Path: Top > S2-Theses > Architecture-SAPPK > 2010

STUDI TATA RUANG PADA PERUMAHAN KOLONIAL DI SAGAN YOGYAKARTA

Master Theses from JBPTITBPP / 2017-09-27 15:24:11
Oleh : DIMAS WIHARDYANTO (NIM : 25208016); Pembimbing :Dr. Eng. Bambang Setia Budi, ST, MT; Ir. Eko Purwono, MS.Arch.S, S2 - Architecture
Dibuat : 2010, dengan 8 file

Keyword : Sagan, perumahan kolonial, tata ruang

Sagan merupakan perumahan kolonial yang didirikan paling akhir di Yogyakarta pada sekitar tahun 1930-an. Perumahan ini didirikan di sebelah Utara pemukiman kolonial Kotabaru sebagai kawasan rumah tinggal amtenaar (pegawai pemerintahan) Belanda yang bekerja di kantor gubernur (residen wooningen). Sagan memiliki nilai historis yang tinggi bagi Bangsa Indonesia karena pada masa Republik Indonesia Serikat perumahan ini menjadi kawasan rumah dinas menteri dan pejabat tinggi negara. Sayangnya kini rumah-rumah tinggal kolonial di perumahan kolonial Sagan telah banyak mengalami perubahan, bahkan beberapa diantaranya mulai digantikan oleh bangunan baru. Tujuan sekaligus batasan dari penelitian ini adalah mengkaji tata ruang sebagai bagian dari keseluruhan aspek arsitektur yang ada pada perumahan kolonial di Sagan. Pembatasan tersebut didasari pada pemikiran bahwa tata ruang merupakan gagasan desain yang paling utama karena ruang merupakan bagian bangunan yang didesain paling awal. Dengan begitu maka penelitian ini diharapkan dapat mendukung pelestarian bangunan rumah tinggal kolonial di Kawasan Sagan. Penelitian ini menggunakan pendekatan interpretative historical research dimana peneliti menggunakan interpretasinya untuk merekonstruksi desain awal ruang-ruang pada bangunan rumah tinggal kolonial di Kawasan Sagan serta tata ruangnya. Adapun yang dimaksud dengan ruang pada penelitian ini adalah ruang luar dan dalam bangunan yang dibatasi oleh tembok pembatas lahan, sedangkan analisis dibatasi pada bentuk dan susunan ruang. Dengan begitu maka ruang dalam lingkup yang lebih besar di luar batas lahan bangunan tidak dibahas pada penelitian ini. Sedangkan objek yang digunakan pada penelitian ini adalah rumah-rumah tinggal yang didirikan pada tahun 1930-an, bangunan baru yang didirikan menggantikan bangunan rumah tinggal kolonial yang asli tidak digunakan sebagai objek penelitian karena memiliki bentuk dan susunan ruang yang sama sekali berbeda. Sebelum mengumpulkan data empiris, peneliti mengumpulkan data sejarah perkembangan kawasan pemukiman kolonial di Yogyakarta serta gaya hidup masyarakat kolonial di sekitar tahun 1930-an dari berbagai penelitian dan literatur terkait sebagai landasan pengumpulan dan analisis data. Selanjutnya dengan menggunakan metode survei lapangan peneliti mengumpulkan data empiris bangunan berupa denah, tampak, potongan dan foto-foto bangunan. Setelah data empiris dikumpulkan, peneliti bersama dengan pemilik bangunan merekonstruksi denah awal bangunan melalui metode wawancara. Denah-denah hasil rekonstruksi selanjutnya diperbandingkan sebagai metode menganalisa tata ruang pada bangunan rumah tinggal di perumahan kolonial Sagan. Pada penelitian ini peneliti menemukan bahwa prinsip tata ruang pada bangunan rumah tinggal di perumahan kolonial Sagan tidak berbeda dengan tata ruang bangunan rumah tinggal kolonial pada umumnya. Hal itu terlihat dari pemisahan pemilik dengan pembantu rumah tangga yang diwujudkan dengan pembagian bangunan rumah tinggal menjadi bangunan inti (hoofdgebouw), bangunan servis (bijgebouw) dan selasar yang menghubungkan keduanya, adanya beranda depan, sirkulasi ruang dalam pada bangunan inti yang terletak di tengah, serta terdapat innercourt di belakang bangunan. Selain itu letak, luas, dan lebar lahan merupakan elemen ruang yang paling signifikan untuk membedakan tipe-tipe bangunan rumah tinggal di perumahan kolonial Sagan.

Deskripsi Alternatif :

Sagan was the last colonial housing built in Yogyakarta around 1930s. It was located in the north of Kotabaru’s colonial settlement as a residential area of the Dutch officials or amtenaar who worked in the office for the Dutch governor (residen wooningen). Sagan has high historical values for Indonesia since during the period of The Republic of the United States of Indonesia this region became the home office area for the ministers and senior state officials. Unfortunately, at the present the colonial buildings in Sagan have undergone many changes while some of them have been replaced by new buildings. The objective and the limitation of this research are to study the spatial configuration as part of the whole architectural aspects in the colonial housing in Sagan. The limitation is based on the notion that the spatial configuration is the most essential design idea because space is the earliest part in the building designing. Thus, this study is expected to support the preservation of colonial buildings in Sagan. This study employed the interpretative historical research approach in which the researcher utilized his interpretation to reconstruct the original design of the spaces of the buildings in colonial housing in Sagan as well as its spatial configuration. ‘Space’ in this study means the inside and outside spaces of the building which are constrained by parapet while the analysis limited on shape and arrangement of space. Therefore, ‘space’ in the larger scope beyond the border of building area is not addressed in this study. The new buildings built to replace the original colonial buildings are not used as the object of research since they have completely different shape and arrangement of space. Before collecting the empirical data, the researcher collected data on the history of the development of colonial residential areas in Yogyakarta as well as the lifestyles of colonial societies around 1930s from various researches and related literatures as the basis for data collection and analysis. Furthermore, by using field survey method the researcher collected the empirical data of the building such as layout, view, cuttings and building pictures. Then, the researcher and the building owners reconstructed the initial layout of the building through interview. Subsequently, the results of the reconstruction layout were compared as a method for analyzing the spatial configuration of the buildings in colonial housing in Sagan. In this study, the researcher found that the spatial configuration in the buildings of colonial housing area in Sagan is similar with the spatial configuration of the colonial buildings in general. It is shown from the space separation between the owner and the housemaid which is materialized by the division of the main building (hoofdgebouw) and service building (bijgebouw) with a hallway which connects both of them, the front porch, the circulation of inner space in the main building which is located in the middle, and there is an inner court behind the building. In addition, the location, size and area width are the most significant elements to distinguish the types of colonial buildings in colonial housing area in Sagan.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiS
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Pembimbing :Dr. Eng. Bambang Setia Budi, ST, MT; Ir. Eko Purwono, MS.Arch.S, Editor: PKL-SMK

File PDF...