Path: TopS3-DissertationsEngineering Science2010

FORMULASI BIAYA HAK PENGGUNAAN FREKUENSI UNTUK MENDORONG EFISIENSI UTILITAS SPEKTRUM FREKUENSI STUDI KASUS : PENYELENGGARAAN GSM DAN FWA DI INDONESIA

FORMULATION OF SPECTRUM FEE TO ENCOURAGE THE FREQUENCY SPECTRUM UTILITY EFICIENCY CASE STUDY : GSM AND FWA SERVICES IN INDONESIA

PhD Theses from JBPTITBPP / 2014-08-08 09:11:53
Oleh : ISMAIL (NIM : 33205002); Tim Pembimbing : Prof. Dr. Ir. Suhono Harso Supangkat; Dr. Ir. Hendrawan; Dr. Ir. Basuki Yusuf Iskandar, S3 - Engineering Sciences
Dibuat : 2010, dengan 8 file

Keyword : BHP-F, ITU-R SM 2012-2, Utilisasi, IRR

Spektrum frekuensi radio sebagai sumber daya alam terbatas dan bernilai tinggi khususnya untuk pita frekuensi seluler harus dikelola dan digunakan secara efektif dan efisien. Pemerintah selaku pengelola spektrum frekuensi nasional dan penyelenggara komunikasi bergerak yang menggunakan spektrum frekuensi tersebut senantiasa dituntut untuk semakin meningkatkan efisiensi utilisasi dari spektrum. Berdasarkan rekomendasi ITU-R SM 1046-2 tentang efisiensi spektrum, bahwa utilisasi spektrum dinyatakan efisien apabila mampu mengirimkan informasi sebesar-besarnya dengan lebar pita tertentu, pada area tertentu dan waktu tertentu. Salah satu instrumen yang penting dalam mendorong tercapainya efisiensi utilisasi spektrum frekuensi adalah pengenaan Biaya Hak Penggunaan Frekuensi (BHP-F) kepada pengguna frekuensi. Untuk kondisi di Indonesia, khususnya pada Pita frekuensi GSM (Global System for Mobile Communication) dan FWA (Fixed Wireless Access) yang memberikan layanan komunikasi bergerak, formula BHP-F yang diberlakukan memiliki banyak kelemahan termasuk tidak mendorong efisiensi utilisasi spektrum sehingga perlu dilakukan perubahan. Perubahan formulasi tersebut perlu dilakukan secara hati-hati untuk menghindari resiko terhadap pendapatan Pemerintah maupun biaya operasional dari penyelenggara komunikasi bergerak yang dapat mengganggu layanan secara keseluruhan. Alternatif Formula BHP-F yang direkomendasikan oleh ITU melalui rekomendasi ITU-R SM 2012-2 dapat dipertimbangkan karena terbukti mampu mendorong peningkatan efisiensi utilisasi spektrum di berbagai negara. Namun untuk kondisi di Indonesia perlu dilakukan sedikit modifikasi dengan menambahkan faktor insentif dengan prinsip Administratif Incentice Price (AIP) yang dapat mendorong utilisasi spektrum di wilayah Indonesia yang pendapatan ekonominya rendah. Berdasarkan kombinasi rekomendasi ITU-R SM 2012-2 dan prinsip AIP tersebut diusulkan alternatif BHP-F usulan yang baru.

Untuk menetapkan pilihan alternatif BHP-F yang terbaik harus dilakukan perhitungan dan analisis secara kuantitatif agar dapat dipastikan bahwa efisiensi terhadap utilitas spektrum meningkat namun layak secara ekonomi bagi penyelenggara komunikasi bergerak dan pendapatan Pemerintah tetap terjaga. Untuk itu disusun suatu Model tekno-ekonomi telekomunikasi yang sesuai dengan kondisi penyelenggaraan telekomunikasi, faktor geografis dan ekonomis di Indonesia. Model tersebut digunakan untuk melakukan perhitungan dan analisis terhadap tiga jenis Alternatif BHP yaitu BHP yang berlaku sekarang (BHP-FISR), BHP yang berdasarkan lebar pita (BHP-FPITA) dan BHP yang diusulkan (BHP-FUSULAN)yang merupakan hasil modifikasi formula rekomendasi ITU-R SM 2012-2 disesuaikan dengan kondisi Indonesia. Dari hasil perhitungan dan analisis menggunakan model tekno ekonomi telekomunikasi yang dibangun terbukti bahwa BHP-FUSULAN mampu mendorong terjadinya peningkatan efisiensi utilitas spektrum frekuensi yang lebih baik dan lebih memberikan keadilan kepada penyelenggara komunikasi bergerak. BHP-FUSULAN terbukti memiliki nilai utilitas frekuensi tertinggi, pada IRR 35%-40% BHP-FUSULAN mampu memberikan utilitas pada tahun 2020 mencapai 92.382 juta kHz.km2 sedangkan BHP-FISR hanya mencapai 92.109 juta kHz.km2. Sedangkan pada IRR 40%-45%, hanya BHP-FUSULAN yang mampu memiliki utilitas tinggi. Selain itu, walaupun ketiga formulasi BHP-F tersebut mampu mendorong kenaikan utilitas mencapai hampir 10 kali lipat, dari 9.802 juta kHz.km2 menjadi 92.805 juta kHz.km2 selama kurun waktu sepuluh tahun, namun beban pembayaran BHP untuk BHPISR akan naik tajam sedangkan dengan BHP-FPITA dan BHP-FUSULAN akan lebih stabil yang artinya secara potensi pembiayaan akan lebih tidak beresiko dan lebih berpeluang meningkatkan utilitas spektrum frekuensi. Model yang dibangun juga dapat digunakan untuk melakukan simulasi terhadap berbagai opsi seperti perubahan band frekuensi dan pengurangan atau penambahan lebar pita dalam kasus tertentu. Pengembalian dan pengurangan lebar pita akan memberikan kelayakan ekonomi (IRR > 10%) bila menggunakan BHP-FPITA atau BHP-FUSULAN dan dalam kasus ini kelayakan ekonomi tidak akan diperoleh apabila menggunakan BHP-FISR. Model yang disusun selain memiliki beberapa keunggulan yaitu dapat menampilkan hasil secara kuantitaif dan cukup fleksibel namun juga memiliki beberapa keterbatasan yaitu beberapa parameter model seperti Tarif dan ARPU merupakan parameter yang cukup fluktuatif sehingga perlu dilakukan analisis sensitifitas dan penyesuaian secara periodik. Selain itu perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan melakukan pengujian model terhadap pita frekuensi lainnya dan ujicoba terhadap kebijakan Pemerintah lainnya yang sejenis agar akurasi hasil dari model lebih diyakini.

