Path: Top S2-Theses Business Administration 2009

ANALISIS EKONOMI KONVERSI HSD MENJADI MFO SEBAGAI BAHAN BAKAR PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA DIESEL: STUDI KASUS PLTD PESANGGARAN INDONESIA POWER UNIT BISNIS PEMBANGKITAN BALI

ECONOMIC ANALYSIS OF HSD CONVERSION TO MFO AS DIESEL POWER PLANT FUEL: CASE STUDY OF PESANGGARAN DIESEL POWER PLANT OF INDONESIA POWER BALI GENERATION BUSINESS UNIT

Master Theses from JBPTITBPP / 2010-04-23 17:36:10
Oleh : GINANJAR INDRAMAULANA (NIM: 29107175) , S2 - Business Administration
Dibuat : 2009, dengan 7 file

Keyword : PLTD Pesanggaran, fuel conversion program

PT. SRT adalah anak perusahaan PT. PLN (Persero) yang bergerak di bisnis pembangkitan tenaga listrik khususnya di pulau Bali. PT. SRT dengan total kapasitas terpasang 432,67 MW terdiri dari Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Pesanggaran (75,82 MW), Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Pesanggaran (125,45 MW), PLTG Gilimanuk (133,8 MW) dan PLTG Pemaron (97,6 MW). Saat ini Indonesia Power PT. SRT dalam rangka mengamankan pasokan tenaga listrik khususnya di pulau Bali sebagai daerah tujuan wisata dunia tengah menghadapi beberapa permasalahan bisnis yang penting yaitu semua pembangkit yang dioperasikan menggunakan minyak, pertumbuhan permintaan listrik yang tinggi, masalah sumber energi primer seperti masalah ketersediaannya pasokan gas alam dan meningkatnya harga minyak, regulasi tarif. Mengikuti kenaikan harga minyak, pertumbuhan permintaan listrik yang tinggi tersebut harus dipenuhi oleh pembangkit berbasis minyak yang biaya produksi listriknya tinggi. Akar penyebab yang menimbulkan permasalahan bisnis tersebut adalah tingginya harga minyak, dalam hal ini minyak solar (high speed diesel /HSD), mengingat biaya bahan bakar adalah komponen utama dari biaya produksi listrik PLTD.

Alternatif solusi yang mungkin dapat dilakukan oleh Indonesia PT. SRT dalam rangka memasok tenaga listrik dalam jumlah yang cukup dan andal adalah dengan upaya mengurangi biaya produksi melalui program konversi bahan bakar dan program efisiensi pada PLTD Pesanggaran dan unit pembangkit lainnya yang berbasis gas, demand side management di sisi pelanggan dan kontribusi pemerintah dalam domestic market obligation (DMO) gas alam untuk penggunaan sebagai bahan bakar pembangkit-pembangkit PLN dan anak perusahaannya. Mengingat tidak adanya pasokan gas, konversi dari HSD menjadi minyak bakar atau marine fuel oil (MFO) yang lebih dikenal dengan sebutan MFOnisasi menjadi solusi utama dalam mengatasi permasalahan bisnis tersebut dalam kaitan dengan harga MFO yang lebih murah Rp 939,40/liter dari harga HSD dan ketersediaannya untuk memasok daerah Bali dari pada gasifikasi pembangkit Indonesia Power UBP Bali.

Tugas akhir ini fokus pada MFOnisasi di PLTD Pesanggaran sebagai studi kasus MFOnisasi pada Indonesia Power UBP Bali karena PLTD Pesanggaran adalah pembangkit berbasis minyak sedangkan pembangkit PT. SRT lainnya adalah pembangkit berbasis gas yang dipaksa menggunakan minyak sebagai bahan bakarnya. Secara teknis MFOnisasi dapat dilakukan dengan menambahkan fasilitas sistem bahan bakar MFO (MFO fuel system), modul pembersihan MFO (MFO treatment system) dan sistem pemanas MFO (MFO heater system). Fungsi dari penambahan peralatan tersebut adalah untuk membuat spesifikasi bahan bakar MFO hampir sama dengan spesifikasi bahan bakar HSD ketika bahan bakar (MFO) akan dipompakan ke mesin diesel. Proyek MFOnisasi tersebut membutuhkan suatu investasi untuk memodifikasi dan memasang sistem MFO pada sistem HSD yang ada.

