Path: Top Member ena@lib.itb.ac.id Distance_Learning Religion Salman_Mosque Ramadhan 1418_H

USAHA MEWUJUDKAN NILAI-NILAI ISLAM DALAM KEHIDUPAN POLITIK DI TANAH AIR

Islamic Ethic in Indonesian Politic

Distance Learning from JBPTITBPP / 2000-09-27 ::00
Oleh : Yusril Ihza Mahendra, Dr.
Dibuat : 1997-01-24, dengan 3 file

Keyword : Ceramah Taraweh di Masjid Salman ITB.
Sumber pengambilan dokumen : Taraweh Speech.

Islam sebagai agama di satu sisi dengan politik dan negara di sisi yang lain keduanya tidak dapat dipisahkan. Secara etimologis Islam tidak bisa lepas dari politik. Madinah pada waktu sebelumnya bernama Yatsrib, Setelah Nabi Muhammad SAW hijrah berganti menjadi madinah yang berasal dari kata dien yang menurut bahasa Arab klasik berarti ajaran, bersifat transenden dan berasal dari Tuhan, dari dien tercipta Masyarakat, dalam masyarakat terdapat norma-norma yang perlu ditegakkan, untuk itu diperlukan kekuasaan, kekusasaan itu adalah budun, madain yang juga berasal dari dien kemudian terciptalah kota tertib(Madinah), dan akhirnya terbentuk peradaban (Tammaddun). Dari konsep ini yaitu konsep etimologis sulit melepaskan Islam dari sisi politik.
Dalam Islam terdapat ajaran-ajaran yang bersifat ubudiyah , dalam hal ini orang bebas melaksanakannya secara bebas tanpa campur tangan orang lain. Tetapi di sisi lain ada aspek tertentu yang memerlukan campur tangan kekuasaan, Agama mengandung syariah dan unsur-unsur hukum yang perlu ditegakkan, kita perlu menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dalam hal ini tentu memerlukan kekuasaan untuk menegakkannya.
Ajaran Al Qur’an dan sunah nabi tentang etika, moralitas, ibadah, iman, dan hal lain yang sejenis diatur secara mendetail. Sedangkan yang berisi tentang persoalan kemasyarakatan tidak detail hanya bersifat prinsip-prinsip umum yang dapat ditransformasikan sesuai dalam jamannya. Secara empiris ini dapat dihubungkan dengan begitu banyaknya kaum muslim yang berbeda baik dari segi bahasa, kultural, etnik, dsb. Sehingga tidak mungkin dalam dunia ini diciptakan hanya satu pemerintahan yang dipimpin khalifah .Dinyatakan Oleh Allah Ta’Alla dalam Quranul Karim : Sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari. Seorang Laki-laki dan Seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa, perbedaan bahasa & warna kulit dari kalian adalah salah satu kebesaran tanda-tanda Allah , Ini membuktikan bahwa Ragam bangsa Islam sangat majemuk yang dipengaruhi kultur, etnik, budaya, dan hal lain yang dominan.
Kebutuhan tiap masyarakat dalam kultur yang berbeda, untuk membina negara adalah berbeda, bangsa Indonesia dengan bangsa Malaysia memiliki kebutuhan yang berbeda, apalagi dengan orang-orang di Timur Tengah yang memang memiliki kultur dan sejarah yang berbeda.
Islam di Indonesia sudah berabad-abad lamanya, dan mengalami transformasi sesuai dengan jamannya. Pada waktu jaman kolonialis Belanda, Islam mengalami tranformasi menjadi ideologi perjuangan. Bangsa Indonesia jauh lebih memperbarui suasana politik dan intelektual dari bangsa di Timur tengah, Raja Ali Haji bin Ali Ahmad pujangga dari Riau pada tahun 1852 menulis 6 buku tentang politik dan dibaca dimana-mana, jadi kita perlu melakukan studi di Asia Tenggara, Indonesia lebih tahu politik kita lihat bahwa Serikat Islam sudah berdiri pada tahun 1905 sedang pergerakan seperti Ikhwan Al Muslimin di Mesir baru berdiri pada 1924 dan tidak pernah memerintah, tidak demikian dengan partai Islam di Indonesia seperti Masyumi.
Umat Islam Indonesia memiliki tradisi sejarah politik yang agung dan mempunyai pengalaman politik yang luas dan pernah memerintah, jadi mari kita gali tradisi kita tetapi mahasiswa Indonesia tidak membaca buku Islam dan Sosialisme HOS Cokroaminoto, Islam Sebagai Ideologi Muhammad Natsir ,Haji Zainal Abidin Ahmad tentang Membentuk Islam di Indonesia. Tetapi membaca buku yang berbeda dengan lingkungan Indonesia. Islam memberikan nilai-nilai terutama di bidang etik yang dapat ditransformasikan ke dalam struktur sebuah negara , dan tidak perlu negara tersebut disebut negara Islam, yang terpenting adalah substansi.
