Path: Top > S2-Theses > Business Administration-SBM > 2009

PUSAT DATA GENERASI LANJUT: SEBUAH TINJAUAN KASUS TRANSFORMASI PUSAT DATA CHEVRON INDONESIA MENUJU PUSAT DATA DENGAN EFISIENSI ENERGI

Next Generation Data Center: A Case Study in Transformation of Chevron Indonesia Data Center into Energy Efficient Data Center

Master Theses from JBPTITBPP / 2017-09-27 15:30:51
Oleh : RIZQI CHAIDAR STUDIAILMI RADJAB (NIM: 29107153) ; Pembimbing: Lusie Indrawati Susantono, SH, MBA, LLM, S2 - Business Administration
Dibuat : 2009, dengan 7 file

Keyword : Corporate data centers, green data center, energy efficient data center
Subjek : Data center

Sejak dideklarasikannya Piagam Kyoto (Kyoto Protocol) pada Desember 1997 dan seiring dengan meningkatnya kesadaran akan isu-isu lingkungan dan sejumlah peringatan mengenai hubungan antara peningkatan kebutuhan energi dengan pelepasan gas rumah kaca (atau greenhouse gas emissions), Pemerintah dan kalangan bisnis mulai lebih memusatkan perhatian dan strategi bersama untuk lebih menefisienkan penggunaan energi dalam operasional sehari-hari. Piagam Kyoto pada dasarnya adalah upaya PBB untuk menstabilkan dan merekonstruksi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfir pada level yang dapat menghindari manusia dari bahaya perubahan atau penyimpangan sistem iklim dunia. Piagam ini memiliki kekuatan hukum yang mengikat secara internasional dimana lebih dari 183 negara (termasuk Indonesia yang telah menandatanganinya pada tahun 1998 dan meratifikasinya pada tahun 2004)1 yang berpartisipasi memiliki komitmen untuk melakukan efisiensi dan konservasi penggunaan energi guna mengurangi rata-rata 5.2% emisi karbon dan gas rumah kaca dari level yang ada di tahun 1990 pada tahun 2012.



Untuk mencapai target tersebut efisiensi penggunaan energi saat ini telah menjadi salah satu program kerja penting sejumlah perusahaan besar dunia yang mencakup segala lini usaha dalam perusahaan; termasuk Departemen Teknologi Informasi yang salah satu fungsinya adalah membangun dan mengoperasikan pusat data (atau Data Center) perusahaan. Pusat Data (atau lebih sering disebut Data Center atau disingkat DC) suatu perusahaan adalah pengguna energi listrik yang signifikan; kedua terbesar setelah biaya tenaga kerja IT. Kebutuhan yang terus meningkat akan kemampuan komputasi bisnis suatu perusahaan dalam menghadapi era Informasi Teknologi telah mendorong meningkatnya konsumsi energi listrik – baik konsumsi secara langsung untuk mensuplai kebutuhan perangkat komputer maupun konsumsi secara tidak langsung yang berhubungan dengan fasilitas infrastruktur Data Center. Akan menjadi suatu konsekuensi besar bagi bisnis, baik dari sisi waktu maupun biaya, saat bisnis membutuhkan kemampuan komputasi terbaru harus terkendala dengan ketidakmampuan DC perusahaan tersebut dalam mengakomodasi perangkat komputer baru (seperti server atau media penyimpanan data – data storage) karena ketiadaan pasokan energi listrik yang mencukupi. Situasi akan menjadi lebih kritis sekiranya pasokan listrik yang ada tidak dapat mencukupi kenaikan kebutuhan energi listrik untuk fasilitas pendingin ruangan seiring dengan meningkatkan pengeluaran panas akibat penambahan perangkat komputasi. Di sisi lain, banyak perusahaan, dengan dalih untuk ekpansi di masa datang,mengalokasikan sejumlah besar pasokan energi listrik ke dalam data center dimana kebutuhan sesungguhnya jauh di bawah pasokan yang ada walau untuk lima tahun ke depan. Kelebihan pasokan ini tentunya hanya menciptakan pemborosan biaya maupun sumber daya pembangkit yang pada akhirnya akan meningkatkan emisi gas rumah kaca.



Didorongkan oleh tanggung-jawab terhadap lingkungan tersebut maka sejumlah pakar Informasi Teknologi merumuskan sejumlah inisiatif maupun langkah-langkah praktis bagaimana mentransformasi operasi data center menjadi lebih efisien dan ramah lingkungan atau menjadikan pusat data yang lebih hijau (green data center).Karya Tulis ini adalah sebuah studi kasus (case study) mengenai langkah-langkah transformasi, baik secara teknologi maupun perhitungan komersial, Data Center di Chevron Indonesia menjadi sebuah Data Center yang efisien dalam penggunaan energi dan konsekuensi lanjutan dalam hal manajemen operasional sehari-hari.

Deskripsi Alternatif :

Since the declaration of Kyoto Protocol on December 1997 and after years of being viewed by many as a concern for a relative few, environmental issues are now front-page news around the world. Faced with increasingly urgent warnings about the consequences of the projected rise in both energy demands and greenhouse gas emissions, governments and businesses alike are now focusing more attention than ever on the need to improve energy efficiency. Kyoto Protocol is a continuing effort by United Nations to stabilize and reconstruct the concentration of greenhouse gases in the atmosphere to the level that can avoid human being from the danger of climate change. The protocol has international legal binding whereas more than 183 participating countries (including Indonesia who signed it in 1998 and ratified it in 2004) who have strong commitment to conserve and efficiently utilizing energy in order to bring an average reduction of 5.2% in carbon emission and greenhouse gases from 1992 level until year 2012.



To reach the target, energy efficient program has become one of primary work targets for many companies in the world that covering all business functions within the companies; including Information Technology Department who, one of its functions, develops and operates company’s data center. Corporate data centers are well known as one of significant power users. If the company’s data center cannot accommodate new servers or storage because of power availability or infrastructure (cooling system) constraints, bringing new capabilities online can become a major challenge in terms of both time and money. Although labor costs still dominate the expenses of operating a modern data center, energy costs, in the form of electrical power bill, typically are the second-largest expense. The continuing increase in computing demand drives energy costs — both direct power consumption by servers and other IT equipment, and indirect consumption by facilities. The IT groups, who are responsible for building and managing data centers, feel a growing responsibility to transform data centers operations into a more efficient and environmentally-friendly footing and advance toward a green data center. A green data center can be described as the physical structure designed for the storage, management and dissemination of data where the mechanical, lighting, electrical and computer systems are designed for maximum energy efficiency and minimum environmental impact.



Transforming or retrofitting an existing data center into energy efficient data center can be a challenging task. It all requires well interaction with demanding customers, a constant effective communication with management people that have no such area of expertise, an extra care in solving difficult problem, and high passion under rigorous yet stressful environment.



This paper is to provide an overview of energy efficient or green data center and to discuss whether such initiative is applicable in term of technology and costs to transform an old data center at Chevron Indonesia Company.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiS
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id