Oleh karenanya, analisis ekonomi harus dilakukan pada proyek MFOnisasi tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa investasi tersebut secara ekonomis layak untuk dilakukan. Pada kasus dasar (base case), proyek menghasilkan Internal Rate of Return sebesar 34,62 persen dan Net Present Value sebesar Rp 39,90 milyar pada discount rate 15 persen dengan faktor kapasitas pembangkit 33,2 persen dan dapat memberikan saving bahan bakar/kWh sebesar Rp 286,70/kWh. Berdasarkan analisis sensitivitas, faktor penting yang dapat mempengaruhi kelayakan MFOnisasi adalah perbedaan (saving) harga antara HSD dan MFO (dalam hal ini saving bahan bakar/kWh karena SFC antara HSD dan MFO sedikit berbeda) dan proyeksi produksi listrik yang harus dipertimbangkan jika investasi MFOnisasi pembangkit ingin dilakukan

Deskripsi Alternatif :

PT. SRT is a subsidiary of PT. PLN (Persero) operating in the power generating business particularly in Bali island region. PT. SRT with total installed capacity 432.67 MW consist of Pesanggaran Diesel Power Plant (DPP) (75.82 MW), Pesanggaran Gas Turbine Power Plant (GTPP) (125.45 MW), Gilimanuk GTPP (133.8 MW) and Pemaron GTPP (97.6 MW). Currently PT. SRT in securing electricity supply mainly in Bali island as a world tourism destination face some important business issues such as all power plants are oil utilization power plant, high growth demand, primary energy sources problem which are natural gas supply availability problem and rising of oil price, tariff regulation. Following the hike of oil price, that high growth electricity demand has to fulfill by high generating cost of oil based power plant. The root of problem cause such business issues is the high oil price (high speed diesel/HSD), considering fuel cost is a key component in electricity generating cost of diesel power plant.

Possible alternative solutions for PT. SRT to supply sufficient and reliable electricity by reducing generating cost effort are through fuel conversion program and efficiency drive program at Pesanggaran DPP and other generation units (gas-based power plants), demand side management in customer side and government contribution in domestic market obligation (DMO) of natural gas for PLN's and subsidiaries power plant using from HSD to marine fuel oil (MFO) or so called MFOnisation is the main solution to cope with these business issues due to MFO price has Rp 939.40/liter cheaper than HSD price and availability of MFO to supply Bali region rather than gasification of PT. SRT's power plant.

This final assignment is focused on the MFOnisation at Pesanggaran DPP as a case study of MFOnisation at PT. SRT due to Pesanggaran DPP is oilbased power plant while other generation units are gas-based power plant which forces to utilize oil. MFOnisation technically can be done by additional of MFO fuel system facility, MFO treatment module and MFO heater system. Function of equipment addition is making MFO fuel specification almost equal to HSD fuel specification when that fuel (MFO) pumped to diesel engine. This MFOnisation project is required an investment to modify and install MFO system to existing HSD system. Therefore, economic analysis has to conduct on this MFOnisation project. The results presented that investment is economically viable. At the base case, the project yields Internal Rate of Return 34.62 per cent and net present value Rp 39.90 billion at discount rate 15 per cent with 33.2 per cent power plant capacity factor and can achieve net fuel saving/kWh Rp 286.70/kWh. Base on sensitivity analysis, significant factor affecting to the viability such as fuel price difference between HSD and MFO (in this case is fuel saving/kWh because SFC between HSD and MFO are slightly different) and projection of electricity production needs to consider when MFOnisation power plant investment want to conduct.

Copyrights : Copyright Â(c) 2001 by ITB Central Library. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Beri Komentar ?#(2) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiS2 - Business Administration
Nama KontakDrs. Mahmudin, SIP.
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOdigilib@lib.itb.ac.id