Path: Top > S2-Theses > Business Administration-SBM > 2018

PENENTUAN KEBUTUHAN DANA CADANGAN PENYANGGA ENERGI DALAM MEMPERKUAT KETAHANAN ENERGI NASIONAL

DETERMINATION OF FINANCIAL REQUIREMENT FOR ENERGY BUFFER RESERVES IN STRENGTHENING NATIONAL ENERGY SECURITY

Master Theses from JBPTITBPP / 2018-06-09 11:04:38
By : MAGHFIRANI (NIM 29316115), S2 - Business Administration-SBM
Created : 2018-06-09, with 1 files

Keyword : Ketahanan Energi, Cadangan Penyangga Energy, Struktur Biaya, Pajak Premi Pengurasan, Skenario

Indeks ketahanan energi Indonesia lebih rendah jika dibandingkan negara lain. Dalam Energy Trilema Indeks yang diterbitkan oleh World Energy Council pada tahun 2016, Indonesia berada dalam urutan 85 dari 125 negara. Tingginya ketergantungan impor bahan bakar yang mencapai lebih dari 40% dari total konsumsi, terbatasnya energi alternatif selain dari fossil dan belum adanya Cadangan Penyangga Energi (CPE) merupakan beberapa alasan yang membuat ketahanan energi Indonesia rendah. Oleh karena itu, peningkatan CPE merupakan salah satu upaya pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Undang-undang No.30 Tahun 2007 tentang Energi memberikan mandat kepada Pemerintah untuk menyediakan CPE dalam rangka menjaga ketahanan energi nasional. Dengan memperhatikan persentase konsumsi energi final dan peran startegis terhadap pembangunan berkelanjutan, studi ini akan memfokuskan pada CPE pada dua jenis energi yaitu Minyak Bumi dan Bahan Bakar Minyak (BBM).

Dengan mengacu pada kepada rekomendasi volume CPE dari Dewan Energi Nasional (DEN) yaitu selama 30 hari konsumsi, hasil perhitungan menunjukan bahwa dibutuhkan 30.80 - 61.55 juta barrels minyak bumi dan 13.27 - 71.09 juta barrels BBM sebagai CPE dengan menggunakan dua skenario pembangunan dan penyediaan. Dengan melakukan analisis struktur biaya, didapatkan jumlah kebutuhan biaya untuk pembangunan awal yaitu sebesar $1,798 - 6,170 juta pada skenario pertama dan $3,889 - 18,882 juta skenario kedua. Mekanisme pendanaan untuk pembangunan CPE dalam studi ini bersumber dari premi pengurasan energy fosil dengan cara menerapkan pungutan atau pajak terhadap penjualan BBM khususnya BBM yang tidak bersubsidi dan dengan menerbitkan obligasi.

Dari empat tipe penyimpanan, dapat disimpulkan bahwa biaya pembangunan dan pengoperasian CPE yang paling murah adalah pada saltcavern, sedangkan biaya yang paling mahal pada fasilitas penyimpanan yang berdiri sendiri (stand-alone facility). Dari hasil perhitungan dapat disimpulkan pula bahwa semakin cepat Pemerintah membangun CPE maka biaya yang dibutuhkan akan semakin sedikit, mengingat semakin meningkatnya konsumsi energi di masa mendatang seiring dengan pertambahan populasi. Oleh karena itu, Pemerintah diharapkan melakukan upaya untuk meningkatkan ketahanan energi nasional seperti membangun CPE, mengembangkan energi baru dan terbarukan dan mengurangi ketergantungan impor.

Description Alternative :

Indonesia’s energy security index is lower compared to other countries. In Energy Trilema Index published by the World Energy Council in 2016, Indonesia was on 85th among 125 countries. The high fuel-import dependency which has reached more than 40% of its total national consumption, the limited alternative of energy aside from fossil-fuel, and not yet available of Energy Buffer Reserves are among the reasons why Indonesia is at current condition. Therefore, increasing the capacity of EBR becomes one of the government efforts to strengthen national energy security.

Law on Energy No 30 Year 2007 mandated the government to provide and ensure the energy security for all Indonesian through providing Energy Buffer Reserves. Considering share of energy supply and demand, share of source from import also strategic role of sustainable development, this study will focus only on EBR in 2 (two) types of energy, they are crude oil and fuel.

Referring to EBR volume recommendation by National Energy Council (DEN) for 30 days consumption, calculation resulted that needed 30.80 - 61.55 MB of crude oil and 13.27 - 71.09 MB of fuels as reserves using scenarios of construction and provision. Through cost-structure analysis, it can be concluded that it requires $1,8 - 6,2 billion on the first scenario and $3,9 - 18,9 billion on the second scenario. The study also analyzed how funding mechanism for this construction project can be realized from imposing of depletion premium of fossil fuel energy through levy tax on non-subsidies fuel sales and government securities (SBN).

Out of four types of storages, both the construction and operational cost of EBR is cheaper when using saltcavern facility, whereas the highest cost is met using the stand-alone facility.From the final calculation, it can be concluded that develop EBR sooner will minimize required cost. Because it is a common understanding that future energy consumption will move upward in line with the world’s population. Therefore, Indonesian government should be attempt to strengthen nasional energy security through developing EBR, developing new and renewable energy as well as reducing import-dependency.

Copyrights : Copyright (c) 2001 by Perpustakaan Digital ITB. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Give Comment ?#(0) | Bookmark

PropertyValue
Publisher IDJBPTITBPP
OrganizationS2 - Business Administration-SBM
Contact NameUPT Perpustakaan ITB
AddressJl. Ganesha 10
CityBandung
RegionJawa Barat
CountryIndonesia
Phone62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
Administrator E-maildigilib@lib.itb.ac.id
CKO E-mailinfo@lib.itb.ac.id

Print ...

Contributor...

  • Pembimbing: Dr. Kin Tjendrasa, Editor: Roosalina Vanina Viyazza

Downnload...