Path: Top > S2-Theses > Fine Art-FSRD > 2002

MAKNA DAN FUNGSI SENI LUKIS WAYANG KAMASAN PADA BANGUNAN SUCI DI KABUPATEN KLUNGKUNG BALI SEBUAH TINJAUAN HERMENEUTIK

MEANING AND FUCTION OF WAYANG KAMASAN PAINTING AT TEMPL IN KLUNGKUNG REGENCY BALI A HERMENEUTIC STUDY

Master Theses from JBPTITBPP / 2017-10-09 10:18:25
Oleh : Made Bambang Oka Sudira ( Nim 270 99 007), S2 - Art
Dibuat : 2002-08-00, dengan 11 file

Keyword : Wayang, painting, Wayang Kamasan painting , Bali.
Kepala Subjek : Arts
Nomor Panggil (DDC) : 750.11 SUD

Abstrak:





Seni lukis wayang Kamasan adalah salah satu bentuk karya seni klasik yang dianggap penting dalam kebudayaan Bali. Sementara karya seni ini tidak dapat dipisahkan dari nilai keagamaan, terutama nilai ritual. Banyak aspek yang berkaitan dengan keberadaan seni lukis wayang Kamasan, diantaranya adalah aspek filosofi, spiritual, teknis, ekonorni, sosial dan budaya. Diantara berbagai aspek tersebut, khususnya aspek spiritual-kultural merupakan aspek yang menonjol pada lukisan wayang Kamasan.





Penelitian ini memfokuskan diri pada aspek makna dan fungsi. Untuk memahami makna dan fungsi tersebut, dalam penelitian ini digunakan metode penelitian hermeneutik yang berdasarkan pada sebuah teks yaitu teks tulisan yang terdapat dari lontar-lontar, teks visual berupa gambargambar dan teks verbal berupa tanggapan atau pendapat dari seniman, budayawan dan agamawan.





Di Pura Klungkung Bali dipasang dua jenis lukisan wayang Kamasan yaitu Ider-ider dan Parba. Ider-ider dipasang disisi atap bawah bangunan suci dan Parba dipasang pada dinding dalam bangunan suci. Melalui dua jenis lukisan wayang tersebut, maka hasil dari penelitian ini adalah: (1) makna lukisan wayang Kamasan sebagai kegiatan ritual adalah salah satu sumber pengetahuan atau pendidikan dan sebagai pedoman hidup. Sedangkan fungsinya adalah untuk mengenang jasa-jasa para leluhur, menurunkan para dewa dan dewi, memahami ajaran-ajaran keagamaan, hiasan upacara dan sebagainya. (2) cara menggambar lukisan wayang Kamasan dimulai dari pembagian bidang gambar kemudian membuat bentuk-bentuk seperti figur/tokoh wayang, batu-batuan, pohon-pohonan, awan-awanan (aon-aon), binatang dan sebagainya. Penggambaran bentuk-bentuk di atas berdasarkan pada pemahaman teks sastra (lontar-lontar). (3) untuk cara membaca Ider-ider dimulai dari arah kiri ke kanan. Parba cara membacanya berbeda-beda seperti cerita Bhima Swarga dimulai dari bagian bawah kiri ke kanan, bagian tengah tetap dari kiri ke kanan danbagian atas juga dari kiri ke kanan. Cerita Pemutaran Mandara Giri dimulai dari tengah (pusat), ke tokoh kiri dan kanan, ke bawah, ke atas dan berakhir di tengah (pusat). Cerita Sinta Labuh Geni dimulai dari tokoh kiri ke kanan bawah, dilanjutkan ke kiri dan kanan atas dan berakhimya di tengah bawah. Cerita Garuda Mencari Air Suci Kehidupan dimulai dari tengah (pusat), ke kiri, ke bawah sesuai dengan berlawanan perputaran arah jarum jam. Pemaknaan cara membaca lukisan wayang yang dimulai dari kiri ke kanan disebut Purwadaksina. Dalam seni lukis wayang Kamasan terdapat simbol, makna dan fungsi tokoh, binatang, pohon, batu-batuan, air dan sebagainya. Setiap gerakan juga mempunyai makna Cara penempatan tokoh penting-tidak penting, baik-jahat, tua-muda, laki-perempuan, kalah-menang, datang duluan-datang belakangan, diceritakan duluan dan belakangan, flash back, kuat-tidak kuat, kesatria-raja-biasa, tamu-tuan rumah, prang luar-orang dalam, terdapat pada setiap srakenan (adegan cerita).

Deskripsi Alternatif :

Abstract:





Wayang Kamasan painting is one of the most important classical art in Bali culture. This kind of art cant be separated from religius value, especially ritual value. There are a lot of aspects dealing with wayang Kamasan painting like philosophy, spiritual, technical, economy, social and culture. Among them, spiritual cultural is a dominant aspect at wayang Kamasan painting.





The focus of this research is at meaning and function aspects. To be able to understand those function and meaning, this research is using hermeneutic method which based on texts like writing text from lontar leaves, visual text from paintings and verbal text from opinion of various artists, culture observers and spiritualists.





At Klungkung temple in Bali, there are hung two kinds of wayang Kamasan painting, named Ider-ider and Parba. Ider-ider is hung under the roof around the temple and Parba is put on the wall of it. From both kinds of wayang painting, the results of this research are (1) Wayang Kamasan painting meaning dealing with ritual activity is a source of knowledge or education and guiding life. Whereas its function is to remember ancesters merit, presenting god and goddess, understanding religion thought and ritual decoration, etc, (2) the way of wayang Kamasan painting is begun with dividing drawing plane, then make forms like puppet figures, stonelike, treelike, cloudlike (awon-awon), animals, etc. The way of drawing those forms above is based on understanding from literature text (lontar leaves), (3) the way of reading Ider-ider is begun from left to right while Parba is different like showed by Bhima Swarga story which is begun from bottom left to right, middle left to right and upper left to right. Another Parba sample is Pemutaran Mandara Gin story which is begun from the center to left and right parallely, then from the left side continue to bottom part and up to the top before famaly back to the center. Sinta Labuh Geni story is begun from bottom left figure to right, then upper left to right and finally ended on the middle of bottom part. Garuda is Looking for Living Water story is begun from center to left, then go down and turn right countering clockwise. The way of reading wayang painting from left to right is called Purwadaksina. Kamasan wayang painting has various symbols, meaning, function of figures, animals, trees, stonelike, water, etc. Even every move is meaningful. The way of spotting an important-unimportant figures, good-bad, old-young, man-woman, loose-win, who come earlier-who come later, flash-back, strong-weak, king-knight-common people, guest-owner, outsider-insider are also found in every srakenan (scene of a story).

Copyrights : Copyright (c) 2002 by Faculty of Arts and Design (FSRD). Information Dissemination Right @2008 ITB Central Library, Jl. Ganesha 10 Bandung,40132, Indonesia. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author to ITB Central Library in any medium, provided this notice is preserved.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiS
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Pembimbing I : Yasraf Amir Piliang, Drs.,MA. ;





    Pembimbing II : Jakob Suemardjo,Drs. ;





    Pembimbing III: Primadi Tabrani,Dr.,Prof.






    Scanner: Alice Diniarti; 2008-01-16., Editor: Alice Diniarti

File PDF...