Path: Top > S2-Theses > Urban Design-SAPPK > 2015

REVITALISASI KAWASAN KOTA LAMA SEMARANG DENGAN PENDEKATAN PLACEMAKING

REVITALIZATION OF SEMARANG HISTORIC QUARTER WITH PLACEMAKING APPROACH

Master Theses from JBPTITBPP / 2017-09-27 15:28:00
Oleh : PANJI ARYACITRA BHASKARA (NIM : 25612002), S2 - Regional and City Planning
Dibuat : 2015, dengan 10 file

Keyword : revitalisasi, kawasan cagar budaya, placemaking, aktivitas, identitas, kota lama semarang

Kawasan kuno atau kawasan kota lama sebagai bagian dari ruang kota yang terwujud dari sejarah arsitektur kota, memiliki peran penting dalam perkembangan kekayaan arsitektur. Masih bertahannya kawasan beserta morfologi dan bangunan kunonya merupakan peninggalan sejarah dan cerminan dari budaya kotanya. Untuk mempertahankan nilai-nilai yang ada, maka keberadaan Kota Lama perlu dilestarikan baik secara fisik maupun aktivitas yang terjadi di dalamnya. Pada perkembangannya kawasan Kota Lama Semarang terlihat mati. Degradasi pada Kawasan Kota Lama Semarang meliputi berbagai aspek, antara lain aspek fisik, fungsi, lokasi, citra kawasan, ekonomi, maupun sosial. Guna mengantisipasi kondisi negatif yang disebabkan oleh berbagai degradasi kualitas ini, revitalisasi pada kawasan Kota Lama perlu dilakukan. Revitalisasi pada kawasan bersejarah/cagar budaya harus pula mempertimbangkan kaidah dalam konservasi kawasan cagar budaya. Dalam ranah perancangan kota revitalisasi difokuskan pada intervensi fisik sebagai pendukung tumbuhnya aktivitas ekonomi dan sosial pada kawasan. Revitalisasi fisik sejatinya hanya mampu menciptakan sebuah ruang, disisi lain usaha revitalisasi kawasan cagar budaya diharapkan mampu menciptakan sebuah place karena sebuah kehidupan kawasan kota terbentuk oleh tempat-tempat yang menciptakan beragam aktivitas dan memiliki karakter. Oleh karna itulah digunakan pendekatan placemaking dimana dalam revitalisasi kawasan mempertimbangkan aspek fisik, aktivitas dan identitas sehingga revitalisasi kawasan tidak sekedar mempercantik kawasan, namun juga mampu menjadi interesting place. Proses identifikasi potensi dan permasalahan perancangan didasarkan pada penentuan komponen, prinsip dan kriteria perancangan yang didapat dari tinjauan literatur dan studi kasus. Komponen perancangan yang terkait dengan kawasan perancangan adalah intervensi fisik; tata bangunan; sirkulasi dan parkir; tata guna lahan; jalur pedestrian; ruang terbuka; morfologi dan attractors. Kawasan Kota Lama Semarang dalam revitalisasi untuk menghidupkan kembali kawasan tersebut memiliki visi yang diterapkan yaitu : “Kota Lama Semarang as a vibrant and responsive historic quarter”. Visi tersebut dapat dicapai dengan strategi utama, yaitu : Menetapkan strategi Kawasan Kota Lama Semarang menjadi kawasan destinasi, dimana sasaran pengguna kawasan adalah pengunjung/wisatawan dan masyarakat setempat; menciptakan magnet penarik untuk menangkap pergerakan pengunjung dari arah stasiun dan dari arah pusat kota Semarang dimana kemudian antar magnet tersebut akan mengalirkan pergerakan di dalam Kota Lama Semarang; Memperkuat identitas kawasan dengan optimalisasi node dan landmark kawasan sebagai magnet penarik dan mempertahankan tipomorfologi Kota Lama Semarang sebagai kawasan yang dibangun pada masa kolonial; melakukan intervensi fisik pada bangunan di Kota Lama Semarang berupa preservasi, renovasi, infill, demolisi,dan adaptive reuse serta penataan kembali dengan memperhatikan kontinuitas visual. Tesis ini diharapkan dapat memberikan perspektif baru dalam revitalisasi kawasan bersejarah dengan memberikan rekomendasi ide dan solusi terkait permasalahan revitalisasi kawasan Kota Lama Semarang dengan pendekatan placemaking sehingga dapat menghidupkan kembali kawasan Kota Lama Semarang dengan meningkatkan kualitas ruang kota, serta menciptakan kawasan kota yang tanggap terhadap pengguna, sehingga secara tidak langsung dapat melindungi aset warisan budaya dan mendorong terciptanya kegiatan ekonomi dan sosial.

Deskripsi Alternatif :

Ancient site or historic quarter of the old city as part of the urban space that is realized from the architectural history of city, has an important role in the development of the wealth architecture. The persistence of the quarter morphology and its ancient buildings are relics of history and a reflection of its culture. To retain the existing values, then the existence of the historic quarter should be preserved, both physically and activities. In the case of Kota Lama Semarang, the historic quarter looks dead as a result of degradation. Degradation in Kota Lama Semarang covers various aspects, including physical aspects, functionality, location, image of the site, economic, and social aspects. To anticipate the negative condition, revitalization of the historic quarter needs to be done. In the other hand, revitalization of the historic quarter should consider the rules of cultural heritage conservation. In the realm of urban design are focused on the revitalization of physical intervention that improved the growth of social and economic activity. Physical revitalization is actually only able to create a space, but the business revitalization of the historic quarter is expected to create a place for a life formed by the places that create a variety of activities and identity. Therefore, the used of place-making approach where the revitalization of the historic quarter that considering the physical aspect, activity, and identity should be implement to made a good revitalization that not only beautify the area, but also capable to be an interesting site. . The identification of potential and design problems are based on the determination of the components, principles and design criteria that derived from the literature review and case studies. Design components that associated with the design area is a physical intervention; building code; circulation and parking; land use; pedestrian path; open space; morphology and attractors. In the case study, the revitalization of Kota Lama Semarang has a vision that is : "Old City of Semarang as a vibrant and responsive historic quarter". This vision can be achieved with the main strategies such as : Set strategy Kota Lama Semarang become destinations for the visitors / tourists and local communities; creating an anchor to capture the movement of visitors from the station and from the city center of Semarang. The anchor then will create a movement and an activity in the Old City of Semarang. Preserved identity by optimizing node and landmark of the area as an anchor and maintain morphology of Kota Lama Semarang as an area that was built in the colonial period; physical interventions on the building by preservation, renovation, infill, demolition, and adaptive reuse and realignment with regard visual continuity. This studies are expected to improve a new perspective in the revitalization of the historic quarter by providing recommendations ideas and related solution to the revitalization of Kota Lama Semarang. Place-making approach used to revive the historic quarter of Semarang by improving the quality of urban space, as well as creating a historic quarter that responds to the user, thus indirectly to protect cultural heritage assets and encourage the creation of economic and social activities.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiS
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id