Deskripsi Alternatif :

Radio frequency spectrum as a limited and high value natural resource, especially for cellular frequency band should be managed and used effectively and efficiently. Government as the national frequency spectrum managers and providers of mobile communications that use the frequency spectrum are always required to further enhance the efficiency of spectrum utilization. Based on the recommendation ITU-R SM 1046-2 about spectrum efficiency, that efficient spectrum utilization is defined as a capability of delivering the maximum information with a certain bandwidth, in certain areas and certain times. The important instrument in promoting the achievement of the frequency spectrum utilization efficiency is the imposition of Frequency fee (Called “BHP-F”) to the user frequency. In the case of Indonesia, particularly in the frequency band GSM (Global System for Mobile Communication) and FWA (Fixed Wireless Access), which provides mobile communication services, BHP-F formula imposed has many weaknesses, including not promote the efficiency of spectrum utilization, so needs a change. Changes in these formulations need to be done carefully to avoid the risk of government revenues and operating costs of mobile communications provider that can interfere with the overall service.

BHP-F Formula Alternatives recommended by the ITU through the recommendation ITU-R SM 2012-2 may be considered as proven capable of encouraging increased efficiency of spectrum utilization in various countries. But for Indonesia's situation needs to be done by adding a modification to the principle of incentive factors Administrative Incentive Price (AIP), which can encourage the utilization of spectrum in the territory of Indonesia which low-income economies. Based on the combination of the recommendation ITU-R SM 2012-2 and the AIP principles could be proposed a new BHP-F formula.

To specify an alternative choice of the best BHP-F must be calculated and analyzed quantitatively in order to ensure that the efficiency of spectrum utility increases but economically feasible for providers of mobile communications and government revenue is maintained. For that prepared a techno-economic model of telecommunications in accordance with the conditions of telecommunication carriers, geographic and economic factors in Indonesia. The model is used to perform calculations and analysis of three types BHP Alternative namely BHP Existing (BHP-FISR), BHP based on the bandwidth (BHP-FPITA) and BHP-FUSULAN which is the result of modification of the formula recommendation ITU-R SM 2012 - 2 adapted to Indonesian conditions. From the calculation and analysis using a model of techno-economic telecommunication who built proved that the BHP-FUSULAN could encourage the increased frequency spectrum utility efficiency better and give justice to the providers of mobile communications. BHP-FUSULAN proven to have a utility value of the highest frequency, the IRR of 35-40%, BHP-FUSULAN able to provide utilities in the year 2020 reached 92 382 million kHz.km2, while BHP-FISR only reached 92 109 million kHz.km2. While in the IRR is 40% -45%, BHP-FUSULAN only capable of having a high utility. In addition, although all three formulations of BHP-F was able to push the utility increase of almost 10-fold, from 9802 million to 92 805 million kHz.km2 during the period of ten years, but the burden of payment for BHPISR will go up sharply, while with BHP-FUSULAN and BHP-FPITA will be more stable, which means the potential of financing would be less risky and more likely to increase the utility Frequency Spectrum. The model can also be used to conduct simulations of various options, such as changes in the frequency band and the reduction or additional bandwidth in the particular case of return and bandwidth reduction will provide economic viability (IRR> 10%) is only valid when used BHP-FUSULAN or BHP-FPITA and this case will not be obtained when used BHP-FISR. Models are arranged in addition has several advantages that can display the results in a quantitative and flexible enough but also has some limitations that some model parameters such as tariffs and ARPU is quite volatile, so the parameters need to analyze the sensitivity and periodic adjustment. In addition further research must be done by testing the model against other frequency bands and trials of other Government policies are similar to the accuracy of the results of the more believed to be a model.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiS
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Tim Pembimbing : Prof. Dr. Ir. Suhono Harso Supangkat; Dr. Ir. Hendrawan; Dr. Ir. Basuki Yusuf Iskandar, Editor: Alice Diniarti

File PDF...