Path: TopS1-Final ProjectMining Engineering-FTTM2009

ANALISIS PERMODELAN ALIRAN & LAJU KEAUSAN JARINGAN PIPA TAILING DALAM LAUT PT. NEWMONT NUSA TENGGARA JENIS HDPE TERHADAP KEMIRINGAN PIPA DAN UKURAN PARTIKEL MENGGUNAKAN CFD

EFFECT OF PIPELINE DECLINATION AND PARTICLE SIZE IN ANALYSIS OF WEAR RATE & FLOW MODELLING USING CFD FOR OFFSHORE TAILING HDPE TYPE PIPELINE PT. NEWMONT NUSA TENGGARA

Undergraduate Theses from JBPTITBPP / 2017-09-27 10:39:05
Oleh : ARWIN GUNAWAN (NIM : 12105015); Pembimbing : Dr. Akhmad Ardian Korda, ST., MT., S1 - Department of Mining Engineering
Dibuat : 2009, dengan 7 file

Keyword : Jaringan pipa , PT. NNT, High Density Polyethylene (HDPE), 2-D Computational Fluid Dynamics (CFD), pipa bawah laut (offshore), teluk Senunu,

Jaringan pipa telah menjadi faktor yang penting bagi industri pertambangan dan memiliki nilai keekonomisan dalam mentransportasikan hasil pengolahannya. Industri pertambangan tembaga seperti PT. Newmont Nusa Tenggara (PT. NNT), menggunakan jaringan pipa bawah laut (offshore) teluk Senunu untuk membuang hasil slurry tailing ke dalam palung laut. Jaringan pipa offshore ini terletak pada dasar permukaan teluk Senunu dengan kepanjangan total 3,114 km dan jaringan pipa ini mengikuti kemiringan dari kontur teluk Senunu. Prediksi umur pakai dari desain awal jaringan pipa ini adalah 5 tahun dengan laju keausan 2mm/tahun. Pada kenyataannya jaringan pipa mengalami keausan melebihi prediksi dengan laju keausan lebih dari 20 mm/tahun. Penentuan laju keausan perlu dilakukan karena dapat menyebabkan kerugian yang berarti. Keausan merupakan kombinasi dari korosi dan erosi. Karena PT. NNT menggunakan High Density Polyethylene (HDPE) sebagai material pipa, maka pipa tidak terkorosi, sehingga keausan hanya dipengaruhi oleh erosi. Erosi merupakan permasalahan penting yang terjadi pada pipa HDPE dalam jaringan pipa pembuangan slurry tailing.


Analisis dilakukan untuk mengetahui jenis aliran yang terjadi menggunakan bilangan Reynolds. Percobaan ini juga mencari kecepatan kritikal slurry dengan menggunakan persamaan Durand yang berdasarkan d50(ukuran dimana 50% partikel lolos). 2-D Computational Fluid Dynamics (CFD) digunakan untuk memprediksi pola aliran dan laju keausan terhadap pengaruh 8 kemiringan pipa (0,29o; 1,09o; 1,26o; 2o; 2,29o; 4,57o; 5,03o; 14,68o) dan 3 variasi ukuran partikel (28,65μm, 152 μm, 213 μm).


Bilangan Reynolds yang tinggi, yaitu 4.912.603 menunjukkan aliran bersifat turbulen. Kecepatan kritikal slurry yang didapat menunjukkan bahwa kecepatan operasional slurry senilai 6.02m/s lebih tinggi daripada kecepatan kritikal slurry, yaitu 1.07m/s. Hasil permodelan dengan CFD menunjukkan bahwa aliran slurry


memiliki moving bed. Laju keausan akan meningkat seiring dengan meningkatnya kemiringan pipa dan dari hasil permodelan, laju keausan tertinggi bernilai 37,76mm/tahun berada pada Km 3,069 – 3,114 dengan kemiringan 14,68o. Hasil permodelan juga menunjukkan bahwa partikel 213 μm memiliki laju keausan yang


lebih tinggi daripada partikel ukuran 28,65 μm dan 152 μm.

Deskripsi Alternatif :

Pipelines have become an important and cost-effective means of transporting solids over long distances. The copper industries like PT. Newmont Nusa Tenggara (PT.


NNT), has been using slurry offshore pipelines for slurry tailing disposal in Senunu bay. This offshore pipeline located beneath Senunu bay with 3.114 km in length and the pipeline declines coherent with the contour of Senunu bay. The typical service life


for this pipeline is 5 years with 2mm/year wear rate. Unfortunately this pipeline eroded more than expected with wear rate more than 20mm/year. Determination of


wear rate for pipeline could have a high economic impact on this pipeline project. Wear is a combination of chemical corrosion and erosion. Since PT.NNT uses High


Density Polyethylene (HDPE) for offshore pipeline, this material will not corroded, so the wear of the pipeline only be affected by erosion. A significant erosion problem is found to occur on HDPE pipes in tailing pipeline system.


Analysis had been conducted to determine behaviour slurry flow with Reynolds number and critical slurry velocity or minimum speed to start the flow with Durand


equation based on d50 (sieve passage diameter for 50% of the particles). A 2-D Computational Fluid Dynamics (CFD) model is developed to predict the flow and wear rate by the affect of pipeline declination (0.29o; 1.09o; 1.26o; 2o; 2.29o; 4.57o; 5.03o; 14.68o) and particle size of slurry (28.65μm, 152 μm, 213 μm).


The slurry flows with turbulence that is determined by the Reynolds number that valued 4,912,603. Critical slurry velocity that has been calculated showed that the


operational slurry velocity that valued 6.02m/s is higher than critical slurry which valued 1.07m/s. In modelling with CFD, showed that wear rate increases when


declination increases and the highest declination (14.681o) at the end of pipeline, wear rate is in the highest that valued 37.76 mm/year. CFD also showed that 213 μm particles size, wear rate is higher than wear rate of 152 μm and 213 μm particles size.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiS
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Pembimbing : Dr. Akhmad Ardian Korda, ST., MT., Editor: Alice Diniarti

Download...