Print ...

Kontributor...

  • Pembimbing : Dr. Achmad Sjarmidi, Editor: Alice Diniarti

Download...

Path: TopS1-Final ProjectBiology2017

STUDI KONFLIK MANUSIA-ORANGUTAN (PONGO PYGMAEUS WURMBII, TIEDEMANN 1808) DI BENTANG ALAM TANJUNGPURA DAN MAYAK, KABUPATEN KETAPANG, KALIMANTAN BARAT

Conflict Research between Human-Orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii, Tiedemann 1808) in Tanjungpura and Mayak Landscape, Ketapang, West Kalimantan

Undergraduate Theses from JBPTITBPP / 2017-09-14 15:53:21
Oleh : DEBY NOVITARIANI MUSA (NIM : 10613076), School of Life Sciences and Technology
Dibuat : 2017-09-12, dengan 1 file

Keyword : Orangutan, Tanjungpura, Mayak, Konflik, Penanganan

Orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus wurmbii, Tiedemann 1808) termasuk spesies kera besar yang dikategorikan menjadi critically endangered species oleh IUCN pada tahun 2016. Rusaknya habitat orangutan menjadi penyebab utama menurunnya populasi Orangutan. Pada saat ini, orangutan seringkali masuk ke habitat manusia sehingga menimbulkan konflik. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan studi penanganan konflik orangutan-manusia yang lebih baik dengan mengidentifikasi keberadaan orangutan berdasarkan sarang dan individu, menganalisis tingkatan konflik, mengklasifikasi bentuk konflik, dan mengidentifikasi penanganan yang telah dilakukan di bentang alam Tanjungpura dan Mayak, Ketapang, Kalimantan Barat. Pengambilan data lapangan dilakukan dengan metode belt transect perpendicular distance (ppd) dengan total panjang transek 41.8 km dan luas area penelitian sebesar 1.25 km2. Dilakukan wawancara terstruktur dengan kuisioner dan pertanyaan terbuka terhadap penduduk yang terlibat di dalam konflik. Tingkatan konflik ditentukan dengan metode scoring. Selama penelitian hanya dijumpai 2 invidu orangutan dan 53 sarang pada 12 lokasi yang diklasifikasikan menjadi 20 sarang baru; 28 sarang agak lama; 5 sarang lama yang menunjukkan adanya potensi konflik yang nyata. Konflik terjadi diberbagai tipe habitat yaitu perkebunan masyarakat, hutan rawa gambut, dan hutan konservasi dengan tingkatan konflik adalah tinggi (7 lokasi); sedang (4 lokasi); rendah (4 lokasi). Tipe konflik yang ditemukan adalah perusakkan tanaman di kebun (94%) dan persepsi ketakutan (6%) terhadap kehadiran orangutan. Beberapa teknik pencegahan konflik seperti sekat tradisional dan penggunaan repellent dapat dicoba untuk pencegahan konflik jangka pendek, sementara translokasi, penerapan pengelolaan kawasan penyangga, dan perancangan koridor dapat direncanakan untuk tindakan lebih lanjut. Dapat disimpulkan bahwa konflik manusia-orangutan di bentang alam Tanjungpura dan Mayak terjadi pada berbagai tingkatan dan belum menemukan penanganan yang sesuai.

Deskripsi Alternatif :

Bornean orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii, Tiedemann 1808) was one of the great apes species that stated by IUCN to become a critically endangered species in 2016. The major reason of decreasing orangutan population was habitat loss. Nowadays, orangutan often come into residence which could caused conflict. This research have aimed to know a better way to handle the conflict between human and orangutan by identify orangutan existence based on it’s nest and the direct observation of orangutan, to identify the conflict level, classify conflict form, and to identify the prevention that already used in Tanjungpura and Mayak Landscape, Ketapang, West Kalimantan. The data were taken with belt transect perpendicular distance method with total transect 41.8 in kilometers and wide of area provided was 1.25 km2. Then the structured interview with quitionare and opened question were done to the people that experienced conflict with orangutan. The level of conflict was considered by scoring method. There are only two individual of orangutan that has been found and 53 nests of orangutan in 12 area that classified into 20 new nests; 28 middle age nests; and 5 old nests that showed there are potential of conflict in each area. Conflict happened in various habitat, the farm, peat swamp forest, and high conservation value area with high level (7 location); middle level (4 location); and low level (4 location). The types of conflict that happened is crop raiding (94%) and fear perception (6%) towards the orangutan. The prevention using noisy tools was not effective because orangutan still come back into the farm to take the resources that they need. Some prevention techniques such as the use of repellent, making corridor, and buffer zone could be tried in Tanjungpura and Mayak landscape. It was proven that conflict were happened in every level of conflicts. The effective way to prevent and handle conflict between human-orangutan haven’t been found in Tanjungpura and Mayak Landscape, Ketapang, West Kalimantan.

Copyrights : Copyright (c) 2001 by Perpustakaan Digital ITB. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiSchool of Life Sciences and Technology
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id