Path: Top > Books > A > Alumnus > 2006

IPTEK MENGUAK LAUT INDONESIA

Publication from JBPTITBPP / 2013-02-27 09:52:14
Oleh : Indroyono Soesilo, Badan Riset Kelautan dan Perikanan
Dibuat : 2006-01-00, dengan 1 file

Keyword :

align="justify">Science, Technology, Ocean


Dari Penulis:

align="justify"> Laut Indonesia ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, ia memang memiliki potensi yang luar biasa. Bukan apa-apa, dengan garis pantai (coastal line) terpanjang kedua di dunia setelah Kanada, sekitar 81 ribu km potensi perairan kita memiliki arti strategis bagi bangsa ini.

align="justify"> Bentangan yang begitu luas itu tentu saja menyimpan keragaman hayati (biodiversity) tertinggi di dunia. Kita bangga keragaman jenis terumbu karang, mangrove, ikan, udang, kepiting, dan rumput laut (seaweed) yang ada di seluruh dunia itu mendominasi perairan Indonesia.

align="justify"> Potensi sumber daya nonhayati di laut Indonesia juga berlimpah ruah. Berdasarkan riset yang digarap peneliti Indonesia dan beberapa negara maju menunjukkan di laut dalam (deep sea) misalnya, mulai terkuak potensi emas, minyak, gas, dan aneka mineral lainnya. Berbagai temuan baru itu menunggu sentuhan industriawan agar memiliki nilai ekonomi secara riil.

align="justify"> Namun di balik sisi baik itu, kendala yang dihadapi Indonesia juga tak kalah serunya. Bukankah sampai saat ini penangkapan ikan secara ilegal (illegal fishing) masih kerap terjadi di perairan kita?

align="justify"> Laut Indonesia yang begitu luas itu bukan saja menjadi ladang bagi nelayan asing yang mencuri ikan kita. Lebih dari itu, oleh para penyelundup, laut kita juga dimanfaatkan untuk mengangkut barang-barang haram seperti kayu gelondongan curian.

align="justify"> Penyelundupan pasir laut juga masih terjadi meskipun penambangan pasir laut di kawasan Indonesia masih dibekukan. Berbagai kejahatan itu, menurut hitungan, menyebabkan kerugian negara mencapai US$ 9 miliar (sekitar Rp 90 triliun) per tahun. Tak salah kalau ada yang menyebut perairan kita sebagai surga bagi pencuri asing.

align="justify"> Selain itu, maraknya kegiatan di darat dan rendahnya pemahaman masyarakat terhadap lingkungannya berakibat laut Indonesia begitu banyak menderita. Abrasi, polusi perairan, kerusakan terumbu karang, pendangkalan, dan penangkapan ikan tak ramah lingkungan menjadi isu nyata betapa degradasi lingkungan mendera laut Indonesia. Lalu mampukah teknologi mengembalikan berbagai kerusakan tersebut?

align="justify"> Berbagai fenomena menarik inilah yang kami rangkum ke dalam buku yang berjudul Iptek Menguak Laut Indonesia ini. Keberagaman teknologi hasil karya anak bangsa juga kami angkat sebagai bagian terpenting dari seberapa jauh tingkat penguasaan riset kelautan dan perikanan di Tanah Air.

align="justify"> Kami merasa bersyukur bisa menyelesaikan buku ini menjadi lebih lengkap dibandingkan dengan dua buku yang kami tulis sebelumnya, yakni Iptek untuk Laut Indonesia (2002) serta Laut Indonesia: Teknologi dan Pemanfaatannya (2003). Kami juga lega buku ini bisa menjadi dokumentasi bagi kegiatan riset dan pengembangan kelautan menjelang pergantian tahun baru 2006.

align="justify"> Adalah menjadi kebanggaan kami ketika di tengah-tengah rutinitas pekerjaan yang begitu padat, kami masih bisa menyajikan berbagai informasi dalam buku ini. Sekitar 3 tahun kami menelusuri beberapa daerah perairan, mendengarkan bermacam persoalan, dan bertanya kepada nara sumber, lalu merangkumnya menjadi buku yang sedang anda baca ini. Ini semua terjadi berkat kerja sama dan dukungan dari berbagai nara sumber dan rekan di Penerbit Buku Ilmiah Populer, Sarana Komunikasi Utama (SKU).

align="justify"> Karena itu kami mengucakan terima kasih atas semua partisipasinya. Kami yakin, tanpa kebersamaan itu, buku ini tak mungkin hadir di tengah-tengah pembaca. Tanpa anda semua, kami bukanlah apa-apa.

align="justify"> Harapan kami semoga buku ini bermanfaat bagi siapa saja yang ingin memahami dan mengembangkan dunia kelautan dan perikanan di Indonesia. Mohon maaf atas segala kesalahan yang terjadi. Kami akan senantiasa berlapang dada, dengan tangan terbuka, menerima segala masukan dan saran dari pembaca.

align="left"> Jakarta, Januari 2006

align="left"> Indroyono Soesilo dan Budiman.

