Path: Top > S3-Dissertations > Engineering Science > 1982

REVISI STRATIGRAFI CEKUNGAN JAWA TIMUR UTARA DAN PALEOGEOGRAFINYA

PhD Theses from JBPTITBPP / 2014-05-28 09:18:08
Oleh : HARSONO PRINGGOPRAWIRO; Promotor : S. Sartono, Prof. Dr., S3 - Engineering Sciences
Dibuat : 1982, dengan 8 file

Keyword : stratigraphy revision, North East Java Basin, paleogeografi.
Kepala Subjek : Earth sciences
Nomor Panggil (DDC) : T 551.700 959 PRI

Suatu revisi stratigrafi Cekungan Jawa Timur Utara pada hakekatnya merupakan suatu usaha untuk meneliti ulang konsep yang diterapkan penulis terdahulu, memperbaikinya serta meluruskannya kembali sesuai dengan konsep-konsep modern yang dianut dewasa ini. Banyaknya kekeliruan dalam klassifikasi serta penamaan satuan stratigrafi yang ditimbulkan oleh para penyelidik terdahulu merupakan masalah yang dihadapi penulis dalam penelitian ini. Satuan lithostratigrafi dan satuan khronostratigrafi yang mereka gunakan seringkali dikacaukan dan tidak jelas batas-batasnya. Istilah formasi seringkali dipakai sebagai satuan khronostratigrafi dan dibagi menjadi jenjang (stage). Demikian pula istilah Beds Bering dimasukkan sebagai satuan biostratigrafi. Perkembangan penamaan serta klassifikasi Stratigrafi Jawa Timur Utara dapat diikuti pada Bab I sebagai pendahuluan.

Pada Satuan-satuan stratigrafi baru, serta pengusulan tatanama baru sebagai hasil revisi dikemukakan di dalam disertasi ini. Sejumlah formasi baru telah berhasil disusun dan dipetakan. Demikian pula sejumlah stratotipe, stratotipe hipo maupun stratotipe gabungan telah berhasil dibuat dan dikukuhkan, di Jawa Timur Utara. Cekungan Kendeng dan Cekungan Rembang berbeda baik dalam jenis dan cara pembentukkannya maupun dalam hal tipe lingkungan pengendapannya sehingga mempunyai susunan stratigrafi yang berbeda. Tidak kurang dari sembilan formasi batuan di Cekungan Kendeng telah mengalami revisi. Dua satuan pengganti penamaan yakni Formasi Kalibeng sebagai pengganti Formasi Kalibeng Bawah dari Duyfjes, 1936 dan Formasi Sonde sebagai pengganti Formasi Kalibeng Atas, juga dari penulis yang sama. Satu satuan baru diusulkan disini yaitu Anggota Atasangin dari Formasi Kalibeng.

Di Cekungan Rembang duabelas satuan batuan telah direvisi dan diusulkan penggantian nama. Adapun nama-nama satuan yang baru menjadi :

-Formasi Kujung, sebagai pengganti Anggota Kujung dan Anggota Kranji menurut Brouwer, 1957, Koesoemadinata, 1969.

-Formasi Prupuh, sebagai pengganti Anggota Prupuh, Formasi Kujung menurut Brouwer, 1957 dan Koesoemadinata, 1969.

-Formasi Tuban, sebagai pengganti Formasi Kujung Atas, menurut LEMIGAS, 1966.

-Formasi Tawun, sebagai pengganti Anggota Tawun, Formasi Tuban, menurut Brouwer, 1957 dan Koesoemadinata, 1969. Anggota Ngrayong, Formasi Tawun, sebagai pengganti Anggota Ngrayong, Formasi Tuban", menurut Brouwer, 1957 dan Koesoemadinata, 1969.

-Formasi Bulu, sebagai pengganti Platen Compleks, menurut Trooster, 1937.

-Formasi Wonocolo, sebagai pengganti Anggota Wonocolo, Formasi Kawengan, menurut Trooster, 1937.

-Formasi Ledok, sebagai pengganti Anggota Ledok, Formasi Kawengan, menurut Trooster, 1937.

-Formasi Mundu, sebagai pengganti Anggota Mundu, Formasi Kawengan, menurut Trooster, 1937.

