Path: Top > S2-Theses > Business Administration-SBM > 2018

ANALISA KINERJA KEUANGAN DAN ECONOMIC VALUE ADDED PADA PERUSAHAAN TAMBANG BATUBARA DI INDONESIA (Studi Kasus: Perbandingan antara PT Bukit Asam Tbk dan PT Adaro Energy Tbk pada tahun 2013 hingga 2017)

ANALYSIS OF FINANCIAL PERFORMANCE AND ECONOMIC VALUE ADDED IN COAL MINING COMPANIES IN INDONESIA (Case Study: PT Bukit Asam Tbk Compared to PT Adaro Energy Tbk from 2013 to 2017)

Master Theses from JBPTITBPP / 2018-06-09 11:58:33
By : RIYAZSA SAVITRIA (NIM 29316376), S2 - Business Administration-SBM
Created : 2018-06-09, with 1 files

Keyword : Kinerja Keuangan, Rasio Keuangan, Economic Value Added, Perusahaan Tambang Batubara, Perusahaan Sehat.

Sejak tahun 2012, industri batubara harus menghadapi fluktuasi harga yang cenderung menurun yang diakibatkan oleh kondisi global ekonomi yang memburuk. Kondisi ini berubah sejak tahun 2017 yang membuat industri batubara menjadi sangat menarik. Perusahaan tambang batubara di Indonesia saling berkompetisi untuk menunjukkan kinerja terbaik. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) adalah perusahaan milik negara di sektor tambang batubara yang selalu memberikan kinerja keuangan terbaik dari tahun ke tahun dan didirikan untuk mendukung program pemerintah. Perusahaan ini memiliki cadangan batubara terbesar yang terletak di Sumatera Selatan dengan nisbah kupas yang rendah. Namun, PT Adaro Energy Tbk (Adaro Energy) sebagai perusahaan swasta yang memiliki modal sangat besar, mulai memperlihatkan kinerjanya melalui integrasi vertikal dalam kegiatan operasionalnya yang berhasil mengurangi biaya operasional dalam kegiatan pertambangannya. Perusahaan yang dikenal sebagai batubara ramah lingkungan ini siap berkompetisi dengan PTBA. Dengan adanya persaingan tersebut, Analisa tentang kinerja keuangan kedua perusahaan diperlukan untuk menentukan perusahaan batubara terbaik. Pengukuran yang dirumuskan dalam Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) KEP MEN 100 / MBU / 2002 digunakan untuk mengukur kinerja keuangan perusahaan-perusahaan ini. Terdapat 8 indikator keuangan yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan, Return on Equity (ROE), Return on Investments (ROI), Rasio kas, Rasio lancar, Periode pengumpulan piutang, Perputaran persediaan, Perputaran total aset, dan rasio antara total ekuitas dan total aset. Ada 3 tingkatan dalam kesehatan keuangan, perusahaan sehat (AAA, AA, A), kurang sehat (BBB, BB, B), dan tidak sehat (CCC, CC, C). Namun, analisis rasio keuangan saja tidak cukup. Perusahaan dan investor harus mempertimbangkan resiko dari investasi yang mereka lakukan. Oleh karena itu, analisis Economic Value Added (EVA) digunakan untuk mengukur nilai tambah yang dihasilkan oleh suatu perusahaan dengan mengurangi biaya modal yang timbul sebagai akibat dari investasi yang dilakukan. Hasilnya, PTBA memiliki kinerja keuangan yang baik, yang dikategorikan sebagai perusahaan sehat dengan tingkat AAA sejak 2013 hingga 2017. Perusahaan ini berhasil mempertahankan kinerjanya yang baik melalui kontrak jangka panjang dengan pasar domestik dan menurunkan nisbah kupas ketika terjadi pelemahan ekonomi global pada tahun 2015. Untuk meningkatkan kinerja tersebut, PTBA dapat menerapkan integrasi vertikal dalam kegiatan operasinya seperti yang dilakukan oleh Adaro. Di sisi lain, Adaro juga menunjukkan kondisi sehat meskipun tingkat kesehatannya tidak lebih baik dibandingkan dengan PTBA, yang mendapat tingkat AA dari tahun 2013 hingga 2017, kecuali pada tahun 2015 Adaro hanya mendapatkan level A. Kinerja Adaro memburuk di tahun 2015 karena permintaan ekspor yang rendah. Kinerja kedua perusahaan juga diukur dengan EVA. PTBA menghasilkan EVA sejak tahun 2013 hingga 2017 yang besarnya berfluktuasi dari tahun ke tahun, sementara Adaro belum berhasil menciptakan nilai tambah yang disebabkan oleh investasinya terlalu besar, dan pendapatannya tidak dapat memberikan nilai tambah sejak tahun 2013. Perusahaan ini harus memperhatikan porsi dari investasi dan meningkatkan keuntungan dengan mengembangkan inovasi-inovasi baru melalui pembentukan lini bisnis baru.

