Path: TopS2-ThesesUrban and Regional Planning-SAPPK2009

KAJIAN SPATIAL MISMATCH PADA PERGERAKAN BELAJAR DI KOTA-KOTA SATELIT DI METROPOLITAN BANDUNG

SPATIAL MISMATCH STUDY ON SCHOOL TRIP OCCURING IN SATELITE CITIES OF BANDUNG METROPOLITAN AREA

Master Theses from JBPTITBPP / 2017-10-09 10:25:30
Oleh : R. NATHALIA DIANA PITALOKA (NIM 25407030), S2 - Regional and City Planning
Dibuat : 2009, dengan 7 file

Keyword : Metropolitan Bandung, pergerakan belajar, spatial mismatch, struktur ruang polisentris

Spatial mismatch hypothesis merupakan suatu fenomena ketimpangan spasial antara permukiman dengan pusat-pusat pertumbuhan, khususnya lokasi tempat kerja. Hal ini menyebabkan pergerakan bekerja menjadi lebih panjang, lebih lama dan membutuhkan biaya transportasi yang lebih besar. Selama ini studi mengenai spatial mismatch yang berkembang di seluruh dunia, cenderung menekankan pada pergerakan bekerja. Namun pergerakan rutin yang memberikan dampak signifikan terhadap sistem pergerakan lalu lintas di kota-kota besar Indonesia bukan hanya pergerakan bekerja tetapi juga pergerakan belajar. Selain itu, studi sebelumnya menunjukkan bahwa di Metropolitan Bandung, dibandingkan pergerakan bekerja, pola pergerakan belajar mempunyai hubungan dengan struktur ruang. Maka dari itu menjadi menarik untuk menguji spatial mismatch terhadap pergerakan belajar. Pertama, karena pemilihan lokasi tempat tinggal merupakan keputusan yang diambil orang tua mereka. Kedua, kualitas sekolah yang tidak sama. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Hermawan diketahui bahwa terdapat sekitar 25% siswa di sekolah-sekolah favorit di Kota Bandung yang berasal dari luar Kota Bandung, padahal terdapat kecenderungan perkembangan wilayah Metropolitan Bandung yang sudah menuju ke bentuk polisentris. Penelitian ini melakukan analisis terhadap pola pemanfaatan infrastruktur pendidikan oleh masyarakat di kota-kota satelit di wilayah Metropolitan Bandung serta melihat bagaimana dampaknya terhadap pola pergerakan belajar yang mereka alami. Analisis tersebut dilakukan untuk melihat berapa besar spatial mismatch yang terjadi di Metropolitan Bandung serta bagaimana fungsi kota satelit di Metropolitan Bandung sebagai subpusat dalam struktur ruang Metropolitan Bandung yang sudah menuju ke bentuk polisentris. Berdasarkan hasil analisis terhadap data survei primer 475 rumah tangga (598 pergerakan belajar) di kota satelit Metropolitan Bandung dan sekitarnya, didapatkan dua kesimpulan utama. Pertama, spatial mismatch yang terjadi di wilayah studi semakin tinggi berdasarkan jenjang pendidikan. Kedua, berdasarkan orientasi pergerakan belajar, diketahui bahwa hanya Jatinangor/Tanjungsari yang sudah mulai berfungsi sebagai kota satelit dan subpusat pelayanan untuk jenjang pendidikan bagi wilayah sekitarnya, meskipun hanya pada jenjang pendidikan SD dan SMP.

Deskripsi Alternatif :

Spatial mismatch hypothesis is the phenomenon of a spatial discrepancy between settlement and growth centers, particularly the location of the workplace. This has caused work trip become more longer in distance, more longer in time, and require greater transportation cost. The studies taken for spatial mismatch all around the world inclined to emphasizing on work trip. Hence, the routin movement that provides a significant impact on traffic movement systems in big cities in Indonesia is not only work trip but also school trip. There are already several studies that shows that in Bandung Metropolitan Area, compared to the work trip, school trip patterns have connection with urban structure. Therefore, it is become interesting to test the spatial mismatch on school trip in Bandung Metropolitan Area. First, because on school trip, decision to choose their residence is made by their parents. Secondly, the different school quality in Indonesia. Based on the research done by Hermawan, it is known that about 25% students at favourite school in Bandung came from outside the city of Bandung despite the fact the tendency of Bandung Metropolitan Area is polycentric urban structure. This study analyzes the pattern of school utilization in the satellite cities in Bandung Metropolitan Area and observing the impact on the movement patterns. This analysis meant to measure how large spatial mismatch on school trip occurring in Bandung Metropolitan Area, and how the function of the satellite city as a subcenter of a polycentric urban structure in Bandung Metropolitan Area. Based on the results of the primary survey data analysis on the 475 households (598 school trip) in the satellite cities (and its surrounding) in Bandung Metropolitan Area, the analysis concludes on two main conclusions. First, the spatial mismatch that occurred in the study area based on the levels of education. Secondly, based on the orientation of the school trip, only Jatinangor/Tanjungsari which have started functioning as a satellite city and a subcenter of education services to the surrounding area, despite the educational level only consists of the elementary education and junior high schools.

Copyrights : Copyright Â(c) 2001 by ITB Central Library. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Beri Komentar ?#(1) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiS2 - Regional and City Planning
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id