Anggota Selorejo, Formasi Mundu, sebagai pengganti Anggo to Selorejo, Formasi MT dari Trooster, 1937, LEMIGAS, 19 66.

-Formasi Lidah , sebagai pengganti Formasi MT dari Trooster, 1937, LEMIGAS, 1966.

-Formasi Paciran, sebagai pengganti Batugamping Karren dari Trooster, 1937, LEMIGAS, 1966

Satuan Terras Solo, sebagai pengganti Formasi Trinil dari LEMIGAS/BPM, 1966.

Penelitian yang mendalam mengenai biostratigrafi daerah Jawa Timur Utara telah pula dilakukan yang didasarkan atas kehadiran foraminifera plankton guna mendapatkan standard biostratigrafi yang lebih dapat dipercaya untuk Jawa Timur. Sejumlah zona Selang berhasil dibuat dimana pembahasannya dapat diikuti pada Bab III.

Cara-cara baru yang sebelumnya belum pernah digunakan di Jawa Timur Utara diusulkan disini untuk mengatasi kesukaran yang sering dihadapi oleh para geologiwan dalam melakukan korelasi regional maupun inter-regional. Berkaitan dengan hal tersebut sejumlah bidang umur (datum pia nee) berhasil ditemukan, berturut-turut dari tua ke muda adalah sebagai berikut

-Orbulina suturalis/universa Datum

-Globorotalia fohsi Datum

-Sphaeroidinellopsis subdehiscens subdehiscens Datum

-Globigerinoidessubquadratus Datum puncak

-Globorotalia siakensis Datum puncak

-Globorotaliaacostaensis Datum Globorotalia plesiotumida Datum

-Sphaeroidinellopsis subdehiscens paenedehiscens Datum

-Sphaeroidinella dehiscens immatura Datum

-Pulleniatina obliqueloculata Datum

-Globorotalia tosaensis Datum

-Globorotalia truncatulinoides Datum

-Globigerina calida calida Datum

Penentuan batas Miosen Pliosen serta Pliosen dan Pleistosen dengan menggunakan foraminifera plankton yang hingga kini masih merupakan masalah internasionalkhusus nya di Indonesia telah diteliti dan dibahas. Sebagai hasil perlu dikemukakan bahwa batas Miosen-Pliosen di Jawa Timur tercirikan oleh pemunculan terawal dari Sphaeroidinella dehiscens immatura. Sedangkan batas antara Pliosen Pleistosen tercirikan oleh pemunculan terawal dari Globorotalia truncatulinoides.

Penelitian mengenai masalah suhu purba pada masa Kaenozoikum Akhir memberikan hasil sebagai berikut :

Terdapatnya species-species Globigerina pachyderma, Glo borotalia inflata, Globorotalia truncatulinoides, Globorotalia crassaformis dan Globorotalia hirsuta pada lapisan Pleistosen di Jawa Timur Utara menunjukkan adanya iklim subtropis hingga temperate pada kala Pleistosen di Jawa Timur. Adanya pergantian putaran cangkang Globigerina pachyderma dan Globorotalia truncatulinoides dari sinistral ke dextral menunjukkan adanya fluktuasi iklim laut purba yang dingin dengan yang hangat pada kala Pleistosen di Jawa Timur.

Sebagai hasil penelitian paleogeografi yang dilakukan di Jawa Timur dan lautan sekitarnya, 6 buah peta paleogeografi diperkenalkan dan dibahas pada Bab V.

Deskripsi Alternatif :

A revision in stratigraphy of the North East Java Basin is in fact an effort to reevaluate ideas applied by earlier investigators and emendation with modern concepts recently used. Much confusion in classifications and nomenclature of stratigraphic units used by many workers arises problems which the author has to face in his study. Lithostratigraphic and chronostratigraphic units are often confused with no clear distinction between both units. The term formation is often used as a chronostratigraphic unit and is subsequently subdevided into stages, whereas the term Beds is often classified as a biostratigraphic unit. The historical development of the stratigraphic classification and nomenclature of the North East Java Basin is presented in chapter I as an introduction.

As a result of the revision, new discoveries in stratigraphic units the andintroduction of new names will be put forward in this dissertation. The formation as well as new strato types, hypo stratotypes and combined strato types succeeded established and mapped.

