Path: Top > Member > hidayat@unix.lib.itb.ac.id

PENGEMBANGAN PENGELOLAAN SAMPAH DI DAERAH PINGGIRAN KOTA, PERDESAAN, DAN PESISIR KABUPATEN CIANJUR

THE IMPROVEMENT OF SOLID WASTE MANAGEMENT IN PERIPHERAL, RURAL, AND COASTAL AREA IN CIANJUR

Master Theses from JBPTITBPP / 2018-01-12 09:33:07
Oleh : FAUZANA (NIM: 25714312), S2 - Management of Water Suply and Sanitation Infrastructure-FTSL
Dibuat : 2017, dengan 14 file

Keyword : Pengembangan pengelolaan sampah, pinggiran kota, desa, pesisir, Cianjur ; improvement of solid waste management, pheripheral, rural, coast, Cianjur
Subjek : Pengelolaan sampah ; Waste management
Kepala Subjek : Rekayasa sanitasi ; Sanitary engineering
Nomor Panggil (DDC) : 628.74 FAU

Pengelolaan sampah adalah layanan dasar yang sangat penting dan seharusnya dapat dinikmati oleh seluruh anggota masyarakat. Namun, pada kenyataannya, masih banyak wilayah yang tidak mendapatkan layanan tersebut. Adanya perbedaan target, kondisi wilayah, dan kondisi masyarakat menyebabkan diperlukannya pendekatan berbeda dalam merancang bentuk pengelolaan sampah sesuai dengan jenis wilayah pelayanan. Sistem pengelolaan sampah tersebut haruslah bisa diterima masyarakat sekaligus tidak membahayakan lingkungan. Kabupaten Cianjur merupakan kabupaten terluas nomor dua di Provinsi Jawa Barat dengan karakter wilayah yang beragam berupa perkotaan, pinggiran kota, perdesaan, dan pesisir. Penelitian dilakukan di enam kedusunan yang berada di enam kecamatan yang tersebar di Kabupaten Cianjur. Dua berkarakter pinggiran kota berada di Dusun Sudi, Desa Nagrak, Kecamatan Cianjur dan Dusun Kaum, Desa Sindanglaka, Kecamatan Karangtengah, dua kedusunan berkarakter perdesaan di Dusun Cibodasgirang, Desa Campakamulya, Kecamatan Campakamulya dan Dusun Sirnagalih, Desa Pagelaran, Kecamatan Pagelaran, serta dua kedusunan berkarakter pesisir di Dusun Sindangbarang, Desa Saganten, Kecamatan Sindangbarang dan Dusun Kaum, Desa Cidamar, Kecamatan Cidaun. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran kondisi eksisting wilayah penelitian dan keinginan masyarakat terkait pengelolaan sampah; mengetahui potensi-potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan infrastruktur di dalam maupun di sekitar wilayah penelitian yang dapat mendukung pengelolaan sampah; mengidentifikasi faktor-faktor yang memiliki korelasi dengan sikap masyarakat terhadap pengelolaan sampah, serta; membandingkan preferensi masyarakat pinggiran kota, perdesaan, dan pesisir terhadap pengelolaan sampah. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dan perbandingan. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer berasal dari observasi, wawancara, pengukuran timbulan dan komposisi sampah, dan penyebaran kuesioner sedangkan data sekunder berasal dari instansi-instansi terkait. Kuesioner dianalisa menggunakan metode frequencies dan crosstabs. Dari penelitian diperoleh bahwa permasalahan yang paling umum ditemukan di keenam wilayah penelitian adalah pembakaran sampah dan pembuangan sampah ke badan air. Selain itu, di kawasan perdesaan dan pesisir, belum ada aparat desa yang ditunjuk untuk mengurusi pengelolaan sampah. Kawasan pinggiran kota memiliki sejumlah keuntungan karena jaraknya yang dekat dari pusat kabupaten dan TPA sehingga mempunyai akses lebih terhadap sosialisasi mengenai pengelolaan sampah dan bisa mengorganisir pengangkutan sampah ke TPA. Penduduk di kawasan perdesaan cukup banyak yang memiliki lahan sendiri yang bisa dimanfaatkan untuk pengoahan sampah rumah tangga (37,9% di Cibodasgirang dan 54,3% di Sirnagalih). Selain itu, sektor perdagangan sampah juga sudah menjangkau wilayah-wilayah yang diteliti. Responden di pinggiran kota lebih memilih mengeluarkan sejumlah uang untuk pengumpulan sampah oleh petugas (52,2%) sedangkan di perdesaan dan pesisir lebih memilih memilah sampah sendiri untuk kemudian mengolah sendiri sampah dapur dan menjual sampah yang masih bernilai jual (40,9% di perdesaan, 29,3% di pesisir). Bank sampah merupakan fasilitas yang paling banyak diinginkan oleh responden di pinggiran kota (42,6%) dan perdesaan (41,9%), sedangkan responden di pesisir paling banyak memilih TPS (41,3%). Mayoritas responden memilih pengelolaan seluruh sampah secara komunal dengan rincian 72,3% di pinggiran kota, 59,1% di perdesaan, dan 58,7% di pesisir. Persentase yang menginginkan pengelolaan seluruh sampah sendiri tertinggi di perdesaan (23,7%) dan terendah di pinggiran kota (6,4%). Pengomposan di lubang merupakan teknologi yang paling disukai di ketiga jenis wilayah penelitian, namun, di kawasan pesisir, tingkat penolakannya lebih tinggi dibandingkan drum composter. Preferensi kontribusi berupa iuran sampah paling tinggi ditemukan di kawasan pinggiran kota dan terendah di pesisir. Kontribusi berupa pemilahan dan pengomposan tertinggi di kawasan perdesaan dan terendah di pinggiran kota. Faktor-faktor yang mempengaruhi responden dalam memilih bentuk pengelolaan sampah di antaranya tingkat pendidikan, penghasilan, dan kepemilikan lahan. Tingkat penolakan dan kesukaan responden terhadap suatu teknologi pengolahan sampah dipengaruhi oleh kepemilikan lahan, keikutsertaan dalam kelembagaan, dan tingkat pendidikan.