Di Negara kita banyak soal politik telah terselesaikan, tuntutan pejuang terdahulu maksimal Islam sebagai the state filosofis, jikalau tidak tidak apa-apa karena sesungguhnya UUD 45 Indonesia telah memenuhi tuntutan normatif Islam sebagai sebuah negara. Kekuatan Islam tidak dapat diukur dari banyaknya partai-partai Islam
Pemerintah Orba telah memberikan kesempatan pendidikan, sehingga terjadi mobilitas vertikal munculah cendikiawan-cendikiawan aktivis Islam. Merupakan sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya, sehingga cendikiawan, birokrat, militer dipenuhi generasi Islam, ini merupakan pergeseran politik anti Islam berubah menjadi politik bersahabat.
Hal terpenting yang harus dipikirkan generas muda Islam sekarang selain intelektualisme, spiritualitas keagamaan, juga penting adalah kita membangun etika bangsa yang diwarnai nilai-nilai Islam . Dalam Qur’an dinyatakan Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan manusia , menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman Kepada Allah. ( 3 :110)
Sering orang mengatakan di luar negeri bangsa Indonesia adalah bangsa yang lemah terutama dalam bidang etika, mudah kolusi dan korupsi dimana kecenderungan dimulai dari sekolah dasar hingga mahasiswa. Etik kita lemah sebagai umat Islam kita malu karena sebagian besar bangsa ini adalah umat Islam, bukankan Rasulullah SAW diutus ke dunia ini untuk menyempurnakan etika. Kita diajarkan ibadah, sholat, puasa, tadarus Qur’an untuk membangun kesadaran etik mempertajam hari nurani.
Dalam kenyataannya pengetahuan sesorang tidak sebanding dengan ketaatan dan kepatuhan karena itu yang diperlukan adalah kesadaran etik yang bisa tumbuh dengan kepekaan hati nurani yang tinggi, dan kepekaan yang tinggi diperoleh apabila sesorang mendekat kepada Tuhannya. Apabila orang kristen mengatakan agama mereka adalah agama cinta kasih , maka pantaslah kalau agama kita adalah agama hati nurani. Apa yang diperintahkan dan dilarang Allah adalah sejalan dengan hati nurani kita.
Seorang filosof Pakistan Muhammad Iqbal Mengatakan : Ketaatan manusia kepada Tuhan pada akhirnya berarti juga ketaatan manusia kepada kesadaran hati nuraninya.
Puasa mendidik kita , kita Iman kepada Allah yang Maha Melihat dan Maha Mendengar, Allah tidak dapat kita dustai, demikian juga dengan hati nurani kita. Yang kurang pada masyarakat kota besar ini adalah kurangnya kepekaan hari nurani, Al Qur’an mengingatkan Barangsiapa yang mengingat Allah hatinya akan menjadi tenteram, dan jangan sekali-kali kalian melupakan Allah, karena jika itu kalian lakukan akan tercipta suatu keadaan jika itu kalian lakukan akan tercipta suatu keadaan dimana kalian lupa pada diri kalian sendiri, agama mempunyai basis filosofi dan psikologis yang sangat kuat yang dapat dibuktikan secara empiris.
Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus tetapi merupakan pencerahan spiritual dan intelektual, proses mengembalikan dan mendidik kepada kita kembali kepada hari nurani, hidup berdasarkan hati nurani masing-masing pada Idul Fitri, Dalam surat Ruum dinyatakan maka hadapkanlah wajahmu kepada agama Allah yang lurus, agama yang ajarannya sejalan dengan hati nurani manusia, inilah agama yang benar tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya Sumbangan terbesar dari Islam dalam pembangunan politik di Indonesia adalah di bidang etika,dan konsepsi dasar di bidang politik ( keadilan, demokrasi, dan prinsip-prinsip hak-hak asasi manusia).


Deskripsi Alternatif :

N/A

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
Organisasi
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Narator by Aldi Anwar; digitized by Indro (indro@tpb.itb.ac.id, Editor:

Download...