Path: Top > S3-Dissertations > Fine Art and Design-FSRD > 2007

PERGELARAN BAYANGAN WAYANG KULIT PURWA DALAM KAJIAN BAHASA RUPA GERAK (Lakon Parta Krama Gaya Yogyakarta)

A STUDY ON THE SHADOWS OF THE LEATHER PUPPETS MOVEMENTS OF PURWA OF YOGYAKARTAS STYLE IN PERFORMANCE OF PARTA KRAMA STORY

PhD Theses from JBPTITBPP / 2017-10-09 09:54:22
Oleh : Ismoerdijahwati Koeshandari Rahayu (NIM 370 02 001), S3 - Art History, Theory, and Criticism
Dibuat : 2007-00-00, dengan 10 file

Keyword : Performance, shadows, movement, leather puppet, facial expression
Kepala Subjek : Arts

Abstrak :





Efek gerak dari wayang kulit bayangan kelir merupakan bagian yang menentukan dari suatu pertunjukan hasil kreasi para dalang. Peralatan terpenting dalam suatu pertunjukan bayangan dari aspek gerak ini, adalah wayang kulit, blencong (lampu pertunjukan), kelir (layar) dan debog (batang pisang), yang merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.






Bahasan dari penelitian ini adalah wayang kulit purwa Yogyakarta dalam lakon Parta Krama yang merupakan salah satu lakon wayang kulit gaya pewayangan Yogyakarta, dengan pedalangan versi Ki Timbul Hadiprayitno KMT Cermo Menggolo. Kajiannya dari aspek gerak (sabet: Jawa) melalui bayangan lampu blencong pada kelir. Pendekatan dan analisis menggunakan bahasa rupa untuk mengetahui aspek bercerita pada gerak bayangan pagelaran tersebut. Fokus analisis gerak pada Pathet Nem jejer I, adegan Kedhaton Dwarawati, yang menceritakan pertemuan raja Prabu Kresna, Samba, Prabu Baladewa, Setyaki, Patih Udawa dan Gathotkaca. Pada pertemuan ini Prabu Baladewa marah pada Gathotkaca dan berniat menghajarnya, tapi berhasil dicegah Prabu Kresna.






Selain menggunakan pendekatan dan analisis bahasa rupa, dari segi keilmuan penelitian ini dibantu melalui pendekatan ilmu pedalangan dan ilmu sosial-budaya. Oleh karena itu dalam penelitian gerak pergelaran bayangan ini banyak digunakan istilah-istilah pedalangan dalam budaya pewayangan gaya Jawa Yogyakarta yang semula mengacu pada Pendidikan Dalang Habirandha Yogyakarta






Hasil analisisnya adalah, pergelaran wayang kulit purwa gaya Yogyakarta, pada aspek gerak diperoleh pendataan gerak untuk mendapatkan detail gerak. Masing-masing detail adegan gerak memiliki ceritanya, dan karakter gerak tokoh menentukan bahasa tubuh geraknya. Pada penelitian pergelaran bayangan wayang kulit purwa gaya Yogyakarta, dalam kajian bahasa rupa gerak lakon Parta Krama, digunakan sequence ke-11 dan 70 gambar gerak yang masing-masing gambar gerak memiliki penggambaran cerita tersendiri. Kemudian dari usaha ini sesuai dengan tujuannya adalah untuk memperoleh ragam gerak bahasa rupa wayang bayangan, maka dari sequence ke-11 dan 70 gambar gerak tersebut dapat diperoleh ragam bahasa rupa gerak dari lakon Parta Krama sequence ke-11 adegan Kedhaton Dwarawati.

Deskripsi Alternatif :

Abstract :





The effect of the shadow of leather puppets movements on the screen can be used to determine both the puppet performance quality and creativity of a puppeteer. The most important tools, as a unit, for creating the shadows of puppet leathers movements on the screen during the performance are blencong (lamps used in the performance), kelir (screen) and debog (banana tree trunk)






This study was focused on the shadows of leather puppets movements of purwa of Yogyakarta on Parta Krama story, as one of stories in the shadow puppet leather in Yogyakartas style, and whose puppeteer was Ki Timbul Hadiprayitno KMT Cermo Menggolo. The study was mainly focused on the aspect of sabet (Javanese for movements) created by using blencong (lamps used in the performance) on the kelir (screen). Specifically, the facial expressions, based on the shadow movements of the leather puppet during the performance, were used in approaching and analyzing such acts as Pathet Nem, Jejer I, and Kedhaton Dwarawati - in which Prabu Kresna, the King; Samba; Prabu Baladewa; Setyaki; Patih Udawa, and Gathotkaca conducted a meeting. And in that meeting, Prabu Baladewa got angry at and intended to hit Gathotkaca although Prabu Kresna managed to prevent Prabu Baladewa from doing his intention.






Not only were the facial expressions used in approaching and analyzing the story, but the knowledge in puppet play performance and the knowledge in social and cultural aspect were also used. Therefore, many of the terminologies used in this study refers to terminologies used in the puppet performance of Javanese customs, particularly Yogyakartas style, which originates from the School of puppet play performance of Habirandha in Yogyakarta.






The study showed that the movement aspect of Purwa of Yogyakartas style, the data concerning the detailed movements were identified. Each of the detailed movement has its own story. And each movement of the main characters determines its own body language. In addition, by using the 11th sequence and 70 facial expressions (gambar) of movement in the Kedhaton Dwarawati act, avariety of facial expressions was also identified.

Copyrights : Copyright (c) 2007 Faculty of Art and Design ITB





Information Dissemination Right @ 2007 ITB Central Library Jl. Ganesha 10 Bandung 40132 Indonesia.





Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiS
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id