Deskripsi Alternatif :

Solid waste management is an essential basic service that should reach entire population. But, in reality, there are still number of places those don’t get this service yet. The difference in targets and conditions of area and community makes it necessary to have different approaches in designing solid waste manageme all at once causing no harm to environment. Cianjur Regency, the second largest regency in West Java, consists of areas with various characteristics such as urban, peripheral, rural, and coastal. The locations of research were in six kedusunan, each is in separate subdistricts (kecamatan) within this Regency. Two kedusunan with peripheral characteristics located in Dusun Sudi, Desa Nagrak, Cianjur Subdistricts and Dusun I, Desa Sindanglaka, Karangtengah Subdistrict, two rural kedusunan in Dusun Cibodasgirang, Desa Campakamulya, Campakamulya Subdistrict and Dusun Sirnagalih, Desa Pagelaran, Pagelaran Subdistrict, and two coastal kedusunan in Dusun Sindangbarang, Desa Saganten, Sindangbarang Subdistrict and Dusun Kaum, Desa Cidamar, Cidaun Subdistrict. The objectives of this research were to get the description of existing condition and community preference relating to solid waste management; to identify the potentials from natural resources, human resources, and infrastructure within or around the research area to support solid waste management; to identify determinant factors those have correlation with community’s attitude toward solid waste management, and; to compare community’s preference in peripheral, rural, and coast area toward solid waste management. Here we used descriptive and comparative methods using primary and secondary data. Primary data was collected from observations, interviews, measurement of solid waste generation and composition, and questionnaires. Secondary data was gathered from relating offices. Frequencies and crosstabs method was also used to analyse questionnaire. From this research, we found that the most common problems were open burning and sewage disposal to water body. Besides, in rural and coastal area, there was no desa apparatus appointed to handle solid waste management. Peripheral area had benefits from its location near the district center and final disposal so it had more access to solid waste management socialization and to organize solid waste transport to final disposal site. Many people in rural area owned land for their own solid waste treatment site (37.9% in Cibodasgirang and 54.3% in Sirnagalih). Solid waste trade sectors had reached research area. Respondents in peripheral area preferred to spend some money for solid waste collection by employee (52.2%) while in rural and coastal area preferred to separate their own waste, composted their organic solid waste and sold the ‘valuable’ ones (40.9% in rural and 29.3% in coastal). Garbage bank was the most expected facility in peripheral (42.6%) and rural (41.9%) while in coastal, TPS was the most voted (41.3%). Generally, most respondents preferred communal solid waste management: 72.3% in peripheral, 59.1% in rural, and 58.7% in coastal. Individual management was mostly voted in rural by 23.7% respondents and the lowest in peripheral (6.4%), Compost hole was the most preferred technology in three kinds of researched area, but in coastal, the rejection rate was higher than composter. The highest percentage respondents who chose to contribute in the form of money was in peripheral and the lowest in coastal. Contribution in the form of solid waste separation and composting was mostly voted in rural and least in peripheral. Factors those influenced people’s preference in solid waste management form was education level, income, and land ownership. Rejection rate and preference of certain organic solid waste treatment were influenced by land ownership, organisation attendance, and education level.

Copyrights : Copyright (c) 2001 by Perpustakaan Digital ITB. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiS
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id