Path: TopS2-ThesesUrban and Regional Planning-SAPPK2000

Mobilitas penduduk desa-kota dan dampaknya terhadap daerah asal: studi kasus di tiga desa di kecamatan Cimalaka Kabupaten Sumedang.

Master Theses from JBPTITBPP / 2017-10-09 10:25:27
Oleh : Tony Irawan
Dibuat : 2000-00-00, dengan 1 file

Keyword : Population mobility; Rural development

Dalam rangka penyususan kebijakan mengenai mobilitas penduduk sebagai penunjang pembangunan (nasional, regional dan pedesaan), pengetahuan tentang pola dan perilaku mobilitas penduduk di berbagai daerah di Indonesia khususnya Propinsi Jawa Barat perlu diketahui, karena gejala sosial ini semakin meningkat di daerah tersebut.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola mobilitas penduduk yang terjadi masyarakat pedesaan menurut daerah tujuan serta sifat mobilitas penduduk, faktor-faktor ayang mempengaruhi penduduk pedesaan untuk melakukan mobilitas, pengaruh mobilitas penduduk terhadap perkembangan daerah asal (pedesaan)serta merumuskan rekomendasi kebijakan pengembangan kawasan pedesaan di tiga desa kasus di Kecamatan Cimalaka Kabupaten Sumedang sebagai daerah asal mover dikaitkan dengan karakteristik mobilitas penduduk yang terjadi.

Lokasi penelitian ditentukan menggunakan metode purposive, yaitu tiga desa kasus (Desa Cipandanwangi, Cisarua dan Kebonkelapa) dikecamatan Cimalaka Kabupaten Sumedang. Pengumpulan data dilakukan melalui survey lapangan, dengan menggunakan kuesioner dan wawancara.

Hasil penelitian menunjukkan pola mobilitas penduduk nion permanen dan di dalam ruang lingkup propinsi, merupakan ciri utama mobilitas penduduk pada masyarakat pedesaan. Proporsi rumah tangga mover dibandingkan rumah tangga petani ketiga desa kasus menunjukkan angka 81,67 % Desa yang paling tinggi, yaitu Desa Kebonkelapa sebesar 87,50 %, kemudian Desa Cisarua sebesar 82,50 % dan Desa Cipandanwangi 75 %.

Tingkat pendapatan petani di sektor pertanian dan luas lahan yang dimiliki berpengaruh nyata terhadap tingkat mobilitas penduduk di dua desa kasus

Yang berarti, semakin rendah tingkat pendapatan petani di sektor pertanian dan semakin tingkat pemilikan lahan pertanian, semakin tinggi tingkat mobilitas penduduk untuk masing-masing desa kasus. Variabel ada /tidaknya teman/saudara di

tempat tujuan dan peluang bekerja di luar sektor pertanian di pedesaan berpengaruh terhadap tingkat mobilitas penduduk untuk masing-masing desa kasus.

Hal ini menunjukkan adanya teman/saudara di tempat tujuan dan peluang bekerja di luar sektor pertanian di pedesaan merupakan variabel-variabel yang ikut menentukan penduduk dalam memutuskan untuk melakukan mobilitas penduduk.

Variabel tingkat pendidikan rumah tangga petani belum tampak pengaruhnya di semua desa kasus.

Dampak mobilitas penduduk terhadap rumah tangga petani dan pembangunan di

Tiga desa kasus sebagai daerah asal pada umumnya positif. Dampak tersebut dapat dilihat dari penggunaan remitan (kiriman barang atau uang) oleh rumah tangga mover di desa, sumbangan pendapatan dari kegiatan mobilitas penduduk terhadap peningkatan pendapatan rumah tangga petani, mempercepat proses penerimaan ide-ide baru dan pembukaan lapangan kerja baru dan pada akhirnya mengakibatkan perubahan sosial ekonomi pada masyarakat pedesaan.

Mobilitas penduduk dari desa ke kota, baik gerak komutasi, sirkulasi, migrasi semi permanen, maupun migrasi permanen, mengandung nilai-nilai tertentu

Yang kiranya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam melaksanakan kebijakan kebijakan pembangunan regional dan pedesaan. Apabila dilihat dari damp ak mobilitas penduduk yang posistif terhadap pedesaan sebagai daerah asal, kebijakan yang diambil adalah membiarkan kegiatan mobilitas penduduk yang terjadi di tiga desa kasus sampai pada skala tertentu. Namun, apabila terjadi keadaan involusi tahap kedua (yang diistilahkan LP3S) khususnya yang terjadi di pedesaan, konsep pengembangan industri pedesaan yang berskala kecil dan menengah, dengan menggunakan bahan baku lokal merupakan kebijakan yang relevan dilakukan dikaitkan dengan karakteristik mobilitas penduduk yang terjadi. Hal tersebut dapat dilakukan dengan asumsi sektor tersebut didukung dengan potensi pertanian lahan kering yang secara kontinyu, aksebilitas transportasi yang relatif baik sehingga mudah ke pasar, alokasi dana dari sumbangan mobilitas penduduk terhadap usaha yang produktif dan yang paling penting adalah dukungan Pemerintah Daerah terhadap kegiatan tersebut baik dari aspek teknologi, permodalan dan pemasarannya. Semakin berkembang faktor industri tersebut, dalam hal ini dapat membuka lapangan kerja baru dengan tingkat upah yang relatif lebih baik dibandingkan sektor pertanian dan secara tidak langsung dimungkinkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