Deskripsi Alternatif :

Dari Penulis:

align="justify"> Laut Indonesia ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, ia memang memiliki potensi yang luar biasa. Bukan apa-apa, dengan garis pantai (coastal line) terpanjang kedua di dunia setelah Kanada, sekitar 81 ribu km potensi perairan kita memiliki arti strategis bagi bangsa ini.

align="justify"> Bentangan yang begitu luas itu tentu saja menyimpan keragaman hayati (biodiversity) tertinggi di dunia. Kita bangga keragaman jenis terumbu karang, mangrove, ikan, udang, kepiting, dan rumput laut (seaweed) yang ada di seluruh dunia itu mendominasi perairan Indonesia.

align="justify"> Potensi sumber daya nonhayati di laut Indonesia juga berlimpah ruah. Berdasarkan riset yang digarap peneliti Indonesia dan beberapa negara maju menunjukkan di laut dalam (deep sea) misalnya, mulai terkuak potensi emas, minyak, gas, dan aneka mineral lainnya. Berbagai temuan baru itu menunggu sentuhan industriawan agar memiliki nilai ekonomi secara riil.

align="justify"> Namun di balik sisi baik itu, kendala yang dihadapi Indonesia juga tak kalah serunya. Bukankah sampai saat ini penangkapan ikan secara ilegal (illegal fishing) masih kerap terjadi di perairan kita?

align="justify"> Laut Indonesia yang begitu luas itu bukan saja menjadi ladang bagi nelayan asing yang mencuri ikan kita. Lebih dari itu, oleh para penyelundup, laut kita juga dimanfaatkan untuk mengangkut barang-barang haram seperti kayu gelondongan curian.

align="justify"> Penyelundupan pasir laut juga masih terjadi meskipun penambangan pasir laut di kawasan Indonesia masih dibekukan. Berbagai kejahatan itu, menurut hitungan, menyebabkan kerugian negara mencapai US$ 9 miliar (sekitar Rp 90 triliun) per tahun. Tak salah kalau ada yang menyebut perairan kita sebagai surga bagi pencuri asing.

align="justify"> Selain itu, maraknya kegiatan di darat dan rendahnya pemahaman masyarakat terhadap lingkungannya berakibat laut Indonesia begitu banyak menderita. Abrasi, polusi perairan, kerusakan terumbu karang, pendangkalan, dan penangkapan ikan tak ramah lingkungan menjadi isu nyata betapa degradasi lingkungan mendera laut Indonesia. Lalu mampukah teknologi mengembalikan berbagai kerusakan tersebut?

align="justify"> Berbagai fenomena menarik inilah yang kami rangkum ke dalam buku yang berjudul Iptek Menguak Laut Indonesia ini. Keberagaman teknologi hasil karya anak bangsa juga kami angkat sebagai bagian terpenting dari seberapa jauh tingkat penguasaan riset kelautan dan perikanan di Tanah Air.

align="justify"> Kami merasa bersyukur bisa menyelesaikan buku ini menjadi lebih lengkap dibandingkan dengan dua buku yang kami tulis sebelumnya, yakni Iptek untuk Laut Indonesia (2002) serta Laut Indonesia: Teknologi dan Pemanfaatannya (2003). Kami juga lega buku ini bisa menjadi dokumentasi bagi kegiatan riset dan pengembangan kelautan menjelang pergantian tahun baru 2006.

align="justify"> Adalah menjadi kebanggaan kami ketika di tengah-tengah rutinitas pekerjaan yang begitu padat, kami masih bisa menyajikan berbagai informasi dalam buku ini. Sekitar 3 tahun kami menelusuri beberapa daerah perairan, mendengarkan bermacam persoalan, dan bertanya kepada nara sumber, lalu merangkumnya menjadi buku yang sedang anda baca ini. Ini semua terjadi berkat kerja sama dan dukungan dari berbagai nara sumber dan rekan di Penerbit Buku Ilmiah Populer, Sarana Komunikasi Utama (SKU).

align="justify"> Karena itu kami mengucakan terima kasih atas semua partisipasinya. Kami yakin, tanpa kebersamaan itu, buku ini tak mungkin hadir di tengah-tengah pembaca. Tanpa anda semua, kami bukanlah apa-apa.

align="justify"> Harapan kami semoga buku ini bermanfaat bagi siapa saja yang ingin memahami dan mengembangkan dunia kelautan dan perikanan di Indonesia. Mohon maaf atas segala kesalahan yang terjadi. Kami akan senantiasa berlapang dada, dengan tangan terbuka, menerima segala masukan dan saran dari pembaca.

align="left"> Jakarta, Januari 2006

align="left"> Indroyono Soesilo dan Budiman.

Beri Komentar ?#(2) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiB
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Penulis 2:
    Budiman

    Scan:
    Ena Sukmana (2006-01-24), Editor:

File PDF...