Path: Top > S2-Theses > Mining Engineering-FTTM > 2011

STUDI PENGEMBANGAN INDUSTRI BATUBARA INDONESIA: PENDEKATAN INTER-INDUSTRI DAN EKONOMETRIKA

STUDY OF THE INDONESIAN COAL INDUSTRY DEVELOPMENT: INTER-INDUSTRY AND ECONOMETRIC APPROACHES

Master Theses from JBPTITBPP / 2017-09-27 14:55:59
Oleh : FADHILA ACHMADI ROSYID (NIM : 221 04 016); Pembimbing :Dr.-Ing. Ir. Aryo Prawoto Wibowo, M.Eng, S2 - Mining Engineering
Dibuat : 2010, dengan 8 file

Keyword : Batubara, Inter-industri, ekonometrika

Batubara merupakan salah satu kekayaan alam yang tak terbarukan bagi bangsa Indonesia. Peran batubara sangat vital bagi bangsa Indonesia, karena kegunaannya sebagai sumber energi dan komoditas ekspor yang dapat mendatangkan pemasukan bagi negara. Sifat tak terbarukan pada batubara menjadi suatu masalah, karena apabila sudah termanfaatkan maka akan habis. Sementara itu, kebutuhan batubara di dalam maupun luar negeri akan terus meningkat. Kebijakan Energi Nasional yang akan menggantikan peran minyak bumi dengan batubara sebagai sumber energi akan meningkatkan kebutuhan batubara dalam negeri. Di lain sisi, harga yang menarik di pasar internasional menjadikan perusahaan tambang tertarik untuk mendapatkan untung sebesar-besarnya dengan


meningkatkan kapasitas produksi dan ekspor. Berkaitan dengan hal tersebut perlu dilakukan optimasi dalam produksi batubara nasional untuk mendukung pemanfaatan dalam negeri yang berdasarkan prinsip konservasi. Sehingga batubara yang dimanfaatkan dapat mendatangkan keuntungan yang sebesarbesarnya dalam waktu yang selama mungkin. Berdasarkan penelitian, sektor pertambangan batubara belum memberikan hasil yang optimal. Indikator-indikator yang menunjukkan ketidak-optimalan tersebut :

• Keterkaitan sektor pertambangan batubara ke hulu sebesar 0,745 dan sementara keterkaitan ke hilir 0,768. Angka keterkaitan yang kurang dari 1 menunjukkan bahwa sektor pertambangan batubara belum bisa ikut mengembangkan sektorsektor yang lain dalam perekonomian.

• Pemanfaatan batubara sebagai salah satu sumber energi untuk faktor produksi belum menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang optimal. Indikatornya adalah intensitas energi Indonesia masih berada jauh di atas negara-negara maju di Asia Pasifik. Pada tahun 2004, intensitas energi di Indonesia adalah sebesar 0,60 sementara intensitas energi rata-rata negara maju di Asia Pasifik yang sebesar 0,25.


Karena itu, maka perlu dilakukan optimalisasi produksi batubara. Optimalisasi dilakukan dengan instrumen pertumbuhan ekonomi yang akan membuat intensitas energi Indonesia konvergen dengan intensitas energi rata-rata negara maju di Asia Pasifik.


Peramalan menunjukkan bahwa pertumbuhan GDP perkapita yang akan menjadikan


intensitas energi Indonesia konvergen terhadap intensitas energi negara-negara maju di Asia Pasifik adalah sebesar 6,5% per tahun dengan konvergensi dicapai pada tahun 2030. Dengan pertumbuhan GDP perkapita sebesar 6,5% per tahun, diperlukan produksi batubara


sebesar 346 juta ton pada tahun 2020. Sementara itu jika produksi batubara dibiarkan untuk mengikuti mekanisme pasar saat ini, maka produksi tahun 2020 adalah sebesar 456 juta ton.


Untuk mengantisipasi hal-hal tersebut diperlukan kebijakan pemerintah berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya batubara nasional, antara lain :

• Insentif bagi perusahaan yang tidak menaikkan target produksi batubaranya.

• Mengembangkan sektor-sektor yang mempunyai efek pengganda yang besar dan keterkaitan yang cukup erat dengan sektor pertambangan batubara.

• Mengutamakan kebutuhan batubara untuk pemanfaatan dalam negeri (domestic market obligation).

• Mengembangkan eksplorasi untuk menambah jumlah cadangan batubara tertambang.

• Kebijakan pemanfaatan batubara kualitas rendah.

Deskripsi Alternatif :

Coal is one of the nonrenewable resources in Indonesia. It has important role for Indonesia. Due to its usage, as a source of energy and export commodity that produces income for Indonesia. Its nonrenewable characteristic raises a problem. After all resources are used, it will be exhausted. Meanwhile from the demand point of view, both domestic and international coal demand will keep on increasing. At one side, National Energy Policy is stipulated to replace oil with coal as an energy source that will definitely increase domestic coal demand. At the other side, high rate of international coal price will attract coal mining company to get winfall revenue by increasing the production capacity and exports. Based on the above explanation, it is required to optimize the national coal production based on conservation principles, so that coal can be used as an energy source for long term utilization. From the research that has been carried out, optimum result of coal mining production has not been achieved yet. It is shown from various indicators, such as:

• Backward linkage for coal mining sector is 0,745. Meanwhile, forward linkage for coal mining sector is 0,768. It face linkage indices are less than 1, it is


indicated that the coal mining sector can not be a part to develop other sectors in the Indonesian economy.

• Based on energy intensity, it is shown that coal as one of the energy source can not optimize the economic growth. The energy intensity of Indonesia is 0,60 or


less than 1,00 whereas the average energy intensity of the developed countries is 0,25.


It is assumed that optimization in coal production is necessarily required. It can be carried out using economic growth instrumentation which is possible to converging Indonesian energy intensity to be at least the same as average Asia Pacific developed countries energy intensity of around 0,25.


The result of forecasting shows that the possible percapita GDP growth to accomplish Indonesia energy intensity to be converge with the average Asia Pacific energy intensity is of 6.5% per year. By doing so, the convergence will be achieved in 2030. In order to reach


6.5% percapita GDP growth rate, the required coal production in 2020 is of about 346 million tonnes. However, if the coal production follows the current market mechanism, coal production in 2020 will be of about 456 million tonne. Anticipating the above conditions, several government policies needed in term of national coal resource management among others, are:

• To promote incentives to be given to the mining company that is able to increase coal production target.

• To develop sectors having close linkage with coal mining production.

• To encourage for domestic coal utilization (domestic market obligation).

• To develop some more exploration in order to increase coal reserves.

• To develop policy for greater and deeper of low rank coal utilization.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiS
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id