Path: TopS2-ThesesEarth Sciences-FITB2008

STUDI INTERAKSI LAUT-ATMOSFER TERHADAP CURAH HUJAN MENGGUNAKAN SKENARIO MODEL KOPEL (STUDI KASUS MALUKU UTARA)

SEA-AIR INTERACTION ON RAINFALL STUDY USING COUPLED MODELING SCENARIO (CASE STUDY NORTH MOLUCCA)

Master Theses from JBPTITBPP / 2017-09-27 14:33:18
Oleh : RESSY OKTIVIA (NIM 22405002), S2 - Earth Sciences
Dibuat : 2008, dengan 7 file

Keyword : sea-air interaction, ocean model, atmospheric model, coupled model simulation, masking, mean difference significance, lead-lag correlation

Sebagai benua maritim, Indonesia dikenal memiliki variasi iklim lokal yang beragam. Maluku Utara merupakan salah satu wilayah yang sering disebut memiliki variasi iklim lokal yang kuat. Data pengamatan menunjukkan bahwa distribusi curah hujan bulanan wilayah Maluku Utara mengalami maksimum pada sekitar pertengahan tahun, dan dikenal dengan pola anti monsunal atau tipe lokal. Pola curah hujan wilayah Maluku Utara yang demikian belum banyak yang meneliti, sehingga perlu dilakukan studi yang lebih banyak lagi.

Pada studi ini disimulasikan model laut global dari Max Planck Institute-Ocean Model dan model atmosfer regional dari Max Planck Institute-Regional Climate Model atau Regional Atmospheric Model. Kedua model digabung menggunakan OASIS coupler yang berfungsi mensinkronkan waktu selama kopling atau pertukaran data. Pertukaran data terjadi secara aktif di permukaan laut dan berlangsung setiap 6 jam (langkah waktu kopel). Data masukan yang digunakan dalam simulasi model kopel berasal dari data reanalisis European Centre for Medium-Range Weather Forecasts, ERA15. Simulasi model kopel dijalankan dengan dua skenario. Pada skenario pertama, yang juga digunakan sebagai model kontrol, seluruh domain model atmosfer memperoleh data temperatur permukaan laut, Sea Surface Temperature-SST, dari hasil perhitungan model laut. Ini berarti bahwa pada seluruh domain model atmosfer terjadi proses interaksi dari laut ke atmosfer (coupled on). Sedangkan pada skenario kedua diterapkan metoda masking, yaitu memisahkan mana daerah yang dikopel dan mana daerah yang tidak dikopel. Caranya dengan mengkondisikan SST yang digunakan di wilayah Maluku Utara berasal dari data ERA15, sehingga di wilayah tersebut tidak terjadi proses interaksi dari laut ke atmosfer (coupled off). Sementara pada domain model atmosfer lainnya tetap terjadi proses interaksi dari laut ke atmosfer.

Berdasarkan variabilitas SST lokal yang diterapkan pada simulasi model kopel diperoleh hasil bahwa distribusi curah hujan antartahunan dengan skenario coupled on lebih baik daripada skenario coupled off. Variabilitas SST lokal tersebut berpengaruh pada perbedaan karakteristik tipe hujan, dalam hal ini, yang lebih dipengaruhi adalah perbedaan tipe hujan konvektif/efek lokal. Hal ini mengindikasikan bahwa pola atau distribusi curah hujan wilayah Maluku Utara lebih kuat dipengaruhi oleh iklim laut lokal dibanding efek skala luas seperti sirkulasi angin regional. Pernyataan tersebut juga didukung dari analisis mean difference significance coupled off terhadap coupled on. Diperoleh bahwa distribusi beda nyata curah hujan antartahunan lebih dipengaruhi oleh distribusi beda nyata tipe hujan konvektif antartahunan, sementara tipe hujan stratiform tidak berbeda nyata. Perbedaan tipe hujan konvektif dan tipe hujan stratiform serta distribusi beda nyata curah hujan antartahunan dan tipe hujan konvektif tersebut lebih fluktuatif pada perioda Maret-April-Mei (MAM) atau saat boreal spring dibanding perioda Juni-Juli-Agustus (JJA) atau saat boreal summer ataupun perioda lainnya. Hal ini dikarenakan pada perioda MAM terjadi interaksi antara laut dan atmosfer, terutama antara variabel panas laten dengan variabel SST yang saling mempengaruhi.

Deskripsi Alternatif :

The maritime continent, Indonesia has various distinct local climate, whereas one of them has a strong local climate over Molucca. Observation data show that the local monthly rainfall distribution has a maximum value in the middle of the year, and known as anti-monsoonal pattern. But there are yet not many researchers to investigate that pattern.

This study employs the global ocean model from Max Planck Institute-Ocean Model and the atmospheric model from Max Planck Institute-Regional Climate Model or Regional Atmospheric Model. Both models are coupled using an OASIS coupler. The task of the coupler is to time synchronization for coupling processes or data exchange at every six hour (the coupled time step), because both models have been ran at different time steps. This study uses data from the European Centre for Medium-Range Weather Forecasts reanalysis, ERA15. Coupled model simulation has been ran using two different scenarios. For the first scenario, which is also used as the control run, the whole atmospheric model domain receives sea surface temperature (SST) from the ocean model. This means that there is sea-air interaction process (coupled on). While, for the second scenario, the masking method is applied (coupled off), or SST taken from ERA15 for Molucca region only. For the other domain, SST comes from ocean model. So, there is no sea-air interaction process in Molucca region.

Simulation results of local SST variability indicate that the interannual rainfall distribution from coupled-on scenario better than that one. That local SST variability affects more on Molucca's local rainfall pattern. In this case, characteristic difference of rainfall type that influenced is more on convective type of rainfall. This result indicates that rainfall variability is influenced more strongly by local ocean climate, rather than large scale effect such as the regional wind circulation. Mean difference significance analysis coupled-off to coupled-on also shows that, interannual rainfall significance difference distribution is influenced more strongly by the interannual convective type of rainfall, whereas there is no significance difference on stratiform type of rainfall. During boreal spring period, differences of convective and stratiform types of rainfall and the interannual rainfall significance difference are much fluctuated rather than those during boreal summer period. Because during boreal spring period, there is an interaction between sea and air, especially between the latent heat and SST variables that influence each other.

Copyrights : Copyright Â(c) 2001 by ITB Central Library. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiS
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Pembimbing: DR. Tri Wahyu Hadi dan DR. Edvin Aldrian, Editor: Vika A. Kovariansi

File PDF...