lintas (Aceh-Martadinata) di kota Bandung. Perilaku lalu-lintas dikelompokkan dalam 6 kelas, meliputi : tanpa gangguan, mendapat prioritas, memaksa, mengikuti kendaraan yang memaksa, mendapat 'gap' dan mengikuti kendaraan yang mendapat 'gap'. Dari kendaraan dengan kelas mendapat 'gap' dilakukan penelitian penerimaan 'gap' kritis. 'Gap' adalah selang waktu antara dua kendaraan di jalan utama yang dipertimbangkan oleh pengemudi ketika memasuki persimpangan dari jalan yang lebih kecil. Data 'gap' dan 'lag' dikumpulkan serta digabung bersama-sama dalam pelaksanaan penelitian penerimaan 'gap'. Penggabungan ini menghasilkan data yang bias akibat perbedaan antara prosentase 'gap' yang diterima pengemudi yang hati-hati dengan yang tidak hati-hati. Semakin hati-hati seorang pengemudi, Semakin banyak 'gap' yang ditolaknya dan demikian sebaliknya. Data yang bias menyebabkan kurva kumulatif normal bergeser ke kanan. Untuk mengilangkan bias diperlukan suatu koreksi dengan cara mengurangi nilai rata-rata 'gap' kritis dengan qs dimana q adalah arus lalu-lintas jalan utama dan s2 adalah variasi distribusi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jalan Aceh memiliki moda operasi 'gapping' sedangkan Martadinata mendapat prioritas. Tingkat anus Ialu-lintas dan pengoperasiannya (satu arah atau dua arah) mempengaruhi distribusi perilaku lalu-lintas. Distribusi perilaku kendaraan ringan di jalan Martadinata berbeda sekali dengan sepeda motor. Besarnya 'gap' kritis yang diterima dipengaruhi oleh perilaku lalu-lintas. Perhitungan 'gap' hanya tepat bila diterapkan pada jalan dengan operasi 'gapping'.

Deskripsi Alternatif :

CROSSING BEHAVIOUR AND GAP ACCEPTANCE AT AN UNSIGNALISED INTERSECTION IN BANDUNG, Dewanti, 1992, Program Sistem dan Teknik Jalan Raya, Program Pascasarjana, Institut Teknologi Bandung. The operation of unsignalised intersection is concerned to traffic behaviour in crossing or merging movement. Traffic behaviour indicate the way drivers handling their vehicles and the interaction to each other. This study involved crossing light vehicles and motor cycles and conducted at day time on an unsignalised intersection (Aceh - Martadinata) in Bandung. Traffic behaviour was devided into six classes, namely unimpeded, given priority, forcing, follow forcing, gapping and follow gapping. From the fraction of gapping class, the critical gap acceptance was investigated. Gap is the time interval between two major road vehicles that is considered by drivers when entering a priority intersection from a minor road. Lag is defined as an unexpired portion of a gap which remains when a minor road drivers arrives at the intersection. Gap and lag data were collected and pooled together in gap acceptance study. This combination created biased data due to difference percentage of gap acceptance between cautious driver and incautious one. The more cautious driver, the more gaps rejected and vice versa. Biased data created displacement of unbiased normal cumulative curve to the right. To eliminate bias, a correction was required by subtracting the value of mean critical gap with gs where q is major road traffic flow (veh/sec) and sis the variance of the distribution. This research foundvout that Aceh approach was in gapping operation mode and Martadinata was in given priority one. Traffic flow level and traffic operation (one or two-way traffic) affected the distribution of traffic behaviour. This distribution of light vehicles behaviour was different significantly to that of motor cycles on Martadinata approach. The magnitude of critical gap was influenced by the performance of traffic. Its calculation was suitable for an approach with gapping operation mode.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID Publisher
OrganisasiS2 - Highway System Engineering
Nama KontakYoka Adam Nugrahaa, S.Sos.
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon022 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Pembimbing I : Idwan Santoso
    Pembimbing II : Nicholas W. Marler
    Pembimbing III : Djuanda Suraatmadja
    Scan : Agus Cuncun, Editor: agus@

Download...