Description Alternative :

Since 2012, coal industry has to face the fluctuation of coal price which tend to decrease due to the poor condition in the global economic. This condition rebound since 2017 which makes coal mining industry is very attractive. Coal mining companies in Indonesia compete with each other to show a good performance. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) is a state-owned company in coal mining sector which always give the best financial performance year to year and was established to support government program. It has the largest coal reserves which located in South Sumatera with low strip ratio. However, PT Adaro Energy Tbk (Adaro Energy) as a private company which has big capital, begin to show off through its vertical integration in supply chain which succeed to reduce its operation cost. This company which well-known as friendly coal is ready to beat PTBA. In order to the competition among them, calculate their financial performances is needed to determine the best coal company. Measurement formulated in Decree of Ministry of State Owned Company (BUMN) KEP MEN 100/MBU/2002 is used to measure the financial performances of these companies. There are eight financial indicators, which could be used to measure the company performances, the Return on Equity (ROE), Return on Investments (ROI), Cash Ratio, Current Ratio, Collection Period, Inventory Turnover, Total Assets Turnover, and Equity-to-Asset Ratio. There are 3 levels of financial health, they are healthy (AAA, AA, A), less healthy (BBB, BB, B), and not healthy (CCC, CC, C). However, analysis of financial ratio is not sufficient. Company and investor should consider about their risk from their investment. Therefore, analysis of Economic Value Added (EVA) is used to measure the value added produced by a company by reducing the cost of capital that arises as a result of the investments made. The result of these calculations is PTBA has good financial performances, which categorized as a healthy company with level AAA since 2013 until 2017. This company succeeds to maintain its good performance through long-term contract with domestic market and in 2015, lowering the strip ratio when the weakening of global economic happened. Improving its performance can be done by implemented vertical integration in value chain as Adaro Energy did. In the other sides, Adaro Energy also shows healthy condition although the level of healthy was less than PTBA, which got AA level from 2013 to 2017, except in 2015 the company only got level A. The performance of Adaro Energy was getting worse in 2015 due to lower demand in export market. The performance of both companies was also measured by EVA. PTBA generates EVA from 2013 to 2017 which the amount fluctuated year to year, while Adaro Energy cannot create any value creation due to its investment was too huge, and the revenue cannot give the added value since 2013. The company should concern to its investment and gain more profit by conduct long-term contract with domestic market.

Copyrights : Copyright (c) 2001 by Perpustakaan Digital ITB. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Give Comment ?#(0) | Bookmark

PropertyValue
Publisher IDJBPTITBPP
OrganizationS2 - Business Administration-SBM
Contact NameUPT Perpustakaan ITB
AddressJl. Ganesha 10
CityBandung
RegionJawa Barat
CountryIndonesia
Phone62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
Administrator E-maildigilib@lib.itb.ac.id
CKO E-mailinfo@lib.itb.ac.id

Print ...

Contributor...

  • Pembimbing: Dr. Wiwiek M. Daryanto, SE-Ak, MM, CMA, Editor: Roosalina Vanina Viyazza

Downnload...