Path: Top » S2-Theses » Development Studies » 2007

ANALISIS POLA HUBUNGAN ANTAR PELAKU INDUSTRI BORDIR TASIKMALAYA

PATTERN OF RELATIONSHIP ANALYSIS AMONG ACTORS OF TASIKMALAYA EMBROIDERY INDUSTRY

Master Theses from JBPTITBPP / 2009-01-20 15:00:35
Oleh : MEISYE YULIANTY (NIM 24005005), S2 - Development Studies
Dibuat : 2007, dengan 7 file

Keyword : pengrajin, industri bordir, pelaku bisnis, flexible production, hubungan antar pelaku

Penelitian ini mengkaji pola hubungan yang terbangun antara para pelaku industri bordir di Kota Tasikmalaya, yang berpusat di Kecamatan Kawalu. Industri bordir di Kota Tasikmalaya memiliki potensi yang besar, dan merupakan usaha yang telah berlangsung secara turun temurun, yang didukung dengan kemampuan pengrajin yang baik. Penelitian ini bertujuan meneliti pola hubungan antar pelaku industri bordir di Tasikmalaya. Disamping itu, juga untuk mengetahui kendala-kendala yang dihadapi masing-masing pelaku/aktor tersebut.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Kajian lapangan dilakukan dengan cara observasi, wawancara, survei kuesioner, dokumentasi dan studi atas kondisi di lapangan yang dilakukan di wilayah studi, pada setting yang informal/semi-formal dan spontan. Sedangkan pemilihan sampling berdasarkan metode sampling kebetulan (accidental sampling).

Secara umum pelaku bisnis terkait dengan industri bordir di Tasikmalaya terdiri dari pelaku di jalur produksi yang terdiri dari penyedia bahan baku, pengrajin dan pengusaha; dan pelaku di jalur pemasaran yang terdiri pengusaha (pengumpul) dan pedagang. Sedangkan pihak pemerintah merupakan pelaku non-bisnis, yang berperan dalam mendukung dan mengembangkan industri bordir.

Pola hubungan antar pelaku industri bordir Tasikmalaya berupa relasi sosial yang bermuara pada aspek bisnis, dimana hubungan komersial berjalan di atas prinsip-prinsip moral dengan pola hubungan kekeluargaan yang “paternalistik” antara patron dan client. Tatanan moral tersebut merupakan perpaduan antara nilai-nilai tradisional, moral agama, kekeluargaan, dan nilai-nilai kapitalis.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa dalam industri bordir Tasikmalaya sudah mulai adanya beberapa subkontraktor yang mandiri yang ditunjukkan dengan adanya pekerja ataupun pengrajin yang mensubkontrakkan kembali pekerjaannya pada pihak lain sesuai dengan keahliannya masing-masing, hal ini berarti industri bordir Tasikmalaya sudah mulai terciptanya spesialisasi dalam industri yang menuju ke flexible production. Walaupun demikian, dalam industri bordir Tasikmalaya masih terdapat permasalahan/kendala berkaitan satu dengan yang lain, yang harus diselesaikan secara komprehensif. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan kualitas hubungan antar pelaku dengan membangun dan memantapkan jejaring usaha/kerjasama antar pelaku industri sehingga dapat menguntungkan berbagai pihak.

Deskripsi Alternatif :

This research investigates the pattern of relationship among actors of Tasikmalaya embroidery industry, in Kawalu District. The embroidery industry in Tasikmalaya has a significant commercial potential; it is an industry that has been passed down by generations and supported by highly skilled local based manpower. This research aims is to carefully examine the pattern of relationship among actors of Tasikmalaya embroidery industry and identify constraints faced by the actors.

This research employs a descriptive qualitative method through observation, interview, questioner, literature study and documentation is on held condition in the study region, in an informal and semi-formal setting and is spontaneous. Sampling is based on an accidental sampling method.

In general, business actors in the Tasikmalaya embroidery industry consist of actors in production form by of raw materials suppliers, entrepreneurs and workers; and marketing actors form by entrepreneurs (collectors) and retailers. The government represents the non- business actor, who supports and develops the embroidery industry.

The pattern of relationship among actors of Tasikmalaya embroidery industry is a social relationship that has a business orientation, that commercial relationship is based on moral principles that are "paternalistic" relationship between patron and client. This moral structure represents is an integration of the traditional, religious moral, kinship, and capitalistic values.

The research finding indicates the beginning of new breeding independent subcontractors who are embroidery worker themselves; these workers that subcontract their works to the workers with the relevant specialized skills. This phenomenon indicates that the Tasikmalaya embroidery is moving towards in flexible production scheme. Nevertheless, the industry's constraints remained and should be solved in comprehensive manner. This can be done by improving the quality of relationship among the actors and developing and strengthening industrial networks that are mutually beneficial to all relevant parties.

Copyrights : Copyright Â(c) 2001 by ITB Central Library. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiS2 - Development Studies
Nama KontakDrs. Mahmudin, SIP.
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOdigilib@lib.itb.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Pembimbing: Dr. Ir. H. Indra Budiman Syamwil, M.Sc., BEM., Editor: Vika A. Kovariansi

Review...