Path: TopS2-ThesesCivil Engineering-FTSL2010

KAJIAN PEMBEBANAN BIAYA PEMELIHARAAN JALAN KABUPATEN AKIBAT MUATAN BERLEBIH (STUDI KASUS: JALAN RIMBO LARANGAN – SEI. JERNIH KABUPATEN KAMPAR)

A STUDY ON THE IMPOSITION OF DISTRICT ROAD MAINTENANCE COST DUE TO OVERLOADING (CASE: RIMBO LARANGAN – SEI. JERNIH ROAD LINK, DISTRICT OF KAMPAR)

Master Theses from JBPTITBPP / 2017-09-27 15:23:28
Oleh : FIRMANSYAH EKA PUTRA (NIM : 25007016); Pembimbing : Dr. Ir. Ade Sjafruddin, MSc , S2 - Civil Engineering
Dibuat : 2010, dengan 8 file

Keyword : Kelebihan muatan, dana pemeliharaan jalan, kerjasama pemerintah - swasta dalam pemeliharaan jalan, ESAL

Kelebihan muatan atau overloading sering terjadi pada jalan kabupaten, terutama pada daerah-daerah di sekitar kawasan perkebunan, kehutanan dan pertambangan. Ironisnya retribusi kelebihan muatan dilarang, sementara dana pemeliharaan terbatas. Pemerintah dapat menerapkan ketentuan pembatasan beban untuk mengurangi laju kerusakan jalan namun hal ini akan berdampak terhadap peningkatan biaya operasional transportasi perusahaan. Salah satu solusi yang dapat ditawarkan adalah melibatkan pihak perusahaan untuk ikut memikul beban pemeliharaan jalan, terutama peningkatan biaya yang terjadi akibat overloading. Bagaimana skenario pembebanan biaya bagi perusahaan yang mempergunakan jalan kabupaten dengan muatan berlebih adalah masalah yang ingin diteliti dalam penelitian ini, yaitu dengan mengambil studi kasus pada ruas jalan Rimbo Larangan - Sei. Jernih yang terletak di Kabupaten Kampar Propinsi Riau. Dalam penelitian ini dikembangkan tiga skenario pembebanan biaya, yaitu melalui simulasi pemeliharaan jalan selama 10 tahun dengan bantuan software HDM III (Highway Design and Maintenance Standard Model)dari World Bank. Pada skenario I, porsi biaya dihitung berdasarkan nilai ESAL overloading. Pada skenario II, porsi biaya dihitung berdasarkan rasio ESAL overloading dan pada skenario III, porsi biaya dihitung berdasarkan akumulasi denda. Kerugian overloading dihitung dari selisih biaya pemeliharaan pada kondisi overloading dengan kondisi beban normal. Dampak pembatasan beban dihitung berdasarkan tambahan biaya akibat penambahan trip perjalan. Kondisi overloading ditinjau dari dua ketentuan yaitu ketentuan MST (muatan sumbu terberat) dan JBI (jumlah berat yang diizinkan). Konsep MST dipakai sebagai dasar perhitungan pada skenario I dan II, sedangkan konsep JBI dipakai pada skenario III. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa besarnya kebutuhan total pemeliharaan jalan selama 10 tahun adalah Rp. 19,79 milyar, dari angka tersebut kerugian overloading adalah Rp 10,17 milyar. Besarnya biaya dampak pembatasan beban terhadap perusahaan dalam satu tahun adalah Rp 29,24 milyar. Potensi biaya yang dapat dikumpulkan selama sepuluh tahun berdasarkan skenario I,II dan III masing-masing sebesar Rp 15,24 milyar, Rp 17,72 milyar dan Rp 9,70 milyar. Dari ketiga skenario, semuanya layak dijadikan alternatif sumber pendanaan jalan dalam rangka pemeliharaan bersama pemerintah-swasta, terutama untuk angkutan perusahaan yang beroperasi pada jalan kabupaten dengan muatan berlebih.

Deskripsi Alternatif :

Excessive loads or overloading often occurs in the district roads, especially around the plantation, forestry and mining area. Ironically, overloaded levy charges on the district roads is prohibited, while the maintenance funds are insufficient. The government can implement the load restriction regulations to prevent roads from excessive damage, but this will increase the company’s transportation costs. One of the solutions that can be offered is to involve the company to participate in funding for road maintenance, especially due to overloading. How charging scenario for companies that use district roads with excess burden is the problem investigated in this study, by taking a case study on Rimbo Larangan - Sei Jernih road link which is located in Kampar District Province of Riau. Three charging scenarios were developed in this study by performing the road maintenance simulation for 10 years period by the aid of HDM III (Highway Design and Maintenance Standard Model) software from the World Bank. In the scenario I, the portion of the cost is calculated based on the overloading ESAL values. In the scenario II, the portion of the cost is calculated based on the ratio of ESAL overloading and in the scenario III, the portion of the cost is calculated based on the accumulation of fines. Overloading cost is calculated from the difference in maintenance costs on overloading condition with normal load conditions. The impact of weight restriction regulation is calculated based on the costs resulting additional travel trip. The overloading conditions are defined in terms of two regulations, i.e. MST (the heaviest load of axle) and JBI (amount of weight permitted). The MST concept is used as the basis for the calculation of scenarios I and II, while the JBI concept is used for scenario III. The results shows that the total amount of road maintenance needs for 10 years is Rp. 19.79 billion with Rp 10.17 billion overloading loss. The cost burden on firms caused by weight restriction regulation in one year is Rp 29.24 billion. The potential fund that can be collected for ten years under scenario I, II and III are Rp 15.24 billion, Rp. 17.72 billion and Rp 9.70 billion respectively. Of the three scenarios, all are feasible to be funding sources alternatives in road maintenance in context of public-private partnership, especially for companies that operate their trucks on district road with excessvie loads.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiS
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id