Path: Top S2-Theses Instrumentation and Control 1999

ANALISIS ABILITY TO PAY DAN WILLINGNESS TO PAY TARIF ANGKUTAN KOTA
(STUDI KASUS : KOTAMADYA MEDAN)

Master Theses from JBPTITBPP / 2007-03-14 16:02:15
Oleh : Hotmaida Dina Uli. B.
Dibuat : 1999-02-00, dengan 1 file

Keyword : consumer characteristic; user perception (WTP); consider reasonable or ideal (ATP).

Untuk menentukan tarif angkutan kota, Pemerintah Daerah sebagai Regulator harus mempertimbangkan dua kepentingan yang berbeda yaitu kepentingan pengelola (operator) dan penguna (user). Bila ditinjau dari kepentingan pengelola yang menginginkan tarif yang dapat memberikan laba yang besar, sedang dari sudut kepentingan pengguna sesuai dengan sifat konsumen yang menginginkan tarif yang serendah rendahnya.
Dua faktor yang mempengarulu besarnya tarif yaitu biaya operasi kendaraan dan daya beli masyarakat pengguna. Dalam studi ini pembahasan terhadap biaya operasi kendaraan tidak dilakukan, tetapi pembahasan difokuskan pada daya beli dan pengeluaran nil pengguna. Untuk mengetahui daya beli masyarakat tersebut ada dua pendekatan yang digunakan yaitu kemampuan berdasarkan persepsi pengguna (Willingness To Pay) dan kemarnpuan berdasarkan alokasi budget untuk transport dari total budget yang dianggap layak atau ideal (Ability to pay).
Dari hasil pengolahan data survey, dimana responden dibedakan berdasarkan jenis pekerjaan diperoleh bahwa WTF per satuan kilometer pengguna yang paling dominan adalah pada interval 50.01 - 100 rupiah, berdasarkan. ATP dengan alokasi budget 5% untuk transport pada interval 0-50 rupiah, ATP 20% interval 50.01-100 rupiah, dan berdasarkan pengeluaran riil responden sebagai Profesional prosentase terbesarnya adalah 100.01-150 rupiah dan responden lain pada interval 50.01-100 rupiah. Berdasarkan ATP umum dengan alokasi budget 5% dan 20% menunjukkan bahwa tarif yang berlaku saat ini tidal seluruhnya pengguna mempunyai kemampuan membayar tarif tersebut.
Dengan besar tarif yang berlaku saat yaitu 50 rupiah per kilometernya terdapat lebih dari 70% pengguna mempunyai WTP yang lebih besar dari tarif tersebut, 2.82%-12.39% berdasarkan ATP5%, 68.10%-76.80% berdasarkan ATP 20% dan Iebih dari 80 % berdasarkan pengeluaran riil. Beberapa hal yang menyebabkan hasil ini yaitu : sistem pentarifan yang diberlakukan saat ini yakni fix tarif untuk jarak tempuh maksimum 10 kilometer sebesar 500 rupiah dianggap terlalu besar sedangkan lebih dari 70% pengguna mempunyai panjang perjalanan kurang dari 10 kilometer.
Untuk menghindari atau mengurangi kerugian bagi pengguna maka sistem tarif dan jarak tahapan yang ditetapkan pada tarif yang berlaku saat ini dapat ditinjau kembali.

Deskripsi Alternatif :

Untuk menentukan tarif angkutan kota, Pemerintah Daerah sebagai Regulator harus mempertimbangkan dua kepentingan yang berbeda yaitu kepentingan pengelola (operator) dan penguna (user). Bila ditinjau dari kepentingan pengelola yang menginginkan tarif yang dapat memberikan laba yang besar, sedang dari sudut kepentingan pengguna sesuai dengan sifat konsumen yang menginginkan tarif yang serendah rendahnya.
Dua faktor yang mempengarulu besarnya tarif yaitu biaya operasi kendaraan dan daya beli masyarakat pengguna. Dalam studi ini pembahasan terhadap biaya operasi kendaraan tidak dilakukan, tetapi pembahasan difokuskan pada daya beli dan pengeluaran nil pengguna. Untuk mengetahui daya beli masyarakat tersebut ada dua pendekatan yang digunakan yaitu kemampuan berdasarkan persepsi pengguna (Willingness To Pay) dan kemarnpuan berdasarkan alokasi budget untuk transport dari total budget yang dianggap layak atau ideal (Ability to pay).
Dari hasil pengolahan data survey, dimana responden dibedakan berdasarkan jenis pekerjaan diperoleh bahwa WTF per satuan kilometer pengguna yang paling dominan adalah pada interval 50.01 - 100 rupiah, berdasarkan. ATP dengan alokasi budget 5% untuk transport pada interval 0-50 rupiah, ATP 20% interval 50.01-100 rupiah, dan berdasarkan pengeluaran riil responden sebagai Profesional prosentase terbesarnya adalah 100.01-150 rupiah dan responden lain pada interval 50.01-100 rupiah. Berdasarkan ATP umum dengan alokasi budget 5% dan 20% menunjukkan bahwa tarif yang berlaku saat ini tidal seluruhnya pengguna mempunyai kemampuan membayar tarif tersebut.
Dengan besar tarif yang berlaku saat yaitu 50 rupiah per kilometernya terdapat lebih dari 70% pengguna mempunyai WTP yang lebih besar dari tarif tersebut, 2.82%-12.39% berdasarkan ATP5%, 68.10%-76.80% berdasarkan ATP 20% dan Iebih dari 80 % berdasarkan pengeluaran riil. Beberapa hal yang menyebabkan hasil ini yaitu : sistem pentarifan yang diberlakukan saat ini yakni fix tarif untuk jarak tempuh maksimum 10 kilometer sebesar 500 rupiah dianggap terlalu besar sedangkan lebih dari 70% pengguna mempunyai panjang perjalanan kurang dari 10 kilometer.
Untuk menghindari atau mengurangi kerugian bagi pengguna maka sistem tarif dan jarak tahapan yang ditetapkan pada tarif yang berlaku saat ini dapat ditinjau kembali.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
Organisasi
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • DR.IR.IDWAN SANTOSO,MSc; DR.IR.OFYAR Z.TAMIN, MSc

    , Editor:

Download...