The Kendeng and Rembang Basins differ in types, mode of origin as well as in their depositional environment hence different stratigraphic compositioli arise.

In the Kendeng Basin not less than nine rock formation been successfully revised. The Kalibeng Formation and the Sonde Formation are proposed here to substitute respectively. The Lower Kalibeng Formation and Upper Kalibeng Formation introduced by Duyfjes, 1936, whereas the Atasangin Member of the Kalibeng Formation is considered to the a new rock unit.

-The twelve rock units in the Rembang Basin were revised and the introduction of new names is proposed. Those are :

Kujung Formation substitutes the Kujung member as well as Kranji member of Brouwer, 1957 and Koesoemadinata, 1978

-Prupuh Formation substitutes Prupuh member, Kujung Formation of Brouwer, 1957 and Koesoemadinata, 1978.

-Tuban Formation substitutes Formasi Kujung Atas according to LEMIGAS, 1966.

-Tawun Formation substitutes Tawun member, Tuban Formation of Brouwer, 1957 and Koesoemadinata, 1978.

-Ngrayong member, Tawun Formation substitutes Ngrayong member, Tuban Formation of Brouwer, 1957 and Koesoemadinata, 1978

-Bulu Formation, substitutes the name Platen complex after Trooster, 1937.

-Wonocolo Formation substitutes Wonocolo member, Kawengan Formation after LEMIGAS, 1966.

-Ledok Formation substitutes Ledok member, Kawengan Forma tion after LEMIGAS, 1966

-Mundu Formation substitutes Mundu member, Kawengan Forma tion after LEMIGAS, 1966.

-Selorejo member, Mundu Formation substitutes Selorejo member, MT Formation after Trooster, 1937.

-Lidah Formation substitutes MT Formation of Trooster, 1937, LEMIGAS, 1966.

-Paciran Formation substitutes Karren Limestone of Troos ter, 1937, LEMIGAS, 1966.

-Solo Terras Unit, substitutes Trinil Formation after LEMIGAS/BPM,1966.

Intensive examinations the biostratigraphy of North East Jawa by means of planktonic foraminifera were carried out in order to obtained more reliable standard biostratigraphy units of the area. Discussions concerning the estab1isment of interval zones are presented in chapter III.

New methods never used before in East Jawa were proposed to overcome difficulties in connection with on either the regional or the inter regional. So, the establishment of datum planes is successfully carried out. And they successfully with according to the their data :

-Orbulina suturalis/universa Datum

-Globorotalia fohsi Datum

-Sphaeroidinellopsis subdehiscens subdehiscens Datum

-Globigerinoidessubquadratus Datum puncak

-Globorotalia siakensis Datum puncak

-Globorotaliaacostaensis Datum Globorotalia plesiotumida Datum

-Sphaeroidinellopsis subdehiscens paenedehiscens Datum

-Sphaeroidinella dehiscens immatura Datum

-Pulleniatina obliqueloculata Datum

-Globorotalia tosaensis Datum

-Globorotalia truncatulinoides Datum

-Globigerina calida calida Datum

Assignment on Miocene - Pliocene boundaries using planktonic foraminifera indices which performed an international problem, is studied and discussed. As a result, the Miocene - Pliocene boundary in East Jawa is characterized by the initial appearance of Sphaeroidinella dehiscensimmatura, whereas the Pliocene - Pleistocene by the initial appearance of Globorotalia truncatulinoides. Examinations on paleotemperature by means of planktonic foraminifera during the late Kaenozoikum period, result in the following points. The occurrences of Globigerina pachyderma, Globorotalia inflata,,Globorotalia truncatulinoides and Globorotalia hirsuta in Pleistocene sediments of East Jawa, a subtropic to a temperate climate condition. The alternation in coiling direction of the species Globigerina pachyderma and Globorotalia truncatulinoides from sinistral to dextral indicates a temperature fluctuation of the sea from cold to warm during the Pleistocene.

Sixpaleogeographic maps introduced as the results of paleogeographic studies carried out in East Jawa and adjacent seas are presented and discussed in chapter v.

Beri Komentar ?#(1) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiS
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Promotor : S. Sartono, Prof. Dr.

    Scanner : Novian Kurniawan
    , Editor: Novian Kurniawan

File PDF...