Deskripsi Alternatif :

Dalam rangka penyususan kebijakan mengenai mobilitas penduduk sebagai penunjang pembangunan (nasional, regional dan pedesaan), pengetahuan tentang pola dan perilaku mobilitas penduduk di berbagai daerah di Indonesia khususnya Propinsi Jawa Barat perlu diketahui, karena gejala sosial ini semakin meningkat di daerah tersebut.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola mobilitas penduduk yang terjadi masyarakat pedesaan menurut daerah tujuan serta sifat mobilitas penduduk, faktor-faktor ayang mempengaruhi penduduk pedesaan untuk melakukan mobilitas, pengaruh mobilitas penduduk terhadap perkembangan daerah asal (pedesaan)serta merumuskan rekomendasi kebijakan pengembangan kawasan pedesaan di tiga desa kasus di Kecamatan Cimalaka Kabupaten Sumedang sebagai daerah asal mover dikaitkan dengan karakteristik mobilitas penduduk yang terjadi.

Lokasi penelitian ditentukan menggunakan metode purposive, yaitu tiga desa kasus (Desa Cipandanwangi, Cisarua dan Kebonkelapa) dikecamatan Cimalaka Kabupaten Sumedang. Pengumpulan data dilakukan melalui survey lapangan, dengan menggunakan kuesioner dan wawancara.

Hasil penelitian menunjukkan pola mobilitas penduduk nion permanen dan di dalam ruang lingkup propinsi, merupakan ciri utama mobilitas penduduk pada masyarakat pedesaan. Proporsi rumah tangga mover dibandingkan rumah tangga petani ketiga desa kasus menunjukkan angka 81,67 % Desa yang paling tinggi, yaitu Desa Kebonkelapa sebesar 87,50 %, kemudian Desa Cisarua sebesar 82,50 % dan Desa Cipandanwangi 75 %.

Tingkat pendapatan petani di sektor pertanian dan luas lahan yang dimiliki berpengaruh nyata terhadap tingkat mobilitas penduduk di dua desa kasus

Yang berarti, semakin rendah tingkat pendapatan petani di sektor pertanian dan semakin tingkat pemilikan lahan pertanian, semakin tinggi tingkat mobilitas penduduk untuk masing-masing desa kasus. Variabel ada /tidaknya teman/saudara di

tempat tujuan dan peluang bekerja di luar sektor pertanian di pedesaan berpengaruh terhadap tingkat mobilitas penduduk untuk masing-masing desa kasus.

Hal ini menunjukkan adanya teman/saudara di tempat tujuan dan peluang bekerja di luar sektor pertanian di pedesaan merupakan variabel-variabel yang ikut menentukan penduduk dalam memutuskan untuk melakukan mobilitas penduduk.

Variabel tingkat pendidikan rumah tangga petani belum tampak pengaruhnya di semua desa kasus.

Dampak mobilitas penduduk terhadap rumah tangga petani dan pembangunan di

Tiga desa kasus sebagai daerah asal pada umumnya positif. Dampak tersebut dapat dilihat dari penggunaan remitan (kiriman barang atau uang) oleh rumah tangga mover di desa, sumbangan pendapatan dari kegiatan mobilitas penduduk terhadap peningkatan pendapatan rumah tangga petani, mempercepat proses penerimaan ide-ide baru dan pembukaan lapangan kerja baru dan pada akhirnya mengakibatkan perubahan sosial ekonomi pada masyarakat pedesaan.

Mobilitas penduduk dari desa ke kota, baik gerak komutasi, sirkulasi, migrasi semi permanen, maupun migrasi permanen, mengandung nilai-nilai tertentu

Yang kiranya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam melaksanakan kebijakan kebijakan pembangunan regional dan pedesaan. Apabila dilihat dari damp ak mobilitas penduduk yang posistif terhadap pedesaan sebagai daerah asal, kebijakan yang diambil adalah membiarkan kegiatan mobilitas penduduk yang terjadi di tiga desa kasus sampai pada skala tertentu. Namun, apabila terjadi keadaan involusi tahap kedua (yang diistilahkan LP3S) khususnya yang terjadi di pedesaan, konsep pengembangan industri pedesaan yang berskala kecil dan menengah, dengan menggunakan bahan baku lokal merupakan kebijakan yang relevan dilakukan dikaitkan dengan karakteristik mobilitas penduduk yang terjadi. Hal tersebut dapat dilakukan dengan asumsi sektor tersebut didukung dengan potensi pertanian lahan kering yang secara kontinyu, aksebilitas transportasi yang relatif baik sehingga mudah ke pasar, alokasi dana dari sumbangan mobilitas penduduk terhadap usaha yang produktif dan yang paling penting adalah dukungan Pemerintah Daerah terhadap kegiatan tersebut baik dari aspek teknologi, permodalan dan pemasarannya. Semakin berkembang faktor industri tersebut, dalam hal ini dapat membuka lapangan kerja baru dengan tingkat upah yang relatif lebih baik dibandingkan sektor pertanian dan secara tidak langsung dimungkinkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
Organisasi
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Ir. Heru Purboyo Hidayat Putro, DEA. Ph.D
    , Editor:

File PDF...